Masyarakat saat mengambil gambar latar belakang pohon tabebuya jalan Ksatrian Arhanud, Desa Pendem Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Masyarakat saat mengambil gambar latar belakang pohon tabebuya jalan Ksatrian Arhanud, Desa Pendem Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jika Jepang punya pohon sakura, di Kota Batu tepatnya di jalan Ksatrian Arhanud, Desa Pendem Kecamatan Junrejo punya pohon tabebuta yang tak kalah indahnya.

Tak pelak pemandangan ini menjadi primadona bagi masyatakat sekitar dan wisatawan. Bagaiamana tidak saat memasuki area tersebut akan disuguhi di sepanjang kanan kiri jalan berjejer pohon tabebuya berwarna kuning sedang bermekaran. Pohon-pohon itu sedang dipenuhi bunga tabebuya yang sedang bermekaran.

Bunga-bunga dan daun tabebuya itu tampak berguguran layaknya bunga sakura. Banyak orang menyebutnya sebagai tanaman Sakura, karena bila berbunga bentuknya mirip seperti bunga sakura.

Saat bunganya bermekaran daunnya terlihat sangat jarang. Bahkan bisa terlihat hampir di seluruh bagian pucuknya ditumbuhi bunga berwarna kuning cerah.

Untuk bunga tabebuya yang kuning terompet memiliki panjang 3 –11 cm, berbentuk terompet dan bergerombol. Tabebuya pada musim berbunganya mampu menghasilkan bunga yang sangat banyak dan tidak putus sejak musim panas hingga menjelang musim hujan. 

Momen yang jarang terjadi ini pun menjadi daya tarik masyarakat yang melintasi jalan tersebut dan mengabadikannya untuk berswafoto. Sayangnya, mereka yang ingin mendapatkan foto yang bagus harus mengambil posisi di tengah jalan.

Sehingga saat berada di tengah jalan, cukup membahayakan. Sebab jalan tersebut cukup ramai dilalui oleh kendaraan.

Seperti halnya Putri Indah, warga Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo mengatakan setiap musim kemarau pohon tabebuya bermekaran dengan indah sehingga sangat disayangkan jika tidak berswafoto mengabadikan momen tersebut.

“Sangat bagus sekali pemandangan seperti ini. Kalau menurut saya bisa jadi destinasi wisata juga. Pasti wisatawan iuga tertarik dengan keindahan yang alami seperti ini,” ujar Putri.

Meskipun saat mengambil gambar cukup membahayakan, rupanya itu tidak mengurungkan niatnya tetap mengambil gambar. Ia pun rela harus menyeberang.

“Meskipun harus menunggu yang lama untuk dapat foto yang bagus, gak masalah. Jadi setiap di tengah jalan, ada kendaraan harus nyebrang, dan sebaliknya kalau sepi,” imbuhnya.

Menurutnya pemandangan ini sudah menjadi destinasi di Desa Pendem setiap tahunnya menyaksikan pohon tabebuya di sepanjang jalan.

Sebab meskipun di beberapa titik lain banyak pohon tabebuya bermekaran tentu tidak sebanyak di tempat tersebut.

“Dan memang banyak yang di tempat lain, tapi menurut saya enggak sebanyak di sini. Kalau di tempat lain mungkin hanya beberapa saja,” tutup perempuan 18 tahun ini.