Tangkapan layar @Sahal_AS terkait debunk Frizt Haryadi atas kerusuhan Papua. (@Sahal_AS)
Tangkapan layar @Sahal_AS terkait debunk Frizt Haryadi atas kerusuhan Papua. (@Sahal_AS)

MALANGTIMES - Belum reda persoalan penangkapan jurnalis sekaligus pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono (DDL), oleh kepolisian, yang ramai diperbincangkan masyarakat, kini dunia maya disodorkan kembali versi lain terjadinya kerusuhan di Jayapura, Papua, dari Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Papua Frizt Haryadi.

Versi Frizt merupakan kebalikan dari apa yang dicuitkan oleh DDL di media sosial.  Frizt menerangkan kondisi peristiwa tersebut dengan judul "Debunk Twit Hoax Aktivis DDL tentang Jayapura dan Wamena" di laman Facebook-nya, Fritz Haryadi, Sabtu (28/09/2019) sore kemarin.

Postingan Fritz pun ramai dan menyebar ke medsos lainnya, seperti Twitter. Ada 4 lembar postingan Fritz yang juga disebarkan oleh Akhmad Sahal, aktivis dan pengurus cabang istimewa (PCI) NU Amerika.

"Informasi ttg situasi Wamena dan Papua dari Pak Fritz Haryadi, guru NU di Papua. Mari kita sebarkan utk melawan hoax yg justru memperkeruh suasana," cuit @sahaL_AS, Minggu (29/09/2019), sambil menyertakan tangkapan layar tulisan Fritz terkait peristiwa yang membuat DDL ditangkap dan dijadikan tersangka ujaran kebencian oleh kepolisian.

MalangTIMES mengutip secara utuh apa yang dituliskan Fritz melalui laman FB, sebagai berikut:
"Debunk Twit Hoax Aktivis DDL tentang Jayapura dan Wamena.
Yang saya debunk adalah twit 23 September dari seorang oknum aktivis tenar di Jakarta yang saya tidak pernah ingat namanya lebih dari sepertiga detik. Karena twit ini ybs ditangkap polisi; sayangnya hanya ditahan setengah hari. Mungkin hendak diangkat jadi Duta Anti Hoax. Twit tersebut bermuatan provokasi dan pembohongan. Berikut saya urai," tulis Fritz yang membagi tulisan di Twitter menjadi dua bagian.

"JAYAPURA (foto 1). Mahasiswa yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas."
Fakta:
1) Mahasiswa eksodus itu bukan cuma buka posko tanpa nama. Jelas ditulis di kain besar yang digantung di pagar kampus Uncen Abepura, "Posko ULMWP". United Liberation Movement for West Papua, bentukan Benny Wenda yang sekarang menikmati suaka politik di London.  Mereka mencanangkan 'Mogok Kuliah' bukan saja untuk mahasiswa Uncen tapi juga "Pelajar dan Mahasiswa se-Papua", "TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi", "SEKALI UNTUK SELAMANYA". Itu saya ketik huruf besar bukan karena saya baper; memang begitu font style di selebaran yang beredar di Jayapura sejak H-1. Ini terlihat sekali terjemahan langsung dari "Once and For All". 

2) Aparat bukan "angkut" mereka. Pilihan kata ini menimbulkan konotasi mereka ditangkap. Aparat mengantar pendemo pulang ke asrama-asrama dan kosan di Waena dan Sentani, dengan tumpangan gratis truk tentara. 

3) Setiba di Expo Waena, pendemo minta turun karena mau orasi lagi di situ. Permintaan dituruti. Aparat istirahat di pinggir jalan. Lalu pendemo menyerang aparat. 

4) "Ada yang tewas". Yang tewas itu Praka Zulkifli Al-Karim, dari Yonif 751/Raiders. Almarhum dibacok dan dikeroyok pendemo sampai mati. 

5) Dengan tidak menyebut siapa yang tewas, pembuat twit membuka peluang konotasi bahwa yang tewas itu pendemo. Kalau belum tahu siapa yang tewas, harusnya menahan diri; daripada mengabari setengah-setengah."

Tulisan bagian kedua Fritz, adalah sebagai berikut:
"WAMENA (foto 2). Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak."
Fakta :
1) "Sikap rasis guru" itu hoax. Pada hari H memang belum diketahui hoax atau tidak, tapi dengan mengumumkan informasi setengah matang seperti itu jelas provokasi. Sebab, demonya sendiri justru bertujuan meminta keterangan dari Ibu Guru ybs tentang tuduhan yang beredar; jadi masih belum pasti. Yang terungkap kemudian adalah pada 18 September 2019 oknum Ibu Guru SMA PGRI Wamena mengatakan di dalam kelas "Baca yang keras." Lalu beredar cerita dari mulut ke mulut bahwa Ibu Guru bilang "Kera cepat tulis." Akhirnya memicu demo.

2) "Dihadapi aparat. Kota rusuh." Pilihan diksi ini mengirimkan pesan yang salah. Aparat memang standby di sekitar 200 siswa SMA PGRI Wamena yang berdemo, tapi nyatanya dengan personil terbatas tidak mampu menghentikan kerusuhan. 
Sekarang kita sudah ketahui hasil kerusuhan itu total 33 mayat, kebanyakan dalam kondisi terbakar, 465 ruko, 165 rumah, 224 mobil, 150 motor, kantor DPRD, kantor Bupati, Bappeda, kantor PLN, SMA PGRI, SMA Yapis, STIKIP Yapis dibakar habis, dan 15 bangunan perkantoran lain rusak berat. 5.000 warga terpaksa mengungsi, atau istilah baku aktivis: displaced. Puluhan dokter minta dipulangkan karena trauma akibat Alm. dr. Soeto Marsetyo dibakar hidup-hidup. 
Perusuh melakukan ini semua tanpa halangan berarti. Lalu apanya yang "dihadapi aparat"? Kalau aksi seperti itu tidak dihadapi, apa mau dido'akan saja semoga capek sendiri? 

Di internet sempat berceceran kesaksian dari pihak-pihak yang mengaku sebagai saksi mata, bahwa pendemo rusuh akibat provokasi aparat yang konon berkali-kali melepaskan tembakan ke udara. Tapi inipun tidak bisa dijadikan pembenaran. Anak SMA mengaku emosi karena aparat lepas tembakan ke udara, itu namanya anak kurang ajar.. 

3) "Banyak yang luka tembak". Kalau pembuat twit ini jujur, atau minimal tidak sekedar menjadi penerus gagu dari aliansi produsen hoax di Papua, maka semestinya ia ketik "Banyak warga sipil yang mati dibakar hidup-hidup oleh perusuh." Kami juga banyak saksi mata dari jaringan NU di lokasi kejadian, tapi pada hari H kami menahan diri. Menunggu informasi yang utuh dan bebas dari provokasi. 200 Anak SMA membakar habis 735 bangunan dalam tempo kurang dari 10 jam? Itu anak minum jamu apa? Jelas ada keterlibatan pihak lain. Dengan adanya kejadian di Jayapura di hari yang sama, maka layak jika ULMWP dan KNPB disoroti," tulisnya.

Fritz mengakhiri debunknya tersebut seperti ini. "Demikian debunk saya sampaikan, semoga menjadi pengingat bagi aktivis untuk tidak gegabah dalam menyebar informasi yang belum jelas. Tiap huruf kebohongan bisa merenggut nyawa orang tidak bersalah, bahkan nyawa seorang dokter, yang jelas lebih susah dicari gantinya daripada aktivis yang bisa diproduksi massal di sembarang terminal. Kalau memang sengaja provokasi, hendaknya agak lebih pintar sedikit. Sekian dan sama-sama," tutupnya dengan salam dan menuliskan identitas dirinya secara terang. Yaitu "Penulis/debunker adalah Sekretaris Lajnah Ta'lif wan-Nasyr (Lembaga Infokom) NU Papua, dan Ketua PW Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) Papua".