Ketua DPRD Kota Malang sementara I Made Rian DK (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Ketua DPRD Kota Malang sementara I Made Rian DK (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Hilangnya nyawa empat warga Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, akibat mengonsumsi minuman keras (miras) oplosan beberapa hari ini masih menjadi perbincangan. Dari kejadian itu, masih ada delapan warga lainnya yang tengah dirawat di rumah sakit.

Bahkan, peristiwa maut itu juga menjadi sorotan DPRD Kota Malang. Pasalnya, apa yang telah dialami beberapa warga tersebut dianggap sebagai kejadian luar biasa (KLB) yang harus mendapat perhatian semua pihak, termasuk instansi di pemerintahan.

"Bagi kami, ini merupakan kasus luar biasa. Soalnya, dalam satu kawasan, ada 12 korban dan telah menewaskan empat warganya," kata Ketua DPRD Kota Malang sementara I Made Rian DK. 

Ia menambahkan, kejadian tersebut tak hanya menjadi perhatian serius organisasi perangkat daerah (OPD) yang terkait dengan minuman beralkohol. Sebut saja  Dinas Perdagangan (Disdag) dan Satpol PP.

"Kan itu sudah jelas pelanggarannya. Bahkan mereka (korban) ini kabarnya mendapatkan itu (miras oplosan) sangat mudah karena tersedia di rumah-rumah warga. Ini menjadi penting untuk diperhatikan, terlebih untuk mencegah beredarnya miras oplosan tersebut," tandas Made Rian.

Yang menjadi sorotan yakni perihal miras tersebut didapatkan bukan dari toko yang berizin. Kemudian, minuman itu juga tidak memiliki label dan kandungan alkoholnya belum jelas.

Lebih lanjut, pria asal Bali ini mengatakan setidaknya perlu mengadakan sosialisasi terkait bahaya miras oplosan. Apalagi, kasus yang terjadi di Mojolangu disebutnya karena kurangnya pengetahuan masyarakat. 

“Kalau menurut saya, itu ada ketidaktahuan dari masyarakat. Seperti kalau barang A jenis A dicampur dengan jenis B dan dicampur C, akibatnya seperti apa. Sosialisasi seperti itu saya rasa perlu untuk dilakukan melalui posyandu atau ranah masyarakat sendiri seperti karang taruna dan yang lainnya," pungkas dia.