Wali Kota Malang Sutiaji (kanan) saat menyambangi bayi pengidap meningokel (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (kanan) saat menyambangi bayi pengidap meningokel (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Wali Kota Malang Sutiaji sambangi bayi pengidap meningokel, Arsa Adi Pratama. 

Sutiaji mengunjungi langsung kediaman Arsa di Jalan Candi 6 A RT 01 RW 06 Gasek, Karangbesuki Kecamatan Sukun, Selasa (17/9/2019) sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat melihat langsung kondisi bayi 10 bulan itu, Sutiaji tampak berbincang dengan sang ibunda Arsa, Wiwin di ruang tamu. 

Di ruangan yang tak terlalu luas itu, Sutiaji menanyakan kondisi Arsa hingga beberapa langkah yang sudah dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) dalam memberi pendampingan.

"Kami akan bantu semaksimal mungkin bu," kata Sutiaji pada Wiwin.

Sementara itu, saat ditemui wartawan usai berbincang dengan orangtua Arsa, pria berkacamata itu menyampaikan, sakit yang diderita Arsa sudah diketahui sejak bayi 10 bulan itu dilahirkan. 

Laporan dari bidan sudah dimasukkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dan sejak saat itu sudah dilakukan pendampingan.

"Sejak maaih baru lahir kami sudah melakukan pendampingan," katanya pada wartawan.

Namun sampai saat ini menurutnya Arsa belum bisa dioperasi. 

Berdasarkan informasi yang dia dapat, alasan belum dilakukan tindakan operasi pada Arsa dikarenakan usia dan berat badan Arsa belum mencukupi. 

Namun pendaftaran proses operasi menurutnya telah didaftarkan kepada RSSA.

"Katanya usia dan berat badan belum mencukupi. Tapi saya minta Dinkes komunikasi lagi dengan RSSA. Karena kasihan juga anaknya, sering nangis kesakitan saat sakitnya kambuh," terang politisi Demokrat itu.

Dia menjelaskan, biaya operasi Arsa akan ditanggung oleh Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang sudah dimiliki keluarga. 

Dia pun berharap proses penyembuhan Arsa dapat berlangsung cepat dan kondisi bayi 10 bulan tersebut membaik.

Menurutnya, sakit Meningokel yang menyebabkan benjolan pada bagian hidung dan dahi Arsa masih belum diketahui. 

Sehingga, ke depan dia berharap masyarakat utamanya ibu hamil lebih pro aktif memeriksakan kondisi janinnya sejak dalam kandungan. Bahkan sebelum hamil atau dalam tahap perencanaan hamil.

"Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya kurang, ini yang harus ditumbuhkan," jelasnya.

Untuk mencegah kondisi tersebut terulang, menurutnya Pemerintah Kota Malang akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam menjaga kualitas kesehatan masyarakat, utamanya ibu hamil. 

Pendampingan terus dilakukan dengan harapan anak yang dilahirkan sehat dan tak kekurangan apapun.

"Termasuk stunting, itu saya rasa bukan hanya faktor ekonomi. Makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil juga berpengaruh. Semisal terlalu banyak konsumsi makanan instant atau sayuran yang berpestisida. Itu sebabnya PKK Kota Malang juga kerjasama dengan BI untuk membiasakan masyarakat menanam sayuran organik," tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, setiap kelurahan di Kota Malang sudah memiliki kelompok Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Geemas) yang memiliki tugas menyosialisasikan pola hidup sehat. 

Begitu juga dengan beberapa layanan kesehatan yang terus dioptimalkan sejak di lingkungan kelurahan.

"Kita pantau terus kesehatan sang bayi sejak masih dalam kandungan melalui Germas dan tim kesehatan tingkat kelurahan lainnya," pungkasnya.