SW (tengah) wanita yang mengadukan anggota DPRD Kabupaten Malang dengan dugaan kasus penyebaran foto bugil dan perzinaan (Foto : Istimewa)
SW (tengah) wanita yang mengadukan anggota DPRD Kabupaten Malang dengan dugaan kasus penyebaran foto bugil dan perzinaan (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Sosok perempuan berinisial SW belakangan ini memang menjadi tokoh yang paling hangat dijadikan pembahasan oleh publik terutama warga Kabupaten Malang. 

Hal itu menyusul langkah yang dia ambil melalui kuasa hukumnya untuk mengadukan KC (suami sirinya) atas dugaan kasus penyebaran foto bugil dan perzinaan.

Baca Juga : Paket Misterius Dibawa Jihandak, Polisi Belum Ungkap Isi Paket

Bahkan, atas aduan yang dilayangkan wanita asal Kecamatan Bululawang tersebut DPC (Dewan Pimpinan Cabang) PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Kabupaten Malang, membentuk tim investigasi yang diberi nama tim tujuh guna mencari kejelasan kasus yang menyeret salah satu anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kabupaten Malang tersebut.

”Sejauh ini tim tujuh belum ada yang menghubungi kami selaku kuasa hukum mbak SW. Mereka (tim tujuh) hanya menghubungi melalui telepon ke SW untuk bertemu. Namun klien kami tidak berani menemui jika tanpa kuasa hukumnya. Untuk itu kami akan jemput bola, kemungkinan besok (Senin 16/9/2019) siang kami akan menemui Agus Salim selaku ketua tim tujuh,” kata Kuasa hukum SW, Dahri Abd Salam, Minggu (15/9/2019).

Seperti sudah diberitakan, Kamis (12/9/2019) tim tujuh resmi dibentuk usai mendapat persetujuan melalui rapat gabungan bersama dewan Syuro dan Tanfidz DPC PKB Kabupaten Malang. 

Dimana tim yang beranggotakan tujuh orang dan diketuai langsung oleh Agus Salim selaku Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Malang ini. 

Ditugaskan untuk melakukan investigasi dan tabayyun atas dugaan pengaduan kasus penyebaran foto bugil dan perzinahan yang dilakukan oleh KC.

Namun hingga berita ini ditulis, upaya yang dilakukan tim tujuh sepertinya masih terkesan jalan di tempat. 

Selain karena SW tidak berkenan ditemui jika tanpa kuasa hukumnya, KC juga dikabarkan menghilang semenjak berita yang menyeret namanya santer diberitakan media masa.

Hal itu terbukti dari penelusuran MalangTIMES.com saat berkunjung ke rumahnya pada Kamis (12/9/2019) lalu. 

Saat itu rumah politisi yang tinggal di wilayah Kecamatan Turen itu nampak sepi. 

Hanya ada beberapa anaknya yang menyatakan jika kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah.

Bahkan, setelah sempat ditunggu hingga malam hari, salah satu kader partai berlogo sembilan bintang tersebut tak juga pulang ke rumah. 

Ketika dihubungi melalui telepon seluler, KC juga memilih untuk mengabaikannya. 

Baca Juga : Awasi Napi Asimilasi, Polres Malang Bahas Bareng Kejari

Bahkan dari keterangan tetangganya, KC jarang sekali terlihat di rumahnya sejak namanya terseret kasus dugaan penyebaran foto bugil dan perzinahan.

”Kami akan lebih proaktif menindaklanjuti kasus ini, bebrapa kali kami menghubungi Pak KC juga hanya dijanjikan jika akan menemui kami. Namun kenyataannya tidak pernah ditemui,” terang Dahri.

Upaya untuk lebih pro aktif ini, lanjut Dahri, dilakukan guna mencari kejelasan terkait polemik yang dihadapi SW. 

Sebelum nekat mengadukan KC ke Polres Malang dan Kantor DPC PKB Kabupaten Malang, Wanita berparas menawan itu, terlebih dahulu disomasi KC terkait kasus dugaan penipuan dan penggelapan sejumlah uang.

Uang yang ditaksir mencapai Rp 200 juta yang diduga digelapkan oleh SW itu, diakui KC sebagai uang yang dipinjamkan untuk modal usaha pasir yang dilakoni SW. 

Namun secara tegas, istri sirinya tersebut membantah dugaan itu dan berdalih jika sejak resmi menikah secara siri uang ratusan juta itu diberikan KC untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

”Kemarin (Sabtu 14/9/2019) kami datang ke Polres Malang untuk memenuhi panggilan terkait laporan dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan oleh KC. Kami sudah mengklarifikasi permasalahan itu, kini semuanya kami pasrahkan ke pihak kepolisian,” sambung Dahri.

Pihaknya menambahkan, sejak kliennya mengadukan suami sirinya atas dugaan penyebaran foto bugil dan perzinaan, SW mengaku sering mendapatkan teror, terutama mendapat telepon dari nomor asing.

Lantaran sering mendapatkan teror itulah, SW bersama kuasa hukumnya sempat sowan (bersilahturahmi) dengan beberapa tokoh agama yang ada di Malang. 

”Ada sekitar 4 tokoh agama yang kami temui, beliau memberi saran agar kasus ini bisa diselesaikan secara baik-baik. Oleh karena itu, kami akan selalu pro aktif dan akan menyampaikan apa adanya saat dimintai keterangan soal kasus yang kami adukan,” tutup Dahri.