Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

MALANGTIMES - Era industri 4.0 yang dicanangkan pemerintah pusat tampaknya masih cukup sulit diikuti oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang. 

Dari ratusan ribu pelaku yang ada, 90 persen di antaranya masih berada di level mikro. 

Mereka umumnya masih mengandalkan mekanisasi atau industri 1.0 yang pelaksanaannya menggunakan sistem manual. 

Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang mencatat bahwa mulai banyak industri usaha kecil menengah (UKM) yang pemasarannya menggunakan ekonomi digital. 

Tetapi sebagian besar hanya menggunakan jaringan listrik atau industri berbasis 2.0 maupun 3.0 yang baru menggunakan komputer. 

Kepala Dinkop dan UKM Kota Malang Tri Widyani Pangestuti mengungkapkan bahwa di era UKM ini, perkembangannya di Kota Malang cukup luar biasa. 

"Sejak 2015 hingga saat ini, pertumbuhannya pesat. Data kami, UKM yang ada sekitar 116 ribu pelaku, tapi 90 persen masih di level usaha mikro," ujar Yani, sapaan akrabnya. 

Kondisi yang sudah menggeliat ini, lanjut Yani, menjadi perhatian pemerintah. 

"Otomatis perekonomian akan tumbuh di situ. Visi misi wali kota, menempatkan ekonomi kerakyatan ke arah ekonomi kreatif (ekraf) juga membuka peluang besar," terangnya. 

"Biasanya usaha UKM masih konvensional dan banyak persoalan yang harus dituntaskan," lanjutnya. 

Menurut Yani, ada empat permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM untuk meningkatkan taraf dari 1.0 ke 2.0. 

Mulai dari kualitas produk, standarisasi, permodalan, dan pemasaran. 

Sehingga, saat ini peran pemerintah lebih pada mencari formula pendampingan yang perlu dilakukan terus-menerus. 

Hal tersebut agar pelaku UMKM benar-benar siap menjalankan bisnis. 

"Pendampingan yang sudah kami lakukan contohnya membuat klinik usaha mikro," sebutnya. 

"Saat ini, yang mendominasi di Malang ada beberapa. Termasuk kuliner, fashion, kriya, dan yang menonjol lagi UKM digital yakni startup animasi, aplikasi dan game," pungkasnya.