Kawasan Museum Sejarah Bentoel (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kawasan Museum Sejarah Bentoel (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kabar dijualnya Museum Sejarah Bentoel di kawasan Jl Wiromargo 32, Sukoharjo, Kecamatan Klojen Kota Malang memang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan penggiat cagar budaya.

Penjualan bangunan museum tersebut lantaran pihak perusahaan menginginkan adanya pengembangan bisnis dalam produk mereka.

Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang bertemu dengan perwakilan Museum Bentoel, di kantor Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), pagi ini (Selasa, 10/9). 

Hasilnya, bangunan tersebut masih tergolong bangunan baru dan tidak masuk dalam kategori bangunan cagar budaya.

Bahkan, untuk kategori sebuah museum, kawasan tersebut juga dinyatakan belum memenuhi kriteria itu. 

Hal itu dijelaskan Kepala Disbudpar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni jika menyebut museum, sesuai dengan UU dan peraturan pemerintah (PP) maka ada empat hal yang harus dipenuhi untuk berdirinya museum. 

Yakni, tempat, koleksi, dana pengelola, dan sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola.

"Museum tidak masuk ya, karena empat hal tadi tidak terpenuhi. Dia tidak punya koleksi, tempat ada tapi tidak punya SDM yang mengatur, tidak ada dana penunjang itu. Dan tadi diceritakan, kalau kunjungannya juga jarang banget. Padahal informasi sudah kita berikan baik melalui media sosial Pemerintah Kota, Disbudpar, ataupun website," ujar dia.

Ia menjelaskan, satu saja dari empat syarat itu tidak terpenuni maka tidak bisa disebut sebagai sebuah museum. 

Menurut dia, hadirnya Museum Sejarah Bentoel itu dulunya adalah sebagai bentuk kepedulian tentang perjalanan bos Bentoel yakni 'Ong Hok Liong' itu.

"Jadi mereka ingin dulu itu untuk menunjukkan kami (Bentoel) lho punya kepedulian yang tinggi untuk menceritakan tentang perjalanan bos kami," imbuhnya.

Tak hanya itu, semua koleksi yang ada dalam Museum Sejarah Bentoel tersebut juga diketahui berisi replika. 

Jadi di dalamnya tidak terdapat barang atau alat-alat lama yang masuk kategori cagar budaya. 

"Ada sepeda itu bukan sepeda yang pertama kali dipakai, tapi replika. Dia (Bentoel) ingin menceritakan perjalanan hidup seorang 'Ong Hok Liong' yang dari pengusaha biasa toko kelontong hingga sukses. Dalam ruangan itu hanya foto pak Hok dan perjalanannya, yang lainnya semua replika, pihak mereka menyampaikan seperti itu," paparnya.