MALANGTIMES - Lantaran mengaku diperkosa oleh salah seorang pelanggannya, Melati (16) pekerja di Café Idaman diantar  Satpol PP ke ULT PSAI (Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif) Tulungagung.

Melati diantarkan ke ULT PSAI guna mendampinginya melaporkan ulah bejat salah satu perangkat desa yang telah memaksanya berhubungan badan ke pihak berwajib.

“Karena sudah masuk dalam ranah perlindungan anak, (ULT) PSAI yang paham penangananya,” ujar Kasatpol PP Tulugagung melalui Kasi Informasi dan Publikasi, Artista Nindya Putra.

Lantaran ULT PSAI belum mempunyai shelter (persinggahan), maka pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial Tulungagung yang mempunyai shelter.

Seperti diketahui, Melati diamankan Satpol PP saat memeriksa café milik Markini (65) warga Dusun Kedungjalin, Desa Junjung, Sumbergempol.

Melati diamankan lantaran adanya aduan masyarakat jika ada salah satu tempat karaoke yang memperkerjakan anak –anak.

Saat diamankan Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room.

Melati berasal dari Desa Wajak, Kecamatan Turen, Malang.

Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temanya 'Tari' yang sudah lebih dulu bekerja di cafe ini.

Dicafe milik Markini (65) ini Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu.

Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota.

Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar 1 juta rupiah. Belum lagi tips yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room.

Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap.

Mirisnya saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu salah satu pelangganya.

Melati dengan gamblang menceritakan waktu dan tempat dirinyab dinodai oleh sang perangkat desa (sebut saja Uceng), perangkat desa di salah satu desa di kecamatan Sumbergempol.

Dirinya dipaksa berhubungan badan oleh Uceng pada hari Minggu tanggal 11 Agustus 2019 sekitar pukul 1 malam di dalam kamarnya.

"Pernah sekali dipaksa untuk berhubungan badan (diperkosa) oleh salah satu pelangganya," tandas Putra.

Untuk menguatkan pebngakuan Melati, Pihaknya meminta Melati membuat surat pernyataan bermaterai, jika pernah di paksa berhubungan badan oleh Uceng.

Sementara itu pemilik warung kopi dan karaoke, Markini saat disinggung ijin usaha karaokenya, tidak bisa menunjukanya. 

Dokumen yang dia punya hanyalah sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk lagu-lagu yang diputar di café miliknya. Itupun dia harus merogoh kocek sebesar 800 ribu rupiah. “Punyanya hanya ini (sertifikat) bayarnya 800 ribu,” ujar Markini.