Petugas saat menjamas keris berukuran 2,20 meter di jamas, Minggu (1/9/2019).
Petugas saat menjamas keris berukuran 2,20 meter di jamas, Minggu (1/9/2019).

MALANGTIMES - Dari 377 pusaka yang dilakukan Jamas Tayuh Ugi Shidikara di Pringgitan Singodermo, Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji ada yang unik. 

Ada 3 keris yang cukup panjang dilakukan penjamasan, Minggu (1/9/2019).

Tiga di antaranya adalah keris terpanjang berukuran 2,20 meter. 

Tiga keris itu namanya Kyai Singa Murti, Kayi Nogo Rojo Bawono, dan Kyai nogo Rojo Angkoso.

Ketiga keris terpanjang itu dulunya Sang Prabu Anusopati bin Ken Arok. 

Hanya saja keris itu sudah tiga tahun ini dimiliki Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya.

“Sudah 3 tahun ini menjadi milik saya,” kata Musyrifin sekaligus Penanggung Jawab Jamas Tayuh Ugi Shidikara. 

Jamasan adalah penyucian benda-benda pusaka seperti keris, tombak, trisula, pedang, samurai dan benda-benda pusaka lainnya.

Prosesi penjamasan keris ini pun tidak jauh beda dengan pusaka lainnya. 

“Jamasnya sama saja tidak ada yang membedakan dengan lainnya,” imbuhnya.

Langka awalnya adalah harus melewati proses penjamasan di tiga meja. 

Pertama direndam bila barang berkarat dimasukkan pada cairan air kelapa, mengkudu, blimbing wuluh dan bunga. Direndam selama 5-15 menit.

Kemudian digosok menggunakan jeruk pecel, dan disikat dengan sikat gigi yang lembut untuk menghilangkan kerak. 

Setelah itu, direndam pada bunga macan kerah.  Terdiri dari  jambe dan temulawak. 

Fungsinya untuk mengesatkan besi. Supaya saat proses diberi minyak masuk pada pori-pori.

Untuk menuntaskan yang kotor, secara metafisik membuang anasir negatif. 

Kemudian dilanjutkan pada bak bunga telon. Terdiri dari bunga gading putih, gading kuning, dan kenanga fungsinya untuk mendatangkan anasir positif. 

Selain itu diusap menggunakan kain hingga bersih dan minyak, untuk mengharumkan. Secara estetika tidak karatan. 

Dengan menggunakan 7 minyak yang sudah dicampur meliputi minyak cendana, melati, hajar aswat, malaikat subuh, apel jin, misik, dan jakfaron dan di uapi dengan dupa.

Proses yang ketiga adalah shidikoro pusoko. Memanggil roh dengan cara mereka. 

Meminta tolong dikembalikan kekuatan asal, untuk Datang memeriksa dan direstui sesuai pamor.

Proses terakhir adalah pentayuhan. Yakni mengindentifikasi benda pusaka tersebut. 

Selain itu supaya benda pusaha tersertifikat.

Hanya saja keris itu tidak dijual belikan dan tidak ada harganya. Karena 3 pusaka tersebut adalah Pusaka Tindih Nusantara. 

“Artinya Pemersatu Nusantara dan Pencegah Musibah dan Bencana Alam,” tutupnya.