MALANGTIMES - Sejak dunia industri mulai tumbuh 150 tahun terakhir, emisi CO2 meningkat pesat. Sepanjang tahun 2018 kemarin, emisi karbon dioksida di seluruh dunia meningkat sekitar 2,7 persen. 

Studi yang dirilis oleh Global Carbon Project menemukan ada 40,9 miliar ton karbon dioksida pada tahun 2018.

Indonesia sendiri menempati urutan ke-4 di Asia sebagai negara penyumbang emisi gas CO2 terbesar. 

Menurut Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC), emisi CO2 di Indonesia diperkirakan meningkat dari 201 juta ton pada 2015, menjadi 383 ton pada 2024 nanti.

Dalam laporan IPCC, sebagai panel para pakar yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1988, bila emisi gas karbon dibiarkan, dapat menimbulkan kerugian triliunan dolar AS akibat pengrusakan properti dan ekosistem, serta biaya membangun sistem pertahanan iklim. 

Hal ini juga berpotensi peningkatan satu derajat temperatur udara akibat pemanasan global.

Secara rinci, efek ini juga berdampak dalam efek regional perubahan iklim seperti terganggunya pola hujan sehingga menyebabkan kenaikan risiko banjir secara signifikan, dan risiko kekeringan juga makin tinggi di daerah yang tandus terutama di Eropa dan Asia.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek rumah kaca ini adalah dengan menghemat atau mengefisiensikan pemakaian listrik.

Mengingat letak Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa di mana memiliki keunggulan berupa potensi energi surya yang melimpah, lima mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya (UB) memandang hal tersebut sebagai peluang yang besar dan memanfaatkannya menjadi energi listrik.

Tim ini mengombinasikannya dengan zeolite alam Indonesia (adsorbent gas CO2) melalui terobosan baru yang disebut dengan, API-SIWA (Air Pollution Information System Integrated with Air Filtering, Internet of Things, and Renewable Energy).

Tim API-SIWA terdiri atas I Wayan Angga Jayadiyuda (FT 2016), Muhammad Khuzain (FT 2016), Hafidh Hidayat (FT 2016), Naila El Arisie (FT 2016), dan Allysa Apsarini Shahfah (FILKOM 2016).

API-SIWA akan memantau kondisi tingkat CO2 di lingkungan sekitarnya. Jika kadar karbon dioksida yang dideteksi melebihi 600 ppm (batas normal kadar CO2 di lingkungan), maka relai akan dihidupkan untuk menghirup udara.

"Kemudian, saat itulah proses filtering terjadi dan kipas penghisap akan menangkap gas CO2, sehingga gas yang tersisa untuk dihembuskan hanyalah oksigen saja," papar Angga.

API-SIWA mampu memonitoring kondisi CO2 di lingkungan sekitarnya secara real time, dan melakukan proses filtrasi untuk mengurangi tingkat CO2, serta memberikan informasi tentang dampak kesehatan yang diakibatkan oleh kadar CO2 yang ada melalui aplikasi Android.

Di bawah bimbingan Ir Nurussa’adah MT, tim ini berhasil meraih Silver Medal pada ajang Japan Design, Idea, and Invention Expo 2019 pada tanggal 15-17 Juni di Tokyo Bay Ariake Hotel, Jepang yang diselenggarakan oleh WIIPA/World Invention Intellectual Property Associations dan Chizal Corporation.

“Dengan adanya temuan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah polusi udara, mencegah perubahan iklim global, serta meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat,” harap Angga mewakili tim.