Para mahasiswa saat memanen sayur organik di Kampung Ekologi, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa saat lalu.

Para mahasiswa saat memanen sayur organik di Kampung Ekologi, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu beberapa saat lalu.


Editor

Heryanto


MALANGTIMES - Para petani di Kota Batu didominasi dengan usia lanjut, meskipun diberi fasilitas Smart City Among Tani rupanya tidak banyak mereka yang menggunakannya.

Pemkot Batu memberikan pelatihan pembekalan tim pelopor pemuda tani di Balai Kota Among Tani, Kamis (11/7/2019).

Masing-masing desa memiliki 2 perwakilan untuk pelatihan ini. Namun bagi mereka yang usianya maksimal 35 tahun.

“Aplikasi ini memanfaatkan HP android, namun karena mereka kebanyakan lanjut usia jadi kesulitan. Apalagi usia mereka ini 50 ke atas, jadi tentunya butuh yang muda untuk menyosialisasikan,” kata Sri Wahyuni Kasi Metode dan Informasi, Bidang Penyuluhan.

Ia menambahkan aplikasi Among Tani ini disuguhkan salah satunya untuk memberikan wadah petani saat mengalami kesulitan dalam melakukan penanaman. 

Namun nyatanya hingga saat ini masih banyak petani yang tidak bisa memanfaatkan hal ini.

Karena itu Pemkot Batu berupaya untuk menjaring generasi petani muda yang ada di Kota Batu. 

“Dengan pelatihan ini meraka anak muda ini bisa jadi pelopor di desanya sambil mendampingi para petani yang lanjut usia ini,” imbuhnya.

Dalam pelatihan itu mereka diberikan materi terkait dengan cara penggunaan aplikasi among tani. 

Selain itu mereka juga diberi pemahaman jika menjadi bukanlah hal buruk.

Apalagi Kota Batu sebagian besar penduduknya adalah petani, sehingga Pemkot Batu ingin ada regenerasi petani nantinya.

“Jadi petani bukan kegiatan buruk, di situ kami memberikan pemahamannya. Agar ke depan itu pertanian di Kota Batu terus berjalan dan enggak hilang,” tambah perempuan 49 tahun ini. 

Dengan demikian, adanya kegiatan ini agar bisa menjaring petani-petani muda untuk mempertahankan pertanian di Kota Batu.

Sekaligus menyosialisasikan teknologi yang sudah dibuat dan menyadarkan para pemuda di desa-desa.

End of content

No more pages to load