Nasib situs sekaran yang dikawal warga dan pelaku seni budaya Malang Raya agar pemerintah tidak lupa kelanjutan eksplorasi, konservasi dan fungsionalisasinya (Ist)

Nasib situs sekaran yang dikawal warga dan pelaku seni budaya Malang Raya agar pemerintah tidak lupa kelanjutan eksplorasi, konservasi dan fungsionalisasinya (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Keberadaan situs sekaran yang ditemukan tidak sengaja dalam pembangunan jalan tol Malang-Pandaan di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, hampir terlupakan dalam rentang dua bulan terakhir sejak ditemukan.

Kondisi situs yang nyaris terbengkalai, akhirnya mendapat perhatian dan keprihatian serius dari warga sekitar serta pelaku seni dan budaya. Mereka menyuarakan terkait situs sekaran kepada masyarakat, khususnya para pemangku kebijakan agar tidak melpakan temuan tersebut. Di antaranya  pemerintah kabupaten Malang yang sejak awal penemuan sempat menyampaikan siap mengambil alih situs tersebut. Baik itu pada penanganan konservasi maupun fungsinya ke depan. Begitu juga dengan pihak  PT Jasamarga Pandaan Malang sebagai pihak yang membangun jalan tol Mapan.

Masyarakat bersama dengan  elaku seni budaya Malang Raya  sempat unjuk gigi dengan berbagai aksinya yang bertujuan untuk mengingatkan pihak-pihak terkait. Tujuannya agar tidak melupakan penemuan besar masa lalu. "Tujuan kami untuk mencegah lupa atas situs sekaran ini. Hampir dua bulan terakhir, di situs tidak ada aktivitas apapun setelah begitu ramai diberitakan. Kami ingin mengingatkan kembali kepada pemerintah dan masyarakat," ucap M Dwi Cahyono, penggagas peduli situs sekaran yang juga arkeolog dari Universitas Negeri Malang ini.

Padahal, sambung dia, dengan kondisi di situs sekaran sejak penemuan diperlukan langkah konkrit dalam upaya menjaga agar berbagai bangunan peninggalan masa lalu tersebut tidak sampai terus tergerus oleh cuaca. "Banyak batu bata di area situs mulai hancur. Pagar yang melindungi situs juga mulai rapuh. Apalagi ini musim kemarau, jadi semakin terlihat gersang," kata beberapa warga yang dibenarkan juga oleh Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto, beberapa waktu lalu.

Bahkan, dua arung (saluran mirip goa) yang ditemukan pertama kali, kini sudah tidak ada. Dimungkinkan karena lubang arung tertutup tanah uruk akses tol Malang Pandaan.

Gerakan warga serta para pelaku seni dan budaya Malang Raya ini, tentunya patut menjadi perhatian serius Pemkab Malang yang sempat menyampaikan siap mengelola situs sekaran di wilayahnya tersebut. Khususnya, terkait upaya eksplorasi,  konservasi dan fungsionalisasi dari situs sekaran.

Dwi mengatakan, bahwa situs sekaran masih membutuhkan  eksplorasi. Mengingat temuan situs saat ini hanya sebagian kecil saja dan identitasnya belum diketahui secara terang benderang bagi pengetahuan saat ini. ”Termasuk restorasi itu juga penting. Karena situs ini kondisinya tidak sangat baik alias rusak, akibat beragam faktor,’’ ucapnya.

Di tingkat konservasi dan fungsionalisasi situs sekaran pun, tentunya menjadi hal yang tidak bisa ditunda-tunda. Dengan berbagai faktor yang ada, dua upaya itu menjadi urgen dilakukan oleh pemkab Malang maupun pihak jasa marga. "Kita juga akan keluarkan rekomendasi kepada Pemkab Malang serta pihak terkait. Semoga ini bisa dilaksanakan bersama dan duduk bersama juga. Apakah situs ini akan ditangani, dibiarkan atau dihilangkan?" pungkas Dwi.

End of content

No more pages to load