MALANGTIMES - Klenteng Eng An Kiong menjadi salah satu bangunan tua di Kota Malang yang banyak membuat kagum banyak kalangan. Tak terasa, tempat beribadah yang berada di pusat keramaian kota pendidikan itu sekarang sudah hampir berusia dua abad, tepatnya sudah menginjak 194 tahun.

Humas Klenteng Eng An Kiong, Anton Triyono bercerita, bangunan yang memiliki arsitektur perpaduan China dan Eropa itu pertama kali dibangun pada 1825. Pendirinya adalah Liutenant Kwee Sam Hway yang sebelumnya sudah menginjakkan kaki di Madura sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Malang.

"Dulu, bangunan awal klenteng adalah yang ada di tengah," katanya pada MalangTIMES, Senin (8/7/2019).

Bangunan tengah tersebut menurutnya memiliki ciri khas arsitektur China. Lantaran pada bangunan tersebut terdapat bangunan diagonal yang memanjang ke atas dan ke samping. Bangunan itu menyimpan makna adanya hubungan antara manusia dengan sang pencipta, serta hubungan sosial antar manusia.

Bangunan tertua di bagian tengah itu menurutnya merupakan tempat yang digunakan umat Tao untuk melakukan kebaktian. Bangunan dan segala pernak perniknya pun masih mempertahankan arsitektur khas China. Sampai sekarang, keaslian itu masih dapat dinikmati dan tetap berdiri kokoh.

Sementara bangunan sisi kanan dan kiri, lanjutnya, memiliki arsitektur gaya Eropa. Bangunan yang melingkari bangunan awal yang di tengah itu dibangun pada 1895 dan selesai 1934. Sejarah pemugaran dan pembangunan area baru tersebut pun dipahat di area Klenteng dengan menggunakan tulisan China.

"Klenteng Eng An Kiong digunakan untuk ibadah tiga Agama yaitu Budha, Tao dan Konghucu," imbuhnya.

Jika pada bagian tengah digunakan untuk kebaktian umat Tao, maka sisi kanan dan kiri bangunan masing-masing digunakan sebagai tempat kebaktian dari umat Konghucu dan Budha.

Lebih jauh dia bercerita, keberadaan Klenteng Eng An Kiong juga menjadi salah satu penanda kerukunan umat beragama. Karena sampai sekarang, toleransi terjaga dengan baik. Selain itu, berbagai bentuk seni dan budaya juga masih bisa dinikmati.

"Klenteng Eng An Kiong juga menjadi salah satu simbol bahwa kita semuanya satu. Meski berbeda agama, keyakinan dan suku, kita semua satu yaitu Indonesia. Maka harus selalu menjaga kerukunan," imbuh pria yang akrab disapa Bunsu Anton itu.

Sementara berkaitan dengan peringatan ulang tahun Klenteng Eng An Kiong ke 104, menurutnya berbagai aktivitas yang dilakukan tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Diantaranya seperti sembahyang rebutan hingga menunjukkan atraksi barongsai dan leang leong.

"Ada sekitar tiga ribu paket sembako yang dibagikan untuk masyarakat, tak memandang suku, ras, maupun agama," tegasnya.

Dia pun berharap, keharmonisan umat beragama yang sudah terjalin selama ini tetap bisa terjaga. Dengan harapan kemakmuran alam dan seisinya dapat terus dijaga dengan baik. Selain itu semangat toleransi juga terus bergaung bagi seluruh masyarakat dan umat beragama.