Suasana sidang kasus penggelapan dalam Jabatan (Anggara Sudiongko/MalangTimes)

Suasana sidang kasus penggelapan dalam Jabatan (Anggara Sudiongko/MalangTimes)



MALANGTIMES - Kasus penggelapan dalam jabatan yang dilakukan Thomas Zachrias, warga Desa Kalisongo, Dau, Kabupaten Malang, terus bergulir di meja persidangan Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang. 

Hari ini (3/7/2019), lanjutan persidangan pemeriksaan saksi kedua, setelah sebelumnya (1/7/2019) tertunda karena waktu persidangan yang berlangsung sampai larut malam.

Pada persidangan hari ini, beberapa saksi dihadirkan, yakni Deni Maedani dari Perum Jasa Tirta Malang, Ong Sutawijaya dari Yayasan Perpustakaan Injil (Yasperin), Sardi mantan karyawan CV Mitra Sejahtera Abadi (MSA) dan Ratnawati Condro.

Namun, dari saksi yang diundang untuk dikorek keterangannya, Sardi tidak diperbolehkan oleh Majelis Hakim untuk bersaksi karena, ia yang merupakan mantan pegawasi CV MSA, namun saat ini pihaknya masih bekerja pada terdakwa Thomas Zachrias (68).

Sedangkan untuk saksi Ratnawati, tidak menghadiri persidangan memenuhi undangan dari pihak PN Kota Malang. Pihaknya sendiri telah dua kali dipanggil namun tetap tidak memenuhi panggilan. 

Sehingga, dalam persidangan yang dipimpin oleh Majelis Hakim Noor Ichwan Ichlas Ria Adha, hanya memeriksa tiga saksi saja.

Pada sidang sebelumya (1/7/2019) yang beragendakan keterangan saksi, juga menyudutkan pihak Thomas Zachrias. Saat itu, dalam persidangan kali ini saksi dari Yasperin memberatkan terdakwa Thomas Zachrias. 

Di situ terungkap bahwa, pihak Yasperin telah membayar lunas ke Thomas, untuk pesanan buku yang sudah mereka pesan. Pihak Yasperin melalui Ester Tutik Sumiati yang berposisi sebagai admin, dengan tegas mengatakan jika pihaknya telah membayar pesanan buku mereka kepada Thomas seluruhnya.

"Saat itu, pesannya dari bos langsung ke Pak Thomas. Pengirimannya bertahap, sedikit-sedikit, belum semua. Namun untuk uangnya sudah di bayarkan semua" jelas Ester dalam sidang

Sementara itu dalam persidangan lanjutan hari ini (3/7/2019), keterangan saksi Deni, dihadapan Majelis Hakim, jika ia mengetahui sudah ada pembayaran mengenai pesanan buku ke CV MSA yang sempat ia terima. "Tapi memang ada yang lebih tau lagi mengenai hal itu, yakni bagian pembayaran," bebernya

Sedangkan Surya Kencana, yang merupakan pihak ketiga, mengaku, jika ia sempat meminjamkam modal kepada Thomas dan Megawati sebesar Rp 60 juta. Saat itu, Thomas dan Megawati mengajukan proposal kepada Surya dengan tujuan meminjam modal untuk mencetak pesanan buku.

"Saat itu mengajukannya, sekitar  4 November 2012, mereka mengajukan proposal pinjam dana. Tanggal 10 November saya realisasikan. Kalau untuk keuntungannya tidak disebutkan berapa persen," bebernya.

Ong Sutawijaya yang gikiran memberikan keterangan kepada Hakim, juga memberikan kesaksisan yang namapknya Semakin menyudutkan pihak terdakwa Thomas Zachrias.

Ia mengaku, telah memesan 8000 buku, yang besar 6000 Dan yang kecik 2000. Namun saat itu, dikirim 2332. Sedangkan sisanya tidak pernah dikirim. Ong juga menunjukan bukti tanda terima buku yang dikirim pada majelis Hakim.

"Saya memang pernah ke Kantor CV MSA. Dan says tahu, kersama pribadi Yasperin dan Pak Thomas" bebernya dalam persidangan.

Namun, keterangan dari Ong ini justru dibantah oleh Thomas sampai-sampai Majelis Hakim pun ikut sedikit kesal. Disitu, Thomas tetap mengaku, jika pihaknya belum pernah mengirim satu buku pun kepada pihak Yasperin.

Bantahan Thomas pun kemudian ditanggapi Hakim, "Lha ini ada bukti penerimaan barangnya. Kok belum dikirim. Saudara terdakwa ini berbelit-belit ya," tandas Hakim

Kemudian, sidang pun ditutup dan kembali dilanjutkan pada jadwal berikutnya dengan agenda menghadirkan saksi ahli Pidana dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang.

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, jika kasus ini bermula Kerjasama antara Thomas Zachrias, Warga Perum Bumi Mas, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan Megawati, warga Jalan Kedondong, Kota Malang pada tahun 2009.

Saat itu, Megawati beperan sebagai persero pasif fan Thomas sebagai persero aktif. Thomas sendiri memiliki jabatan sebagai Direktur pada perusahaan percetakan tersebut.

Namun setelah lama berjalan, transparansi Keuangan dan pertanggung jawaban, dirasakan ada kejanggalan oleh Megawati. Thomas tak pernah memberikan laporan Keuangan selama beberapa tahun. 

Setelah diaudit, terdapat kerugian sebesar Rp 900 juta. Sampai akhirnya, setelah beberapa kali, hingga melakukan somasi ke Thomas tak ada itikad baik, akhirnya melaporkan Thomas ke Polisi.

Setelah melewati sekian waktu yang cukup lama, dalam penanganan kasusnya, kasus kemudian sampai pada tahap 2 penyerahan tersangka dan barang bukti dari Polres Malang Kota ke Kejaksaan hingga berproses sampai persidangan saat ini

 

End of content

No more pages to load