MALANGTIMES - Kurangnya tingkat kepedulian warga masyarakat terkait penyakit kusta, menjadi perhatian tersendiri dalam hal kesehatan. Terlebih ada beberapa warga di wilayah Buring RW 07, Kedungkandang yang masih merasa tidak begitu mementingkan pengetahuan tentang penyakit kusta.

Karenanya, belum lama ini Puskesmas Kedungkandang melakukan kegiatan penyuluhan mengenai pentingnya mengetahui sejak dini akan tanda - tanda penyakit kusta dan cara penanggulangannya.

Staff Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Kedungkandang, Abdul Latif mengatakan jika warga setempat memang belum memiliki kesadaran akan pentingnya melakukan penyembuhan pada penyakit kusta ini. Padahal jika dibiarkan terlalu lama dan tidak ditangani secara cepat dan tepat penyakit ini bisa menyebabkan kecacatan, mutilasi (misalnya terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), ulserasi (luka borok), dan lainnya. 

"Kita melakukan penyuluhan dan tanya jawab dengan warga setempat, ternyata permasalahan mereka di sana itu masih merasa malu untuk mengatakan jika menderita penyakit kusta. Apa ya istilahnya itu daging jubek atau daging jelek, padahal kan bisa diobati. Yang penting pemeriksaannya cepat dan tepat," ujar dia.

Kusta sendiri merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kondisi penyakit ini biasanya akan memengaruhi kulit, mata, hidung dan saraf perifer.

Hal tersebut yang masih urung disadari oleh masyarakat di wilayah Buring RW 07 ini. Penularan bakteri ini biasanya melalui kontak langsung dengan binatang tertentu seperti sapi. Penyakit ini memerlukan waktu inkubasi yang cukup lama, antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata membutuhkan 3-5 tahun setelah tertular sampai timbulnya gejala.

"Nah, salah satu yang menimbulkan banyaknya penderita penyakit kusta di lingkungan tersebut karena dekatnya lingkungan rumah warga dengan kandang sapi. kalau ada kontak yang intens selama bertahun - tahun dengan si hewan maupun dengan penderita kusta itu bisa tertular. Satu warga terpapar misalnya, nanti bisa merembet ke warga yang lain," imbuh dia.

Perlu diketahui juga, jika penyakit ini terdiri dari dua jenis, kusta basah atau multi basiler (MB) dan kusta kering atau pausi basiler (PB). Cirinya-pun berbeda, jika kusta kering akan muncul bercak putih seperti panu. Tapi untuk kusta basah lebih mirip kadas, bercak kemerahan yang disertai penebalan pada kulit.

"Kalau yang jenis kusta kering pengobatannya kurang lebih 6 bulan sampai 1 tahun. Sedangkan yang basah itu 1 - 2 tahun pengobatannya. Dan kusta ini mati rasa bagi yang terkena, tidak akan merasakan apa - apa saat disentuh. Bisa dicoba sentuh bercak putih pakai kapas kalau tidak terasa berarti itu kusta," kata dia. 

Lebih lanjut ia menjelaskan jika pemutusan kontak untuk mencegah penularan penyakit ini bisa dilakukan dengan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), salah satunya melakukan tata cara mencuci tangan dengan benar. 

"Sebenarnya dekat dengan hewan atau penderita tidak begitu masalah, asalkan si warga mau melakukan PHBS. Mencuci tangan dengan langkah - langkah yang benar, sela - sela jari dan kuku dibersihkan dengan benar. Karena menularnya kan dalam rentang bertahun - tahun, jadi bisa dicegah," ungkapnya.

Karenanya, melihat kondisi di lapangan dimana warganya banyak yang masih kurang untuk berperilaku hidup sehat, dan munculnya stigma negatif tersebut pihaknya juga melakukan jemput bola. Sehingga siapa saja yang terkena dampak penyakit kusta bisa terdeteksi secara menyeluruh.

"Mau ndak mau kita harus jemput bola, agar semuanya bisa terdeteksi mana saja yang terpapar dan tidak. Dan kita merubah mindset masyarakat bahwa kusta itu tidak separah yang dibayangkan dan masih bisa disembuhkan," pungkasnya.