Megawati saat menjadi saksi kasus penggelapan dalam jabatan. (Anggara Sudiongko/MalangTimes)

Megawati saat menjadi saksi kasus penggelapan dalam jabatan. (Anggara Sudiongko/MalangTimes)



MALANGTIMES - Kasus penggelapan dalam jabatan di sebuah perusahaan percetakan, yakni CV MSA, oleh mantan direkturnya, Thomas Zachrias (68), warga Lembah Dieng, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, masih terus bergulir di persidangan.

Terbaru, dalam persidangan (1/7/2019), lima saksi dihadirkan untuk memperjelas mengenai kasus tersebut. Lima saksi tersebut yakni Megawati sebagai saksi pelapor, Ester Tutik Sumiati dan Rully Agus Setiawan dari Yayasan Perpustakaan Injil (Yasperin), Deni Maydani dari Perum Jasa Tirta Malang, Surya Kencana Cipto sebagai pihak ketiga yang meminjamkan modal ke CV MSA untuk modal pekerjaan pesanan dari Perum Jasa Tirta.

Dalam persidangan kali ini, saksi dari Yasperin tampaknya memberatkan terdakwa Thomas Zachrias. Di situ terungkap bahwa pihak Yasperin telah membayar lunas ke Thomas untuk pesanan buku yang sudah mereka pesan. Pihak Yasperin melalui Ester Tutik Sumiati yang berposisi sebagai admin dengan tegas mengatakan jika pihaknya telah membayar pesanan buku mereka kepada Thomas seluruhnya.

"Saat itu, pesannya dari bos langsung ke Pak Thomas. Pengirimannya bertahap. Sedikit-sedikit, belum semua. Namun untuk uangnya sudah dibayarkan semua" jelas Ester ditemui MalangTimes usai sidang.

Sementara itu, pihak saksi Jasa Tirta  belum diperiksa karena waktu persidangan yang tak mencukupi dan dilanjutkan pada Rabu, 3 Juli 2019 dengan agenda masih pemeriksaan saksi.

Di lain sisi, Megawati, yang juga merupakan saksi pelapor, mengungkap bahwa selama ini ketika Thomas dimintai pertanggungjawaban, dirinya selalu berkelit jika beberapa pemesan belum melakukan pembayaran.

"Keterangan pihak Yasperin sudah mentransfer ke rekening Pak Thomas sebesar Rp 832 juta. Sedangkan pihak Jasa Tirta sudah bayar tunai Rp 210 juta ke Thomas. Namun sampai saat ini belum diserahkan kepada saya,” terangnya

"Ada anaknya juga yang memesan. Namun saya tanya ke Thomas, katanya masih belum, di-reject. Gapi anaknya bilang sudah dibayar. Nah ini kalau di-reject lalu mana barangnya, kertasnya kok nggak ada," tambah Megawati (2/7/2019).

Selain itu, anak Thomas  melakukan kredit mobil yang dalam pembayarannya memakai rekening dari perusahaan. Di situ, meskipun pihaknya mengatakan akan mentrasfer uang untuk pembayaran angsuran mobil. Namun, jumlah yang ditransfer tak sesuai dengan nominal cicilan.

"Dan yang jadi pertanyaan, kenapa harus pakai rekening perusahaan. Kenapa nggak pakai rekening dia sendiri. Karena tahu itu, akhirnya saya langsung bikin rekening baru," jelasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kasus ini sendiri berawal dari kerja sama bisnis percetakan yang dijalankan oleh Megawati dan Thomas Zachrias mulai 2009. Saat itu, Megawati beperan sebagai persero pasif dan Thomas sebagai persero aktif. Thomas sendiri memiliki jabatan sebagai direktur pada perusahaan percetakan tersebut.

Namun setelah lama berjalan, transparansi keuangan dan pertanggungjawaban dirasakan ada kejanggalan oleh Megawati. Thomas tak pernah memberikan laporan keuangan selama beberapa tahun.

Sampai akhirnya, setelah beberapa kali hingga melakukan somasi ke Thomas tak ada iktikad baik, akhirnya Megawati melaporkan Thomas ke Polisi.

Setelah melewati sekian waktu yang cukup lama, dalam penanganan kasusnya, kasus kemudian sampai pada tahap dua penyerahan tersangka dan barang bukti dari Polres Malang Kota ke kejaksaan hingga berproses sampai persidangan saat ini.

 

End of content

No more pages to load