Grafis perkembangan inflasi Kota Malang dalam empat tahun terakhir. (Foto: Badan Pusat Statistik Kota Malang)
Grafis perkembangan inflasi Kota Malang dalam empat tahun terakhir. (Foto: Badan Pusat Statistik Kota Malang)

MALANGTIMES - Turunnya harga berbagai komoditas usai Lebaran membuat Kota Malang mengalami deflasi sepanjang Juni 2019 dengan angka mencapai -0,17 persen. Angka tersebut menjadi catatan baru karena selama empat tahun terakhir atau sejak Juni 2016 silam, Kota Malang selalu mencatatkan inflasi. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada Juni 2016 terjadi inflasi sebesar 0,63 persen. Angka itu turun pada periode Juni 2017 sebesar 0,37 persen dan kembali melandai pada Juni 2017 di angka 0,25 persen. "Selama empat tahun terakhir, tahun ini baru pertama kalinya di bulan Juni Kota Malang mencatatkan angka deflasi," kata Kepala BPS Kota Malang Sunaryo, hari ini (1/7/2019). 

Angka deflasi bulan Juni menjadi yang terendah di Jawa Timur. Selain, Kota Malang, Jember juga mengalami deflasi sebesar -0,16 persen. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Probolinggo sebesar 0,48 persen. Untuk Jawa Timur, pada bulan Juni mengalami inflasi sebesar 0,13 persen.

Menurut Sunaryo, capaian tersebut merupakan bukti kinerja pemerintah pusat dalam pengendalian harga. Terutama dalam penurunan harga tiket pesawat yang memiliki andil besar dalam perhitungan inflasi di Kota Malang. "Penurunan tarif angkutan udara sebesar 3,9 persen menjadi penyumbang terbesar angka deflasi Kota Malang dengan andil -0,119 persen," urainya.

Selain angkutan udara, sejumlah komoditi lain juga turut menyumbang angka deflasi. Di antaranya penurunan harga bawang putih sebesar 15,27 persen, daging ayam ras sebesar 2,84 persen, penurunan harga telur ayam sebesar 4,33 persen. "Penurunan harga besi beton, bawang merah, pasir, ikan tongkol bandeng, serta penurunan  harga daging sapi juga menjadi penghambat inflasi," tuturnya.

Meski terdapat sejumlah komoditi penyumbang deflasi, namun kenaikan harga beberapa komoditi masih menyumbangkan inflasi. Diantaranya harga cabai merah sebesar 18,92 persen, kenaikan harga emas perhiasan sebesar 1,97 persen, batu bata sebesar 4,17 persen, daging ayam kampung 9,36 persen.

Sejumlah komoditi lainnya yang mengalami kenaikan harga di antaranya jeruk, tarif kereta api, tarif bimbingan belajar, gula pasir, kelapa, dan kentang. Dengan kondisi tersebut, Sunaryo menilai kondisi perekonomian di Kota Malang pada semester pertama tahun 2019 cenderung membaik. "Ekonomi Kota Malang aman terkendali," pungkasnya.