MALANGTIMES - Dunia pendidikan di Kabupaten Malang terus berbenah. Menggeliat dari sisi prestasi sekolah melalui berbagai ajang atau lomba serta mampu berada di posisi 10 besar Jawa Timur (Jatim)  tahun 2019 tak membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang lalai untuk terus menguatkan kesadaran terkait persoalan lingkungan hidup di lembaga pendidikan.

Selain menjadi bagian dalam program strategis Kabupaten Malang, persoalan lingkungan, khususnya di sekolah, telah menjadi komitmen Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Yakni, mewujudkan berbagai lembaga pendidikan di bawah kewenangannya untuk menjadi sekolah adiwiyata.

"Itu komitmen kami sejak dulu untuk mewujudkan seluruh lembaga pendidikan di bawah kewenangan kami menjadi sekolah adiwiyata. Ini menjadi penting untuk membangun kesadaran pelajar dan tentunya para pendidik, selain terus meningkatkan prestasi akademik," kata M. Hidayat, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya sekadar harapan tinggi. Dinas Pendidikan Kabupaten Malang pun mengawal terus terwujudnya sekolah adiwiyata setiap tahun. Beberapa strategi dijalankan untuk menggapai asa tinggi tersebut. Misalnya, dengan mendorong para pendidik menjadi motor penggerak di wilayahnya masing-masing.

Pasalnya, kata Dayat, sapaan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang itu, terwujudnya kesadaran lingkungan hidup di sekolah harus dilakukan dulu oleh para guru. 

"Para guru yang harus memberikan contoh itu kepada para siswanya terlebih dahulu. Sehingga apa yang kami harapkan bisa tercapai," ujarnya.

Satu strategi yang telah dilakukan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang terkait hal itu adalah dengan berbagai penguatan keterampilan para guru. Misalnya, keterampilan mengolah atau mendaur ulang berbagai jenis sampah plastik menjadi barang-barang produktif dan edukatif. Pelatihan tersebut diproyeksikan sebagai salah satu tujuan untuk membumikan seluruh sekolah di Kabupaten Malang yang bernuansa adiwiyata. 
"Kami telah melakukan itu dan akan terus menguatkannya dalam membumikan seluruh sekolah di Kabupaten Malang bernuansa adiwiyata," ujar Dayat 

Sekolah adiwiyata adalah ruang seluruh warga sekolah memiliki pengetahuan dan kesadaran dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Tujuannya untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat serta menghindari dampak lingkungan yang negatif. 

Dalam konteks adiwiyata itu sendiri, yang diwujudkan bukan hanya lingkungan sekolah yang terlihat indah dan bersih saja. Tapi, lanjut Dayat, adalah merangsang dan menumbuhkan kesadaran berkelanjutan terkait lingkungan hidup. 

"Contohnya adalah bagaimana siswa yang telah mendapat keterampilan dari para gurunya yang telah dilatih memiliki kesadaran untuk ikut serta mewujudkannya," ucapnya sambil memberi contoh konkret terkait pengolahan sampah plastik oleh para siswa menjadi produk bermanfaat dan bernilai.

“Artinya, siswa didorong untuk memiliki kesadaran atas gerakan peduli sampah serta dikuatkan pola pikirnya tentang sampah. Dari sesuatu yang tidak berguna menjadi hal berguna dan berkah. Saat ini sudah tertanam di pikiran siswa, maka sekolah bernuansa adiwiyata bisa terwujud. Ini tentunya membutuhkan para guru yang terampil, inovatif dan kreatif dalam hal tersebut,” imbuh Dayat.

Terpisah, Abdul Rozak, kepala SMPN 1 Wajak yang beberapa kali meraih penghargaan sekolah adiwiyata, mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan patut diapresiasi serta ditindaklanjuti di tingkat sekolahan masing-masing.

"Menumbuhkan kesadaran bagi seluruh pihak di sekolah untuk peduli lingkungan hidup menjadi bagian dalam membangun dunia pendidikan ke arah lebih baik dan tentunya melengkapi prestasi akademik," ucap Rozak yang membawa SMPN 1 Wajak menjadi sekolah adiwiyata 2018.

Hal tersebut bisa terwujud bila seluruh pihak bersama-sama bergerak mewujudkannya. "Sudah banyak sekolah percontohan adiwiyata di Kabupaten Malang. Ini bisa direplikasi oleh sekolahan lainnya," pungkas Rozak.