Situs Sekaran, Pakis, yang sampai saat ini belum ada kepastian tindaklanjut pengelolaannya (Ist)

Situs Sekaran, Pakis, yang sampai saat ini belum ada kepastian tindaklanjut pengelolaannya (Ist)



MALANGTIMES - Sejak ditemukan secara tidak sengaja di awal Maret 2019 lalu, situs Sekaran di wilayah Pakis, yang sempat viral kondisinya sekarang masih belum jelas dalam kaitan dengan pengelolaan serta tindak lanjutnya.

Kondisi itu yang membuat kondisi situs Sekaran yang berada di area pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan), terkesan terbengkalai. Serta tidak ada tindaklanjut dari pihak terkait, khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, yang sempat menyampaikan akan menjadi pengelola situs.

Berlarut-larutnya "pembiaran" tersebut yang membuat warga Desa Sekaran, Kecamatan Pakis, meminta Pemkab Malang untuk segera beraksi. Terkait pengelolaan situs sekaran yang kini kondisinya cukup memprihatinkan.

"Banyak batu bata di area situs mulai hancur. Pagar yang melindungi situs juga mulai rapuh. Apalagi ini musim kemarau, jadi semakin terlihat gersang," kata beberapa warga yang dibenarkan juga oleh Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto.

Sulirmanto menambahkan, kondisi situs Sekaran setelah ditemukan dan ditindaklanjuti dengan eskavasi oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim dan Badan Arkeologi, Jogyakarta, kini terlihat mangkrak.  

”Ini yang kami sedikit kecewa. Karena harusnya, pemerintah melakukan langkah kongkrit terkait dengan pelestarian situs, sesuai dengan rekomendasi dari BPCB,’’ ujarnya yang juga mengatakan, hampir tiga bulan situs ditemukan, wargalah yang turun tangan melakukan penjagaan dan pembersihan dengan kemampuan yang dimilikinya.

"Yang bisa kita lakukan adalah melakukan bersih-bersih di area situs saja. Memasang pagar agar situs terlindung, selain itu kami tidak mampu. Karena itu kita memohon kepada Pemkab Malang untuk bergerak secepatnya," ucap Sulirmanto.

Dirinya juga mengatakan, akan segera menghadap Plt Bupati Malang, terkait kelanjutan pengelolaan dan pemeliharaan situs yang jika terus dibiarkan akan menimbulkan kerusakan secara luas.

"Rencananya begitu, tapi ada berbagai agenda seperti pemilu kini akan pilkades. Sehingga kita menunggu selesai semua agenda itu. Atau mungkin kami akan menghadap setelah Pak Sanusi dilantik jadi bupati definitif," imbuhnya.

Kondisi itu pula yang membuat BPCB Trowulan bereaksi. Melalui Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog, pihaknya  akan mendorong pembuatan nota kesepahaman antara Jasa Marga dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang.

Nota kesepahaman itu akan menjadi dasar  penentuan pengembangan situs Sekaran agar tak berbenturan dengan kepentingan jalan tol yang merupakan proyek nasional.

"Kita dorong adanya pertemuan antar pemangku kepentingan secepatnya. Kemungkinan akan diadakan pertemuan pada bulan Juli datang. Lebih cepat terlaksana tentu akan lebih baik lagi," ujar Wicaksono.

Harapan besar agar nasib situs sekaran bisa terang ke depannya itulah yang diminta juga oleh warga Sekaran. Karena, situs sekaran nantinya tidak hanya menjadi aset bernilai atau benda cagar budaya belaka saja. Tapi, situs itu juga bisa menjadi destinasi wisata, yang berdampak pada kemajuan Desa Sekarpuro. 

"Ini juga jadi harapan kami sebagai masyarakat disekitar lokasi situs. Sehingga kami tentunya berharap banyak Pemkab Malang untuk beraksi juga," pungkas Sulirmanto.
 

 

End of content

No more pages to load