MALANGTIMES - European Space Agency (ESA) saat ini sudah membuka ketersediaan data satelit dari program eksplorasi angkasa dan bumi. ESA sendiri adalah organisasi antarpemerintahan yang didedikasikan untuk eksplorasi luar angkasa, didirikan pada 1975, saat ini beranggotakan 18 negara.

ESA telah meluncurkan lima set satelitnya pada 2016 lalu. Satu set terdiri dari 2 satelit. Meskipun begitu, data tersebut masih mentah sehingga harus diolah dengan menggunakan hardware dan software yang mumpuni.

Karena tidak semua orang memiliki perangkat yang mampu mengolah data mentah tersebut maka ESA membuat Geospacial Cyber Infrastructure (GCI) dan Geospatial Cloud Processingberbasis web. Teknologi ini dapat diakses melalui www.sentinel-hub.com.

GCI adalah sebuah infrastruktur sistem informasi geospasial berbasis cyber. Sementara Geospatial Cloud Processing berbasis web berfungsi memproses data satelit menjadi informasi, seperti data pemukiman, data vegetasi, dan data wilayah kebakaran.

Nah, untuk mengembangkan Teknologi Geospatial Cloud Processing tersebut dibutuhkan berbagai script atau algoritma yang bisa mengubah data mentah satelit menjadi informasi yang bisa dipahami orang awam.

Untuk mengumpulkan script tersebut maka ESA menyelenggarakan Custom Script Contest 2019. Grup Riset Geoinformatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mengikuti kontes tersebut dan berhasil meraih juara pada 15 Mei 2019 lalu. Untuk diketahui, grup riset FILKOM UB ini menjadi satu-satunya perwakilan dari ASIA yang menjadi juara.

Kepala Grup Riset Geoinformatika, Fatwa Ramdani DSc SSi MSc menyampaikan bahwa keikutsertaannya pada kompetisi tersebut karena ada tawaran dari ESA untuk berkontribusi mengolah data mentah dari satelit menjadi informasi yang bisa dimanfaatkan oleh publik.

"Jadi data dari ESA ini sudah merupakan data yang mendekati real time, karena data lokasi yang sama diupdate setiap 3 hari sekali dengan resolusi yang sangat tinggi hingga 10 meter. Dulu update data satelit setiap 2 minggu sampai 1 bulan sekali. Karena satelit masih tunggal jadi butuh waktu lebih lama untuk kembali ke posisi semula," jelas Kepala Grup Riset Geoinformatika, Fatwa Ramdani DSc SSi MSc.

Adapun script yang dibuat Fatwa beserta Adzanil Rachmadhi Putra, asisten di grup riset Geoinformatika adalah script yang mampu menghapus tampilan asap dan awan yang menutupi hasil gambar objek di bawahnya, misalkan gambar wilayah kebakaran.

Studi kasus yang diangkat adalah kebakaran di wilayah Indonesia tepatnya di Riau, California serta Australia.

Dengan penelitian di tiga lokasi berbeda dengan kasus yang sama yaitu kebakaran hutan, maka diberlakukan script yang sama untuk membuktikan bahwa script tersebut memberikan hasil yang konsisten.

"Ternyata terbukti script kami yang diberlakukan di tiga benua untuk kasus kebakaran hutan, menunjukkan hasil yang konsisten. Dengan script itu batas wilayah yang terbakar bisa terlihat dengan jelas tanpa tertutup kabut asap. Sehingga bisa langsung terlihat seberapa luas wilayah yang terbakar dan kemana arah penyebarannya," jelas Fatwa.

Penghargaan pada pemenang Custom Script Contest 2019 sebenarnya diberikan pada acara European Space Agency's 2019 Living Planet Symposium yang diselenggarakan di Milan, Italia pada 13 - 17 Mei 2019 lalu. Namun karena keterbatasan waktu Fatwa beserta tim berhalangan untuk menghadiri acara tersebut. Meski demikian mereka tetap mendapat third prize yang dijanjikan berupa 1-year Individual commercial Sentinel Hub account dengan nilai setara 1.000 EUR.

"Saat mengerjakan sebetulnya kami hanya ingin berkontribusi saja. Tidak menyangka bisa menang seperti ini. Karena script yang lolos uji akan dimasukkan ke library sentinel-hub.com dan kemudian bisa dimanfaatkan banyak orang. Kami ingin script kami bisa memberi manfaat untuk banyak orang. Itu saja sebenarnya kami sudah senang," pungkas Fatwa.