Ilustrasi bermain PUBG. (Foto: istimewa)

Ilustrasi bermain PUBG. (Foto: istimewa)



Riset Sederhana Mahasiswa Thailand  4

MALANGTIMES - Tatkala rombongan mahasiswa dari Walailak University menginjak kota Malang, mereka melihat banyak orang sedang bermain HP di sebuah restoran. Tak hanya itu. Mereka juga melihat orang-orang bermain PUBG (PlayerUnknown's Battlegrounds) di berbagai tempat.

Saat ini, PUBG memang sedang dimainkan oleh banyak orang di Indonesia. PUBG merupakan permainan tentang membunuh musuh dengan senjata, seperti senapan, bom, pisau, dan panah.

Sebelum masuk ke dalam perang, orang dapat memilih ingin bermain dengan siapa. Ada pilihan untuk bermain sendiri, dua orang, dan empat orang, atau tim. Juga dapat memilih peta untuk bermain. Bukan hanya pilihan bermain dan peta yang menyenangkan, melainkan juga kostum yang dipakai sangat menarik.

Cara bermain PUBG tidaklah sulit. Pertama, tekan tombol siap untuk naik pesawat, lalu masuk ke peta pertempuran, kemudian turun dengan parasut di tempat atau rumah.

Selanjutnya, mencari senjata yang bagus agar dapat membunuh musuh dengan lancar. Rahasianya adalah penyergapan dengan diam-diam dan bekerja sebagai tim. Tujuannya bertahan hingga akhir permainan. Jika dapat bertahan hingga akhir permainan, maka orang tersebut adalah pemenangnya.

PUBG diluncurkan secara resmi pada tanggal 20 Desember 2017. Ada pengembangan aplikasi dan dapat diunduh pada tahun 2018. PUBG begitu populer hingga tidak hanya laki-laki yang memainkannya, melainkan juga perempuan. Mereka rata-rata berumur 21-an tahun.

Nah, baru-baru ini ada  larangan terhadap PUBG dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut MUI, PUBG adalah permainan yang memiliki kekerasan dan menyebabkan orang lain menirunya.

Manchupa Waharuk alias Cinta, mahasiswi dari Walailak University, Thailand

Larangan ini muncul setelah adanya insiden penembakan yang terjadi di dua masjid di Christ Church, Selandia Baru. Pembunuh menembak kaum muslim. Sebanyak 50 orang meninggal dan banyak yang luka-luka.

Berita buruk ini membuat MUI tidak setuju dengan permainan PUBG karena pembunuh di Selandia Baru itu meniru pembunuhan dari game bergenre battleroyale. Salah satunya PUBG.

Majelis Ulama Indonesia berpendapat bahwa permainan PUBG menjadi hal bahaya bagi masyarakat Indonesia. MUI khawatir permainan PUBG membuat ganerasi muda Indonesia memiliki pikiran untuk meniru teroris, bahkan tertanam paham radikal teroris.

MUI tidak mendukung pemainan yang tidak fokus pada pendidikan. Untuk itu, MUI akan melakukan kajian mendalam mengenai PUBG. Informasi akan dikaji oleh Komisi Pengkajian kemudian akan dibawa ke Komisi Fatwa untuk pertimbangan.

Meskipun ada wacana larangan bermain PUBG, nyatanya masih banyak orang yang bermain PUBG. Seratus persen dari mereka tidak menyetujui larangan ini. Bahkan, 80 persen orang yang tidak bermain PUBG pun juga tidak setuju akan larangan ini.

Hal ini diungkap oleh Manchupa Waharuk, mahasiswa asal Walailak University jurusan ASEAN Studies yang mengikuti program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Malang, dalam penelitian sederhananya.

Orang yang bermain PUBG memiliki kisaran umur 20 – 29 tahun. Kira-kira mereka sudah bermain selama 5 bulan sampai 1 tahun sejak PUBG populer di tahun 2018. Mereka akan bermain setelah selesai bekerja, saat nongkrong, saat bosan dan saat tidak sibuk.

"Waktu yang dihabiskan mereka bermain PUBG kira-kira 30-40 menit untuk 1 pertandingan. Dalam sehari kira-kira mereka  
bermain selama 5 jam," ujar perempuan yang akrab disapa Cinta ini.

Efek negatif dari permainan PUBG adalah lebih sering melihat HP, tidak bicara dengan teman-teman, dan lupa cara bersosialisasi di kehidupan nyata. Mereka selalu melihat dan berbicara dalam game online.

Terlalu lama bermain PUBG membuat orang malas dan tidak melakukan aktivitas lain. Orang akan lupa makan, bermain terus sampai lupa istirahat.

"Selain itu, terlalu banyak bermain PUBG akan membuat mata capai dan bisa membuat pembuluh darah di mata pecah. Bermain PUBG juga dapat membuat orang emosi dan berbicara kosakata-kosakata kotor dan membuat ketagihan," bebernya.

Sementara itu, efek positif dari permainan PUBG yaitu dapat membuat hati menjadi senang, lebih tenang, santai, dan stres hilang.

Berdasarkan wawancara dengan 10 orang yang bermain PUBG, seluruhnya tidak setuju akan pengharaman ini.b"Menurut mereka. PUBG hanya permainan untuk bersenang-senang tidak ada kaitan tentang agama. Permainan itu sebagai hiburan saja ketika stres untuk mengabiskan waktu luang dan setelah berhenti bekerja," ungkap Cinta.

Menurut para pemain, permainan PUBG masih nomal alias tidak ada kekerasan yang berarti, bahkan masih banyak pemainan yang lebih parah dan kejam dari PUBG.

Sementara itu, dari 10 orang yang tidak bermain PUBG, hanya 2 orang yang setuju dengan MUI dan 8 orang tidak setuju. "Orang yang setuju dengan pendapat MUI mengatakan PUBG itu 'haram'," tandasnya.

"Di lain sisi, orang yang tidak bermain PUBG yang tidak setuju dengan pendapat MUI 
mengatakan permainan itu bukanlah hal yang haram untuk dimainkan. Itu hanya permainan saja dan cukup bagus untuk mengasah keterampilan," paparnya kemudian.

Tetapi, lanjut Cinta, barangkali harus ada batasan umur untuk orang yang bermain PUBG. Mengingat anak kecil juga banyak yang menyukai game ini.

Dikatakan Cinta, akan lebih baik jika permainan PUBG hanya bisa dimainkan oleh orang yang telah berusia 18 tahun ke atas. Sebab, mereka lebih banyak pengalaman sehingga tidak meniru adegan di permainan tersebut.

Permainan itu sendiri kata Cinta, hanya sekadar hiburan. Dan untuk berbicara haram atau tidaknya sesuatu butuh banyak pertimbangan. Menurut Cinta, PUBG merupakan pemainan yang menghibur di waktu luang, ketika stres, ketika selesai bekerja, atau selesai belajar. Jadi, ia tidak menyetujui wacana diharamkannya PUBG.

"Saya pribadi tidak setuju tentang haramnya PUBG menurut MUI. Hal itu bukan karena saya suka bermain PUBG, tetapi itu hanyalah permainan untuk bersenang-senang saja. Setelah saya berpikir, mencari informasi, mempelajari bahkan mencoba bermain, PUBG tidaklah haram. Karena dalam permainan PUBG, kekerasannya tidak kejam meski tidak bisa disangkal bahwa insiden penembakan yang terjadi di Christ Church, Selandia Baru, penembak meniru PUBG," ucapnya.

Menurut Cinta, semuanya bergantung pada diri masing-masing orang. Kalau ada kedewasaan dan sikap yang baik, orang tidak akan meniru perilaku yang tidak baik.

End of content

No more pages to load