Rektor UMM Dr Fauzan MPd. (Doc. MalangTIMES)
Rektor UMM Dr Fauzan MPd. (Doc. MalangTIMES)

MALANGTIMES - Beberapa waktu yang lalu, Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (FR PTNU) melayangkan surat yang ditujukan kepada menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud). Dalam surat tersebut, FR PTNU meminta penjelasan terkait sistem penunjukan pendidikan tinggi mitra.

Surat tersebut muncul setelah dirilisnya surat keputusan (SK) direktur jenderal guru dan tenaga kependidikan (dirjen GTK) Kemendikbud  tentang penetapan lembaga penyelenggara diklat (LPD) kepala sekolah yang dikuasai  perguruan tinggi Muhammadiyah.

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (PP LP Ma’arif NU) KH Drs Z. Arifin Junaidi MM sudah menyampaikan protes kepada Mendikbud Muhadjir Effendy. Arifin meminta SK dirjen GTK tersebut ditinjau kembali.

Akhirnya, Arifin diminta dirjen GTK untuk mengusulkan lima perguruan tinggi yang dinilai layak. Lima perguruan tinggi tersebut antara lain Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (Unipdu) Jombang, Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama (Umnu) Kebumen. Pada  20 Mei nanti, lima perguruan tinggi di baeah NU tersebut akan diundang dirjen GTK ke Jakarta untuk membicarakan masalah ini.

Nah, salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang dipilih dirjen GTK adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lantas, bagaimana jika UMM nantinya tergeser oleh perguruan tinggi usulan NU tersebut?

Kepada MalangTIMES, Rektor UMM Dr Fauzan MPd menyatakan itu bukanlah suatu masalah. Dia yakin UMM punya kualitas yang dibutuhkan oleh Kemendikbud.

"Bukan masalah. Persoalannya itu bukan begitu. Tetapi kalau pendekatannya kualitatif, kok saya yakin karena kami sudah dipercaya (oleh Kemendikbud) sejak 2008 sampai dengan sekarang," ujarnya saat ditemui di UMM, Sabtu (18/5).

Fauzan pun menyatakan bahwa usulan perguruan tinggi NU merupakan hak mereka. Hanya, Fauzan menegaskan, UMM sudah mengikuti mekanisme dan sebelumnya selalu memberikan output yang bagus. Kualitas penyelenggaraan yang selama ini dilakukan juga tidak pernah menyalahi ketentuan. "Dari situlah saya kira, di samping juga dianggap berkualitas, output-nya bagus," imbuhnya.

Menurut Fauzan, UMM telah dipercaya kementerian untuk menyelenggarakan pelatihan sertifikasi-sertifikasi. Sejak 2008, UMM dipercaya oleh Kemendikbud untuk menyelenggarakan sertifikasi dosen.

"Itu sejak 2008, sehingga sampai dengan saat ini banyak skema sertifikasi yang diterima oleh UMM karena memang pemberian amanat itu juga diawali dengan adanya evaluasi," ungkapnya.

Untuk pelatihan sertifikasi 2008  sendiri, juga tidak semua perguruan tinggi yang memperoleh. Ada kualifikasi-kualifikasi tertentu.

"Dan kalau menurut saya, ini pun juga tidak setelah ini selesai begitu saja. Itu nanti berproses penyelenggaraan itu. Nanti akan berkembang lagi perguruan tinggi mana, perguruan tinggi mana, dan itu karakteristik kebijakan pemerintah. Begitu," ujar Fauzan.

Untuk itu, Fauzan menganggap bukan pada wilayahnya untuk berpendapat jika memang keputusan dirjen dirasa tidak adil. "Saya tidak masuk pada wilayah itu. Tetapi yang saya tahu, ada semacam kebijakan yang tidak hanya sekali. Dulu UMM menyelenggarakan sertifikasi. Sebelum itu, UMM itu bergabung dengan perguruan tinggi mitranya UM (Universitas Negeri Malang). Kemudian memperoleh hak untuk menyelenggarakan sendiri," bebernya. Meski begitu, lanjut Fauzan, UMM juga harus memiliki perguruan tinggi-perguruan tinggi mitra.

Perlu diketahui, lembaga penyelenggara diklat (LPD) yang ditetapkan oleh dirjen GTK sejumlah 14 instansi. Sebanyak 13 instansi adalah perguruan tinggi Muhammadiyah.

Ke-14 instansi tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Prof Dr HAMKA Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Medan, Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Mataram, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Gresik, dan Universitas Pamulang.