Tim Perancang MSIPPRO. (Foto: istimewa)

Tim Perancang MSIPPRO. (Foto: istimewa)



MALANGTIMES - Budidaya udang yang pesat menjadi tumpuan utama kehidupan lebih dari 6 juta penduduk di wilayah pesisir Indonesia. Namun, pembudidaya udang dihantui oleh penyakit WFD (White Faeces Diseases) atau penyakit kotoran putih yang membuat produksi udang turun.

Penyakit WFD ini menyebabkan nafsu makan udang menurun, plankton drop dan pakan banyak tersisa. Lalu terlihat kotoran putih mengambang di petakan tambak budidaya.

Penyakit WFD disebabkan kurang bijaknya pelaku pembudidaya udang dalam mencapai pertumbuhan udang sesuai target sehingga pemberian pakan dilakukan berlebihan. Tentu berlebihnya pakan menyebabkan tingginya bahan organik di perairan sehingga memicu pesatnya berbagai sumber penyakit untuk tumbuh.

Infeksi WFD cenderung sulit disembuhkan karena terlambat identifikasi gejalanya. Kondisi yang sering ditemukan di lapangan biasanya kondisi yang sudah parah, antara lain munculnya kotoran putih panjang mengambang di permukaan air; dijumpai nafsu makan udang turun drastis atau bahkan hilang selera makan (mogok makan); udang mulai keropos (soft shell), red body, size variasi meningkat; serta dijumpai mulai ada kematian.

Atas dasar itu, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) yang terdiri atas Annurfitri Febrianti, Zahrotul Firdaus, dan Muhammad Awaludin menciptakan alat bernama MSIPPRO (Monitoring System with Integrated  Parameter Program).

MSIPPRO berguna untuk mengukur kualitas air dengan menggunakan dua parameter, yakni Ph dan suhu untuk mencegah penyakit WFD tersebut.

"Kualitas air yang buruk akan memicu WFD, MSIPPRO merupakan solusi dalam membantu pencegahan penyakit WFD pada tambak tersebut," ujar Fitri.

MSIPPRO terdiri atas aplikasi yang terkoneksi dengan smartphone pemilik yang disertai dengan sensor, turbin, dan pompa air yang diletakkan di kolam tambak.

Cara kerja MSIPPRO melalui sensor dan akan terhubung pada aplikasi smartphone yang berfungsi merecord perubahan Ph dan suhu berupa grafik dan angka secara real time per detik sehingga fluktuasi kualitas air perdetik dapat terdeteksi melalui notifikasi aplikasi yang selanjutnya dilakukan penanganan oleh pemilik tambak.

"MSIPPRO dapat diterapkan pada semua jenis tambak tergantung setting pengkodingan sensor yang berbeda. Pada umumnya menggunakan nilai optimum  sekitar 28-30˚C. Perawatannya setiap 3 hari sekali sensor harus dikalibrasi dan dibersihkan," jelas Fitri.

Untuk diketahui, MSIPPRO telah memiliki draft paten dan lolos inovasi PKM Dikti hingga ke ajang PIMNAS 2018. Di bawah bimbingan Muhammad Fakhri SPi MP selaku dosen Biokimia Budidaya Perairan FPIK UB, MSIPPRO telah melalui serangkaian riset dan penerapan pada tambak udang vaname Desa Wedoro, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan. Ke depan, Fitri dan tim merencakan komersialisasi produk MSIPPRO dengan dana investor dan juga dengan mengikuti program BIW (Badan Inkubator Wirausaha).

Beberapa waktu yang lalu, tim ini menyabet 1st Place kategori waste water treatment di ajang The International Biotechnology Competition and Exhibition (IBCEx) 2019  yang diselenggarakan oleh Bioprocess Engineering Students Society from Faculty of Chemical and Energy Engineering (FCEE)  dan diikuti 114 peserta dari berbagai negara yang bertempat di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada (5-6 April 2019).

 

End of content

No more pages to load