Masjid Jami' Daarul Muttaqiin di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Masjid Jami' Daarul Muttaqiin di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berbeda dengan masjid-masjid yang lain, Masjid Jami' Daarul Muttaqiin hadir di tengah-tengah masyarakat di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji dengan gaya arsitektur yang unik. Uniknya bangunan masjid ini memadukan kultur antara dua tokoh. Dua tokoh yang diangkat itu yakni Sunan Kalijaga dan Cheng Ho. Perpaduan dua tokoh Islam itu dipilih karena memiliki jasa dalam perkembangan Islam di Indonesia.

Karena sosok Sunan Kalijogo seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Dan Cheng Ho adalah seorang muslim keturunan Tionghoa.

Struktur bangunan itu terdiri dari menara setinggi 17 meter, diartikan rakaat salat dalam satu hari. Menara ini memiliki lima tingkat mengartikan salah lima waktu.

Lalu terdiri dari lubang angin di depan masjid yang memiliki 6 lubang, yang diasumsikan dengan rukun iman. Dan di area samping masjid ada 5 lubang diartikan rukun Islam. "Selain itu, bangunan masjid ini memiliki tiga tingkat memiliki makna perjalanan manusia di alam semesta. Dari alam kandungan, alam dunia, dan alam barzah," kata ketua Takmir Masjid Warnan Tarnidi.

Jika dilihat kultur Sunan Kalijaga dilihat dari bangunan masjidnya. Sedangkan menaranya terinsipirasi bangunan Cheng Ho. Masjid ini dibangun pada tahun 1957 silam. Namun bangunannya sudah beberapa kali dilakukan renovasi. 

Renovasi sudah dilakukan sudah tiga kali. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1968. Lalu ke dua tahun 1984. "Dan yang terakhir itu tahun 2014 lalu. Bangunan ini memiliki luas 320 meter," ungkapnya. 

Ia menambahkan sejak dilakukan renovasi tiga kali telah mengalami banyak perubahan total. Akan tetapi setiap perubahannya tidak pernah melupakan filosofi dan sejarahnya.

"Meskipun renovasi dilakukan sebanyak tiga kali memang telah banyak perubahan. Tapi tetap terilhami dari bangunan tempat ibadah masa Sunan Kalijaga dan Cheng Ho. Karena memiliki arti dan makna yang mendalam, sehingga saat dilakukan renovasi pun tidak sembarangan," tutup Warnan.