MALANGTIMES - Ingin mendaki ke puncak Gunung Arjuna tetapi memilih jalur yang nyaman dan landai? Anda bisa melintasi jalur pendakian di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Sebelumnya jalur yang umum untuk dilewati yakni jalur pendakian lewat Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang yang dirasa lebih menanjak. Sedangkan lewat Desa Sumbergondo bisa memudahkan bagi pendaki, khususnya yang pemula.
Baca Juga : Curhat Pelaku Pariwisata ke Menteri Pariwisata Wishnutama, Seperti Apa ?
Lalu, apa kelebihan dari jalur pendakian di desa ini? Bagan, salah satu warga Desa Sumbergondo, mengatakan, kelebihannya jalur Desa Sumbergondo lebih landai dan tidak terlalu menanjak. Terutama dari start keberangkatan sampai pos 2.
Selin itu, jalur ini banyak menyuguhkan pemandangan pertanian warga sekitar. Lalu jalur ini cocok untuk pendaki yang memiliki waktu banyak karena lebih membutuhkan waktu tambahan 2 jam untuk sampai ke puncak.
“Untuk melintasi jalur ini, perjalanannya kurang lebih membutuhkan waktu 10 sampai 12 jam sih sampai puncak,” kata Bagan.
Lalu saat melewati pos 3 akan menemui hamparan bunga edelweis. "Di pos tiga ini ada tanaman endemik yang dijumpai pendaki dari jalur ini. Juga bisa melihat pemandangan lainnya," imbuhnya.
Karena itu jalur ini banyak diminati pendaki, khususnya pendaki dari daerah Jawa Timur. Akan tetapi Jalur ini memang masih belum banyak diketahui oleh pendaki.
Hanya saja jalur pendakian ini masih belum diresmikan. Meski belum diresmikan, jalur pendakian ini sudah memenuhi syarat yang ditentukan Tahura.
Baca Juga : Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan di Kota Batu Diperpanjang sampai 21 April
“Persyaratannya adalah jalur evakuasi, jarak tempuh, dan keamanan. Karena itu, berharap secepatnya bisa diresmikan. Sebab melalui ini warga juga bisa mengenalkan wisata desa Sumbergondo serta Kota Batu,” harap Bagan.
Bagi kalian yang ingin menjajal jalur ini, pendaki tetap harus melalui beberapa prosedur. Yakni perwakilan dari ketua rombongan yang harus mendaftarkan rombongannya kepada Taman Hutan Raya (Tahura) dan Perhutani melalui warga.
“Agar tetap terdata siapa saja pendaki yang melalui jalur ini. Jadi saat ada kejadian sesuatu, warga desa juga siap menolong dan membantu pendaki,” tutupnya.
