Mbah Rasimun, pengrajin Payung kertas terakhir di Kota Malang
Mbah Rasimun, pengrajin Payung kertas terakhir di Kota Malang

MALANGTIMES - Di musim hujan, banyak orang yang menggunakan payung untuk bepergian agar terhindar dari guyuran air hujan. Berbagai jenis payung pun dibuat dan dipasarkan di Indonesia. Namun apa jadinya bila payung tersebut  terbuat dari kertas?

Adalah Mbak Rasimun yang membuatnya di Kota Malang. Pengrajin payung yang tinggal di kampung Lowokpadas, Pandanwangi atau jalan Laksamana Adi Sucipto gang Taruna 3 ini membuat payung yang tak biasa.

Payung yang dibuatnya berbeda dengan payung pada umumnya. Sebab, ia membuat payung mutho yang merupakan payung kuno yang saat ini sudah jarang dibuat.

Mbah Rasimun mengaku sudah membuat payung mutho tersebut sejak tahun 1945. Ia mengaku pernah mendapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya.

Dulunya payung kertas ini dibuatnya bersama teman - temannya. Namun di usianya yang sudah ke-94 tahun ini, pengrajin payung kertas hanya tinggal dia seorang. Hal tersebut ia tuturkan saat di datangi MalangTIMES pada Kamis (21/2/2019) di rumahnya.

"Dulu banyak yang membuat payung mutho di Malang, ya di sini, saya dengan teman - teman saya, tapi sudah banyak yang meninggal, hanya saya yang tersisa," ujar Mbah Rasimun.

Ia mengaku payung kertas tersebut ia buat seorang diri mulai dari proses awal dari bahan mentah hingga finishing proses pelukisan.

"Karayawan saya hanya 2, tangan kanan dan tangan kiri saya," lanjutnya.

Seperti yang ia katakan, payung mutho buatannya tersebut saat ini sudah memiliki fungsi tambahan selain sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari. Payung buatannya tersebut saat ini sudah banyak digunakan sebagai hiasan dekorasi dan pernak pernik oleh - oleh dari Kota Malang serta untuk properti tarian.

"Dulu cuma dipakai payungan saja, sekarang sudah banyak digunakan untuk hiasan dan oleh - oleh sama properti menari," kata mbah Rasimun.

Kemudian, ia membuat payung kertas tersebut dengan 2 ukuran, ukuran tanggung dan ukuran kecil. Dulu ia juga membuat payung berukuran besar, namun karena usianya yang sudah lanjut, saat ini ia sudah tidak membuat lagi payung berukuran besar tersebut. Dan semuanya ia buat secara manual tanpa mesin.

"Dulu pernah buat yang ukuran besar, semacam payung umumnya, tapi sekarang tenaganya sudah tidak mampu lagi, harus pakai mesin," lanjutnya.

Dalam sebulan, ia bisa membuat 100 biji payung mutho tersebut. Jumlah produksi tersebut dikarenakan proses yang panjang dan rumit. Untuk payung ukuran tanggung dibandrol harga Rp 50 ribu, dan untuk yang kecil dibandrol Rp 25 ribu. Payung ini juga sudah sampai di manca negara, seperti Prancis, India, Inggris dan Belanda, yang dibel langsung oleh turis dari negara tersebut sebagai oleh - oleh dari Indonesia.

Memang tak mudah membuat payung tersebut, seperti yang dikatakan Mbah Rasimun, ada 62 proses yang harus dilakukan dalam pembuatan payung kertas tersebut. Untuk proses finishing yang berupa lukisan yang ada di payung, semuanya ia buat secara otodidak dan gambar yang ia buat tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.