MALANGTIMES - Di Kelurahan Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, terdapat sentra industri kerajinan rotan yang sangat terkenal. Industri kerajinan rotan asal Kota Malang ini memang terkenal akan kualitasnya yang sangat bagus.
pembuatan kerangka kursi rotan (foto Luqmanul Hakim)Seperti usaha kerajinan rotan milik Imam Budiono yang bernama Tiban Jaya. Ia sudah menjual kerajinan rotan berupa furniture hingga keseluruh pelosok negeri. Usahanya yang dijalankan juga oleh anaknya Noer Sulistiyo Firmansha terus mengalami peningkatan pesanan.
Mengawali tahun 2019, pesanan yang datang meningkat sebanyak 20 persen dibandingkan dengan awal tahun 2018.
pembuatan kursi dari rotan (foto Luqmanul Hakim)"Pertumbuhan orderan setiap tahun merangkak naik, tahun ini kurang lebih sekitar 20 persen naiknya dibanding 2018 awal," ujar Noer
Bahan dasar rotan yang digunaman, Noer dapatkan langsung dari Kalimantan dan Sulawesi yang kemudian dioven di daerah Gresik dan Surabaya sebelum dikirim ke Malang. Hal ini dikarenakan dua pulau tersebut merupakan bagian dari pulau penghasil rotan terbesar di Indonesia.
pembuatan kerangka penyekat (foto Luqmanul Hakim)Untuk terus meningkatkan pemasarannya, ia menggunakan media online seperti instagram dan website. Pasalnya, dengan menggunakan media pemasaran tersebut ia bisa menjangkau berbagai pelosok nusantara untuk memasarkan hasil kerajinannya.
Tak hanya furniture saja, Noer juga membuat sekat ruangan dari bahan rotan. Selain itu, di tempat usahanya itu juga membuat kerajinan lain seperti tempat tisu, lampion rotan, lemari, meja makan, dipan, dan lain sebagainya. Namun, ia lebih memfokuskan pada pembuatan sekat dan kursi karena keuntungan yang didapatkan cukup besar.
proses penganyaman penyekat rotan (foto Luqmanul Hakim)"Di sini fokus produksinya kursi sama penyekat, soalnya kalo yang kecil seperti lampion, tempat tisu gitu keuntungannya kecil," ujar Noer.
Meskipun demikian ia tetap memproduksinya ketika ada pesanan dari konsumen.
Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19
Namun, jumlah pengrajin rotan di sentra ini yang masih berjalan hanya sekitar empat orang. Hal tersebut dijelaskan oleh Noer bahwa penyebab pengrajin rotan gulung tikar adalah kalah di pasaran karena masih menggunakan model pemasaran konvensional dan modal yang cukup besar membuat para pengrajin harus gulung tikar.
kerajinan rotan lainnya hasil produksi pengrajin rotan Tiban Jaya (foto Luqmanul Hakim)"Pasarnya yang udah beda, pemain lama kan menjualnya masih konvensional, penerusnya ga ada yang bisa online, kalah pasar sama kalah modal," ujar Noer.
Harganya sendiri, hasil kerajinan rotan tersebut dibandrol dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
