JATIMTIMES - Masalah kesehatan mental di Indonesia kini menjadi sorotan serius. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan sekitar 28 juta orang menunjukkan gejala depresi dan kecemasan berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis sepanjang 2025. Angka ini menggambarkan besarnya tantangan kesehatan mental yang sedang dihadapi masyarakat. Namun, pakar kesehatan jiwa mengingatkan agar data tersebut tidak disalahartikan.
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menjelaskan bahwa angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Menurutnya, gejala depresi dan kecemasan tidak selalu berarti seseorang telah didiagnosis mengalami gangguan jiwa secara klinis.
Baca Juga : Berikut Hasil Pemetaan Daerah Rawan Kecelakaan hingga Bencana di Malang Jelang Ramadan
“Angka ini sangat bergantung pada definisi masalah kejiwaan yang digunakan, apakah berupa gejala atau diagnosis gangguan mental, serta dari periode data tersebut diambil,” jelasnya dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (27/1/2026)..
Meski begitu, tingginya jumlah masyarakat dengan gejala psikologis tetap menunjukkan bahwa kesehatan mental adalah isu besar yang membutuhkan perhatian bersama.
Kelompok Masyarakat yang Paling Rentan Alami Depresi
dr. Riati menyebutkan ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.
1. Anak dan Remaja
Kelompok usia ini masih dalam tahap perkembangan emosi dan pencarian jati diri. Mereka rentan menghadapi tekanan akademik, masalah pergaulan, perundungan (bullying), hingga pengaruh media sosial yang dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi.
2. Usia Produktif dan Pekerja
Orang dewasa yang berada di usia kerja kerap menghadapi tekanan dari berbagai sisi, seperti beban kerja, target perusahaan, persaingan, hingga tanggung jawab ekonomi keluarga. Kombinasi tekanan ini dapat memicu kelelahan mental dan gangguan suasana hati.
3. Perempuan
Perempuan dinilai memiliki risiko lebih tinggi karena faktor biologis seperti perubahan hormon, serta peran ganda di rumah dan tempat kerja. Selain itu, tekanan relasi dan risiko kekerasan psikologis juga turut memengaruhi kesehatan mental.
4. Masyarakat Perkotaan
Hidup di kota besar sering kali identik dengan ritme cepat, kompetisi tinggi, biaya hidup mahal, dan hubungan sosial yang cenderung individual. Kondisi ini membuat banyak orang mudah mengalami stres berkepanjangan.
5. Lansia
Kelompok lanjut usia juga tidak luput dari risiko. Penurunan kondisi fisik, kehilangan pasangan, pensiun, hingga rasa kesepian dapat memicu masalah emosional yang berujung pada depresi.
6. Masyarakat dengan Akses Layanan Terbatas
Stigma terhadap gangguan jiwa masih tinggi. Banyak orang enggan mencari bantuan profesional karena takut dihakimi. Ditambah lagi, akses layanan kesehatan mental belum merata di seluruh wilayah.
Penyebab Gangguan Mental Tidak Tunggal
Menurut dr. Riati, gangguan jiwa bersifat multifaktorial. Artinya, kondisi ini muncul akibat interaksi berbagai faktor:
• Faktor biologis
• Faktor psikologis
• Faktor sosial
• Faktor spiritual
Ketika keseimbangan di antara faktor-faktor tersebut terganggu, risiko gangguan mental meningkat.
Pentingnya Pencegahan dan Dukungan Lingkungan
Penanganan masalah kesehatan mental tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Diperlukan peran bersama, mulai dari individu, keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga pemerintah.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
• Menjaga pola hidup sehat dan mengelola stres
• Membangun komunikasi terbuka di keluarga
• Menciptakan lingkungan sekolah dan kerja yang bebas perundungan
• Mengurangi stigma terhadap gangguan jiwa
• Memperluas akses layanan kesehatan mental
Masyarakat juga diimbau untuk lebih peka mengenali tanda awal masalah mental, seperti perubahan suasana hati drastis, sulit tidur, kehilangan minat, atau merasa putus asa berkepanjangan.
Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tidak ada yang perlu merasa malu atau takut mencari pertolongan.
Baca Juga : Bandara Soetta Perketat Penumpang dari Luar Negeri Gegara Virus Nipah Merebak di Asia
Lingkungan yang saling mendukung, tidak menghakimi, dan peduli dapat menjadi pelindung utama dari masalah kesehatan mental. Dengan kesadaran bersama, jutaan orang yang mengalami gejala depresi dan kecemasan bisa mendapatkan bantuan lebih dini sebelum kondisinya memburuk.
