Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Syekh Quro Karawang: Pelopor Dakwah Islam Sebelum Wali Songo

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

29 - Aug - 2025, 10:27

Placeholder
Ilustrasi realis: Syekh Quro ulama penyebar Islam di tanah Jawa sebelum era Wali Songo. (Foto: AI created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dari pesisir timur laut Karawang, sebuah kisah sunyi merambat di antara jalur rempah, syair Qur’an, dan percaturan maritim Nusantara awal abad ke-15. Di sanalah nama Syekh Hasanuddin, yang lebih masyhur sebagai Syekh Quro, tercatat sebagai pelopor dakwah Islam di Tatar Sunda, jauh sebelum nama-nama agung Wali Songo di Jawa pesisir utara dikenal luas. Makamnya di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, masih diziarahi hingga kini. Jejak sakral itu menandai betapa Karawang, bandar kecil di pesisir utara, pernah menjadi tapak mula bentangan syiar Islam yang menembus kekuasaan Pajajaran.

Dalam narasi lokal dan serpihan naskah historiografi semisal Nagarakretabhumi serta Babad Cirebon, Syekh Quro dikenang bukan sekadar sebagai ahli membaca Qur’an atau quro, melainkan sebagai pembuka jalan bagi terbentuknya jaringan ulama, pesantren, dan jalur dakwah lintas pelabuhan. Ia menyeberangi waktu dengan kisah yang lekat pada geopolitik Pajajaran, jalur armada Laksamana Cheng Ho, dan silsilah bangsawan yang kelak menurunkan garis raja-raja Islam pertama di Jawa. Membaca jejak Syekh Quro berarti membaca simpul sejarah yang merangkai ideologi, spiritualitas, hingga percikan perlawanan rakyat di Tatar Sunda abad ke-15.

Karawang di Ujung Jalur Rempah

Baca Juga : Amalan Mustajab Setelah Salat Jumat, Dijaga Allah hingga Jumat Berikutnya

Pada awal abad ke-15, Karawang bukan sekadar hamparan sawah nan luas sebagaimana lazim kita saksikan kini. Peta dagang menunjukkan Karawang sebagai bandar strategis Kerajaan Pajajaran. Ia menjadi simpul jalur perniagaan yang menghubungkan ibukota Pakuan Pajajaran ke pelabuhan Sunda Kelapa, menembus jalur darat Cileungsi–Warunggede–Tanjungpura–Cikao hingga Sagalaherang, Sumedang, dan Kawali di Galuh Pakuan.

Jalur Karawang bukan hanya menjadi urat nadi ekonomi, tetapi juga pintu masuk arus ideologi dan kepercayaan baru. Di sinilah peran Syekh Hasanuddin menemukan konteksnya, hadir di antara pelabuhan, menara suar, dan persimpangan budaya Hindu Pajajaran yang mapan dengan benih Islam yang mulai menampakkan pengaruhnya.

Syekh Quro: Ulama dari Negeri Champa

Naskah Nagarakretabhumi Sarga III–IV menyebut Syekh Hasanuddin sebagai putra Syekh Yusuf Siddik dari Negeri Champa. Ia tiba di Jawa mengikuti rombongan armada Cina di bawah panglima besar Wai Ping dan laksamana agung Te Ho, yang kemudian dikenal sebagai Cheng Ho. Fakta ini menegaskan betapa penyebaran Islam di pesisir Jawa erat kaitannya dengan jejaring perdagangan dan ekspedisi maritim Tiongkok Muslim. Champa sendiri, wilayah yang kini menjadi bagian Vietnam Tengah, kala itu merupakan salah satu kantong komunitas Muslim Asia Tenggara yang aktif menjalin hubungan dagang lintas samudra.

Dalam narasi lokal, armada Cheng Ho memang tercatat beberapa kali singgah di Bandar Muara Jati, Cirebon. Di sana, Sahbandar Ki Gedeng Tapa menjadi mitra diplomasi. Namun tak banyak yang tahu, sebelum jejak armada itu termaktub di Muara Jati, sebagian pengikutnya menurunkan ulama-ulama yang menetap di pelabuhan lain. Syekh Hasanuddin adalah salah satunya, turun dan bermukim di Karawang. Pilihan itu bukan kebetulan belaka: Karawang menjadi penghubung jalur laut Pajajaran dengan hinterland Galuh Pakuan. Pelabuhan Tanjungpura kala itu hidup sebagai pusat transit lada, beras, rotan, dan hasil hutan yang diangkut melalui sungai.

Mendirikan Pesantren di Tanjungpura

Syekh Quro

Tahun 1417 M tercatat sebagai masa singgah kelima Cheng Ho di Nusantara. Setahun berselang, Syekh Hasanuddin mendirikan pesantren di Tanjungpura. Tokoh-tokoh tua di Karawang masih menyebut pesantren pertama ini sebagai cikal bakal jaringan pengajian pesisir. Metode dakwah Syekh Hasanuddin sederhana tetapi meresap, yakni menyampaikan ajaran Islam dengan uraian yang mudah dipahami serta didukung keindahan suaranya saat melantunkan Qur’an. Dari sanalah, ia dijuluki Syekh Quro, sang pembaca Qur’an.

Nyi Retna Parwati, bangsawan Karawang, menjadi istri Syekh Hasanuddin. Perkawinan ini bukan hanya ikatan personal, tetapi juga jembatan sosial yang menautkan Islam dengan struktur kuasa lokal. Di titik inilah benih transformasi ideologi mulai menggoyahkan dominasi Hindu Pajajaran. Tak sedikit rakyat jelata, pelaut, dan pedagang di Karawang mulai menanggalkan keyakinan lamanya, menautkan diri pada pesantren Tanjungpura.

Konflik Ideologi: Ketegangan dengan Pajajaran

Dalam kacamata Kerajaan Pajajaran, geliat dakwah Syekh Hasanuddin segera dianggap ancaman. Prabu Anggalarang, penguasa Pajajaran kala itu, memandang pesantren Tanjungpura sebagai pusat diseminasi ajaran yang dapat merusak tatanan spiritual kerajaan. Permintaan untuk menghentikan dakwah menjadi penanda betapa sensitifnya Pajajaran pada ideologi baru yang berpotensi menumbuhkan jaringan sosial di luar kendali istana.

Syekh Hasanuddin memilih menyingkir ke Malaka setelah diusir. Namun sebelum berangkat, ia mampir ke Muara Jati di Cirebon untuk berpamitan kepada Ki Gedeng Tapa, sahbandar setempat. Dalam narasi Carita Purwaka Caruban Nagari, momen ini krusial karena Ki Gedeng Tapa mempercayakan putrinya, Nyi Subanglarang, kepada Syekh Hasanuddin untuk dididik dalam agama Islam di Malaka. Perginya Syekh Hasanuddin ke Malaka membuka babak baru: pelatihan kader dakwah melalui jalur maritim Asia Tenggara.

Kembali ke Karawang: Dakwah yang Bersemi Kembali

Syekh Quro

Tidak lama menetap di Malaka, Syekh Hasanuddin kembali ke Karawang. Kali ini, ia mendirikan langgar (mushola) dekat pelabuhan. Mushola itu segera berkembang menjadi pesantren baru. Seolah tak jera, ia merintis kembali pengajian Qur’an, mengajarkan tauhid, fiqih dasar, dan adab Islam pada penduduk Tanjungpura. Sambutan masyarakat setempat tetap meriah, menandakan bahwa benih spiritualitas Islam telah menemukan tanah subur di jantung jalur Pajajaran.

Kabar tentang kembalinya Syekh Hasanuddin ke Karawang membuat Prabu Anggalarang gusar. Pengusiran sebelumnya gagal memadamkan pengaruh Syekh Quro. Kali ini, sang raja mengirim putera mahkota, Raden Pamanah Rasa, untuk menutup pesantren dan membubarkan murid-muridnya.

Subanglarang: Perkawinan Strategis yang Membalik Takdir

Baca Juga : MANAF 2025: Nasyid Nusantara Malang Hidupkan Kembali Spirit Bernasyid Lewat Konser dan Workshop

Namun sejarah selalu memelihara ironi. Alih-alih membumihanguskan pesantren, Raden Pamanah Rasa justru terpikat pada keindahan suara Qur’an yang dilantunkan Nyi Subanglarang. Anak sahbandar Muara Jati ini dikenal sebagai murid kesayangan Syekh Hasanuddin, seorang perempuan bangsawan pelabuhan yang cerdas, fasih membaca Qur’an, dan teguh dalam keyakinannya.

Kisah ini menandai momen persimpangan sejarah. Raden Pamanah Rasa mempersunting Nyi Subanglarang. Pernikahan ini tidak sekadar pernikahan cinta, tetapi juga simbol kompromi kuasa antara Pajajaran dan gerakan Islam pesisir. Lewat Subanglarang pula, garis keturunan dakwah Syekh Quro merembet ke Cirebon dan Gunung Jati.

Jaringan Dakwah: Dari Karawang ke Cirebon dan Gresik

Historiografi Cirebon lebih banyak menyorot kiprah murid-murid Syekh Hasanuddin. Carita Purwaka Caruban Nagari dan Babad Cerbon mencatat kisah Pangeran Walangsungsang, Nyi Lara Santang, dan Kian Santang, anak-anak Subanglarang, sebagai pembawa obor dakwah Islam yang menembus Pakuan Pajajaran hingga pesisir Cirebon. Jalur ini kelak berujung pada Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo paling berpengaruh.

Nagarakretabhumi juga membuka simpul genealogi lain. Disebutkan Syekh Hasanuddin memiliki putera bernama Syekh Bentong, yang menikah dengan seorang muslimah Cina bernama Siu The Yo. Syekh Bentong dikenal sebagai saudagar kaya raya di Gresik, pelabuhan dagang penting di jalur utara Jawa. Puteri Syekh Bentong, Nay Retna Siu Ban Ci, diperisteri Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, dan menurunkan Raden Patah, Sultan Demak pertama.

Apabila naskah ini valid, Syekh Quro Karawang adalah kakek buyut Raden Patah dari jalur ibu. Maka jaringan spiritual, darah bangsawan, dan urat dagang bercampur menjadi jalinan genealogis Islam Jawa: dari Karawang, Muara Jati, Gresik, hingga Demak.

Raden patah

Ideologi, Spiritualitas, dan Dendam Sejarah

Garis perlawanan Syekh Quro terhadap hegemoni Pajajaran bukan sekadar sengketa ajaran agama, tetapi pergeseran ideologi. Islam hadir di jalur pelabuhan, mendobrak tatanan Hindu-Buddha yang menempel di kerajaan agraris. Melalui pesantren, mushalla, dan jaringan pernikahan, dakwah menanam benih resistensi yang kelak meledak di kemudian hari.

Nyi Subanglarang dan keturunannya, misalnya, tidak sekadar murid. Mereka menjadi simbol infiltrasi gagasan Islam ke lingkar dalam istana Pajajaran. Dari perkawinan Raden Pamanah Rasa dengan Subanglarang lahir Walangsungsang, cikal bakal Cirebon sebagai pusat dakwah. Dari putera Syekh Bentong lahir Sultan Demak, yang dengan identitas Muslimnya menumbangkan Majapahit. Benih Syekh Quro memanjang, menciptakan jalur dendam sejarah dari pelabuhan Karawang ke pesisir Demak, lalu melahirkan gelombang Islamisasi Jawa yang tak terbendung.

Makam Sunyi di Pulobata

Hari ini, makam Syekh Quro di Dusun Pulobata masih menjadi salah satu titik ziarah penting di Karawang. Kompleks makam yang sederhana tetap ramai dikunjungi. Di antara nisan-nisan tua, tersisa nyanyian sunyi orang-orang yang mendamba barakah sang ahli Qur’an. Dari sana, kita mendengar gema suara Syekh Quro: lantang di antara hempasan sejarah Pajajaran, armada Cheng Ho, dan denting azan yang tak lagi mampu dibungkam.

Ia bukan sekadar nama di batu nisan, melainkan simpul dari jaringan spiritual, jalur perdagangan, genealogis bangsawan, dan ideologi Islam yang menjebol tembok kejumudan Tatar Sunda. Dalam narasi sejarah, Syekh Quro pantas ditempatkan di garda terdepan penyebaran Islam di Jawa Barat — jauh sebelum nama-nama agung Wali Songo menaklukkan Demak, Gresik, dan Cirebon.

Syekh Quro Karawang bukan sekadar legenda, melainkan jembatan peradaban. Di antara gemuruh gelombang Karawang dan lantunan ayat suci, ia menyalakan lentera dakwah, mendirikan pondasi pesantren, dan meninggalkan jejak sejarah yang kelak menjelma menjadi gerakan rakyat. Bagi mereka yang masih datang menabur bunga di Pulobata, kisah Syekh Quro adalah pengingat: dakwah kerap lahir di tepi pelabuhan, di simpul jalur dagang, di ruang tempat suara merdu Qur’an pernah menembus tirai istana Pajajaran.


Topik

Ruang Sastra Syekh Quro Karawang wali songo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri