Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Khutbah Jumat 1 Agustus: Menepis Anggapan Safar Bulan Sial 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

01 - Aug - 2025, 08:42

Placeholder
Tulisan bulan Safar dalam bahasa Arab. (Foto: laman Gading Pesantren id)

JATIMTIMES - Jumat, 1 Agustus 2025 bertepatan dengan 7 Safar 1447 H. Dalam khutbah Jumat kali ini, tema yang dibahas adalah menepis anggapan seputar bulan Safar yang kerap disebut sial atau membawa kesialan.

Jemaah diajak untuk memahami bahwa Safar bukanlah bulan yang merugikan. Sebaliknya, sebagai bagian dari kalender Islam, Safar memiliki nilai netral, dan keutamaannya bisa diraih dengan memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitas amal.

Khutbah I

Baca Juga : Waktu Mustajab Dikabulkannya Doa Tiap Hari Jumat Kapan? Ini Penjelasannya

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى خَاتَمِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ  فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sebelum kita melanjutkan khutbah ini, izinkan khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah sekalian untuk terus memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 

Marilah kita berupaya menjaganya kapan saja dan di mana saja, dalam keadaan lapang maupun sempit, serta dalam situasi apa pun. Caranya, tentu dengan menunaikan seluruh perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Saat ini kita telah berada di bulan Safar. Dalam bahasa Arab, "Safar" berarti kosong. Nama ini disematkan karena pada masa lampau, masyarakat Arab sering mengumpulkan perbekalan dari berbagai tempat di bulan ini, hingga tempat-tempat tersebut menjadi kosong. Ada pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa bulan Safar dinamai demikian karena saat itu penduduk Makkah ramai-ramai pergi meninggalkan kota, sehingga Makkah pun tampak sepi.

Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa pada bulan Safar ini, sebagian masyarakat Makkah biasa menyerang suku-suku lain dan meninggalkan para korbannya dalam keadaan tanpa harta, tanpa bekal, kosong dari apa pun.

Di masa jahiliah, berkembang pula keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial, dikenal dengan istilah tasyā’um. Masyarakat kala itu percaya bahwa bulan ini membawa energi negatif dan nasib buruk. Karena itulah, mereka merasa takut untuk melakukan kegiatan atau mengambil keputusan penting di bulan ini.

Sayangnya, pemikiran semacam ini masih ada hingga sekarang. Tidak sedikit orang yang masih mengaitkan hari tertentu dengan keberuntungan atau malah kesialan.

Padahal dalam Islam, semua bulan adalah sama. Tidak ada bulan yang secara khusus membawa kesialan atau keberuntungan. Kalau pun ada kejadian buruk di bulan Safar, itu terjadi bukan karena bulan tersebut, melainkan karena sebab-sebab lain di luar itu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

Tidak ada ‘adwa, tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, tidak ada safar. Dan jauhilah orang yang menderita kusta sebagaimana kamu menjauhi singa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jemaah Jumat rahimakumullah,
Hadis ini menyampaikan pesan dari Nabi Muhammad SAW untuk menepis kepercayaan-kepercayaan keliru yang berkembang di tengah masyarakat masa jahiliah, dan sebagian masih bertahan hingga hari ini.

Kata ‘adwa merujuk pada keyakinan bahwa penyakit menular bisa menyebar secara otomatis tanpa sebab yang jelas dan tanpa campur tangan kehendak Allah. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa segala sesuatu, termasuk penyakit, terjadi atas izin Allah. Maka, bukan berarti kita tak boleh waspada atau tidak menjaga kesehatan, tetapi kita tidak boleh percaya bahwa penyakit menyebar sendiri tanpa kehendak Allah.

Selanjutnya, thiyarah adalah bentuk kepercayaan akan keberuntungan atau kesialan berdasarkan pertanda dari burung. Di zaman jahiliah, jika seseorang keluar rumah dan melihat burung terbang ke kanan, itu dianggap pertanda baik. Namun jika burung terbang ke kiri, mereka meyakini kesialan akan datang dan memilih kembali pulang. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ini adalah takhayul yang tidak boleh diikuti.

Hamah adalah keyakinan bahwa burung hantu yang hinggap di rumah menjadi pertanda akan datangnya musibah atau kematian kepada penghuni rumah itu. Sedangkan safar yang dimaksud dalam hadis adalah kepercayaan bahwa bulan Safar merupakan bulan sial yang membawa malapetaka, padahal ini sama sekali tidak berdasar.

Semua bentuk keyakinan seperti ini, jamaah sekalian, sejatinya hanya memperlemah tawakal dan mengganggu iman. Rasulullah SAW mengajarkan agar kita melepaskan diri dari segala bentuk takhayul dan menggantinya dengan keyakinan yang lurus kepada Allah.

Bagian terakhir dari hadis itu menyebutkan, “Menjauhlah dari penderita kusta seperti kamu menjauhi singa.” Ini menunjukkan bahwa meskipun kita menolak keyakinan ‘adwa sebagai takhayul, bukan berarti kita mengabaikan ikhtiar. Islam tetap mengajarkan kita untuk berhati-hati dan menjaga diri dari bahaya, termasuk menjaga jarak dari penyakit menular sebagai bentuk ikhtiar yang sah.

Maka, marilah kita kuatkan tauhid kita dan jauhkan diri dari segala bentuk keyakinan yang tidak bersumber dari ajaran Nabi SAW. Semoga Allah meneguhkan iman kita dan menjauhkan kita dari perbuatan syirik dan prasangka-prasangka yang menyimpang dari ajaran Islam. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Jemaah Salat Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam ajaran Islam, tidak ada konsep hari sial, bulan sial, apalagi tahun sial. Sebab, seluruh rentang waktu yang ada di alam semesta ini merupakan ciptaan Allah SWT. Waktu bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan makhluk yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan dan kendali Allah, Tuhan semesta alam. Karenanya, setiap Muslim wajib meyakini bahwa segala kebaikan maupun keburukan hanya terjadi atas izin dan kehendak-Nya.

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Safar. Bulan ini merupakan bagian dari dua belas bulan dalam kalender hijriyah. Letaknya berada setelah Muharram dan sebelum Rabiul Awwal.

Ketika menafsirkan Surah At-Taubah ayat 36, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penamaan Safar berasal dari kebiasaan masyarakat Arab tempo dulu. Kata Safar berarti “kosong”, merujuk pada kebiasaan orang-orang kala itu yang ramai-ramai meninggalkan kampung halamannya untuk bepergian atau berperang, sehingga daerahnya menjadi kosong.

Nabi Muhammad SAW telah menepis anggapan buruk kaum jahiliah terhadap bulan Safar. Beliau justru mengisi bulan ini dengan berbagai amal dan peristiwa mulia. Dalam karya Mandzumah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada ‘an Syahri Safar, Habib Abu Bakar al-‘Adni menyebutkan bahwa di bulan Safar inilah Nabi menikahi Sayyidah Khadijah, menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib, dan memulai hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Dengan kata lain, Rasulullah SAW memilih bulan Safar untuk melaksanakan peristiwa penting dan sakral dalam hidupnya. Ini menunjukkan bahwa bulan Safar tidak memiliki perbedaan nilai dibanding bulan lainnya dalam Islam.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi akal sehat dan mendorong umatnya untuk menjalani kehidupan dengan perencanaan serta usaha yang maksimal. Dalam setiap aktivitas, umat Islam dianjurkan untuk menempuh jalan yang logis dan sesuai dengan hukum sebab-akibat. Setiap langkah sebaiknya dilalui dengan perencanaan yang matang, kerja keras, lalu ditutup dengan doa dan tawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.

Keyakinan tentang nasib sial atau keberuntungan tidak boleh bersandar pada mitos yang tidak berdasar. Dalam menghadapi penyakit, misalnya, kita dianjurkan menjaga kebersihan dan menjauh dari sumber penularan. Seorang pedagang perlu membuat perhitungan cermat agar tidak mengalami kerugian. Seorang pelajar dituntut belajar sungguh-sungguh jika ingin sukses dalam ujian.

Baca Juga : 1 Agustus Memperingati Hari Apa? Ada Hari Kanker Paru-Paru Dunia hingga Childfree Day

Keyakinan bahwa ada hari atau bulan sial justru bisa menjerumuskan seseorang dalam pola pikir tidak rasional. Akibatnya, bisa timbul rasa malas berusaha karena merasa sudah pasti akan beruntung. Atau sebaliknya, hidup dipenuhi rasa takut dan pesimisme karena merasa berada di waktu yang disebut 'sial'. Dalam ajaran Islam, semua waktu adalah baik selama diisi dengan kebaikan.

Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk terus berusaha, menyusun strategi, dan tidak lupa berdoa. Adapun hasilnya, sepenuhnya kita serahkan kepada Allah. Ketika memperoleh keberhasilan, kita bersyukur. Dan jika belum berhasil, kita tidak putus asa.

Kesulitan atau musibah bisa datang kapan saja, tidak terikat oleh waktu atau bulan tertentu. Maka dari itu, kita diperintahkan untuk senantiasa waspada, berikhtiar, dan memperbanyak doa agar terhindar dari marabahaya.

Salah satu doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca setiap pagi dan sore adalah sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Barangsiapa yang rutin membaca doa ini di pagi dan sore hari, maka dia akan dilindungi dari berbagai bentuk malapetaka dan bahaya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

Jemaah Salat Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu bentuk keberuntungan terbesar bagi seorang mukmin adalah ketika ia mampu mengisi setiap detik kehidupannya dengan amal yang mendekatkannya kepada Allah. Sebaliknya, kerugian yang nyata terjadi ketika waktu terbuang tanpa arah, bahkan di bulan-bulan yang memiliki keutamaan sekalipun.

Islam tidak mengenal adanya bulan yang membawa sial. Yang ada justru bagaimana seseorang memanfaatkan setiap momen untuk melakukan hal yang bermanfaat. Baik atau buruknya waktu tergantung pada amal yang kita lakukan di dalamnya, apakah membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang sekitar, atau justru sebaliknya.

Oleh karena itu, mari jadikan momen ini sebagai dorongan untuk lebih menghargai waktu yang kita miliki. Bangunlah semangat positif dalam menjalankan ibadah dan kewajiban sebagai hamba Allah, dengan penuh ketulusan dan kesungguhan.

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, beliau mengutip bait syair yang sarat makna:

كَمْ ذَا التَّمَادِي فَهَا قَدْ جَاءَنَا صَفَرُ
شَهْرٌ بِهِ الْفَوْزُ وَالتَّوْفِيْقُ وَالظَّفَرُ

"Sudah terlalu lama kita terlena, kini telah datang bulan Safar. Bulan yang membawa keberhasilan, pertolongan, dan kemenangan."

فَابْدَأْ بِمَا شِئْتَ مِنْ فِعْلٍ تَسُرُّ بِهِ
يَوْمَ الْمَعَادِ فَفِيْهِ الْخَيْرُ يَنْتَظِرُ

"Mulailah beramal dengan hal-hal yang kelak membahagiakanmu di hari pembalasan, karena dalam bulan ini tersedia banyak kebaikan."

تُوْبُوا إِلَى اللهِ فِيْهِ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ
مِنْ قَبْلُ يَبْلُغُ فِيْكُمْ حَدُّهُ الْعُمْرُ

"Segeralah bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa yang telah lalu, sebelum ajal menjemput dan usia tak lagi memungkinkan."

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memaknai waktu dengan bijaksana, mengisinya dengan amal saleh, introspeksi, dan kesungguhan dalam taat kepada Allah. Semoga pula setiap langkah kita mengarah pada manfaat, baik di dunia ini maupun kelak di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3).  بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ. أَشْهدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ، وأَشْهَدُ أَنَّ  سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنَا محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَا اتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ أَمَّا بَعْدُ: فيَآ أَيُّهاالنّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَاَلى.َقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْها وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا 

عِبادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرُ


Topik

Agama bulan safar khutbah jumat agustus 2025



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri