JATIMTIMES - Di akhir abad ke-16, tanah Jawa memasuki satu babak sejarah yang diwarnai turbulensi politik, fragmentasi kekuasaan, dan kontestasi spiritual. Runtuhnya Kesultanan Demak dan melemahnya otoritas Pajang menciptakan kekosongan kekuasaan yang segera diisi oleh aktor-aktor baru dengan ambisi politik besar. Salah satu di antaranya adalah Danang Sutawijaya, putra angkat Sultan Hadiwijaya dari Pajang, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Senapati. Melalui strategi militer, jaringan patron-klien, dan penggalangan legitimasi spiritual, Senapati membangun cikal bakal dinasti baru di Mataram.
Namun, jalan menuju supremasi tidak pernah lurus. Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai porosnya, menolak tunduk pada hegemoni kekuasaan baru ini. Demikian pula Madiun, yang dipimpin oleh bangsawan trah Demak-Pajang, memilih pembangkangan daripada subordinasi. Dalam lanskap konflik inilah muncul satu figur perempuan kuat yaitu Retna Dumilah dari Madiun, seorang perempuan sekaligus putri, pejuang, dan simbol keberanian perempuan Jawa.
Baca Juga : Dua Hari Perang, Kamboja Serukan Gencatan Senjata dengan Thailand
Artikel ini akan mengurai secara kronologis tiga poros utama Perang Jawa awal: ekspedisi militer Senapati ke Surabaya dan Mojokerto (1589), pembelotan Madiun (1590), dan peristiwa simbolik-politik yang melibatkan Retna Dumilah dalam pernikahan dan pertarungan dengan Senapati. Narasi ini dibangun dalam kerangka historiografi kritis, dengan mengedepankan data primer seperti Babad Tanah Djawi dan Serat Kandha, serta penafsiran kontekstual terhadap spiritualitas, dendam sejarah, dan ideologi kekuasaan Jawa abad ke-16.
Ekspedisi ke Mojokerto: Ramalan Giri, Politik dan Perang
Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, bukan hanya tokoh militer. Ia merupakan perwujudan dari warisan darah Majapahit dan Wali Songo. Lahir dengan nama Raden Bagus Srubut, ia adalah putra Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Ageng Sabinah. Dari ayahnya, ia mewarisi garis keturunan Brawijaya melalui Raden Bondhan Kajawan dan Ki Ageng Selo. Dari ibunya, ia terhubung dengan Sunan Giri dan jaringan spiritual Islam pesisir.
Genealogi ini bukan sekadar silsilah, melainkan fondasi legitimasi. Ki Ageng Pemanahan merupakan tokoh penting yang bersama Ki Juru Mertani dan Raden Penjawi menaklukkan Haryo Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya. Kemenangan ini semestinya diganjar tanah perdikan, namun Sultan ragu menyerahkan Alas Mentaok karena ramalan Sunan Giri Prapen. Ramalan itu menyebut bahwa dari Mentaok akan lahir kekuasaan yang melampaui Pajang.
Setelah melalui laku prihatin di Kembang Semampir dan menerima Wahyu Gagak Emprit, akhirnya pada tahun 1556 Ki Ageng Pemanahan menerima Alas Mentaok. Daerah itu kemudian dinamai Perdikan Mataram. Sejak awal, Danang Sutawijaya menunjukkan watak ksatria dan kepemimpinan. Ia gemar semedi, menguasai ilmu perang, dan mahir berkuda. Wataknya memikat Sultan Hadiwijaya hingga diangkat sebagai anak angkat dan diberi tempat tinggal di utara pasar.
Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat tahun 1575, Sutawijaya menggantikan posisi sebagai pemimpin Mataram. Ia tidak serta merta memberontak. Ki Juru Mertani menasihatinya agar tidak memusuhi Sultan Hadiwijaya. Ia diminta berdoa agar kelak mendapatkan restu takdir, bukan merebutnya dengan paksa. Di Lipura, saat bermunajat, ia menerima wahyu cahaya atau Lintang Jauhari, petunjuk ilahiah untuk mendirikan keraton di Kotagede.
Tahun 1582 Sultan Hadiwijaya wafat. Pajang diwarisi oleh Arya Pangiri, bukan Pangeran Benowo. Kondisi ini mendorong Sutawijaya untuk mendirikan kerajaan sendiri. Tahun 1587, ia dinobatkan sebagai penguasa Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa. Pemerintahannya segera memperluas kekuasaan ke Pajang, Demak, Madiun, Kediri, dan Ponorogo.
Panembahan Senapati mewariskan lebih dari sekadar wilayah. Ia membentuk sistem nilai yang menggabungkan Islam, kekuasaan, dan spiritualitas Jawa. Ia wafat tahun 1601 di Bale Kajenar dan dimakamkan di Kotagede. Dari Tarub hingga tahta, dari pertapaan hingga kerajaan, kisahnya membuktikan bahwa nasab bukan sekadar darah, melainkan jalan takdir untuk membangun sejarah.
Setelah dilantik sebagai panembahan di Mataram, Senapati mengutus duta kepada Sunan Giri untuk menguji kembali ramalan lama: "Gusti menjadi abdi, abdi menjadi gusti." Sunan Giri, simbol otoritas spiritual utama di Jawa Timur, menjawab undangan itu dengan isyarat perang: "Jika ingin membuktikan kebenaran ramalan itu, seranglah Jawa Timur." Maka, dimulailah ekspedisi militer besar-besaran ke arah timur pada bulan Muharam tahun 1589.
Senapati tidak bergerak sendiri. Adipati Mandaraka, pamannya yang berpengaruh, memobilisasi para adipati dari Pati, Demak, Grobogan, dan mancanegara lainnya. Tujuannya jelas: mengembalikan kendali atas Jawa Timur yang telah lepas dari Pajang. Ketika pasukan Mataram tiba di Japan (Mojokerto), mereka berhadapan langsung dengan koalisi pasukan Surabaya, yang dikomandoi oleh Pangeran Surabaya dan terdiri atas para bupati dari Madura, Lamongan, Gresik, dan Tuban.
Sebelum pertempuran pecah, utusan dari Giri membacakan pesan damai, "Jangan menumpahkan darah. Pilihlah antara kulit dan isi." Senapati memilih kulit yaitu tanah Jawa. Pangeran Surabaya memilih isi yaitu rakyatnya. Dalam tafsir Giri, kulit adalah tanah yang bisa direbut, tetapi isi adalah ruh yang memberi makna pada kekuasaan. Senapati, dengan tekad keras dan ambisi tak terbendung, memilih jalan perang.
Namun, strategi militernya gagal. Serangan ke Mojokerto dihentikan pasukan gabungan Jawa Timur di Lembah Brantas, dekat situs Majapahit. Gagalnya ekspedisi ini menunjukkan bahwa Mataram belum memiliki kekuatan militer dan legitimasi spiritual yang cukup untuk menundukkan wilayah timur. Dan di sinilah pula Sunan Giri, tak lama setelah itu, wafat. Dengan wafatnya Giri sebagai penyeimbang spiritual, Jawa Timur kehilangan satu sumber kohesi. Dalam kevakuman inilah Pangeran Surabaya tampil lebih otonom, bahkan memungut pajak sendiri sebagai tanda kedaulatan.

Pembelotan Madiun: Pecahnya Peta Aliansi
Setahun setelah kegagalan di Mojokerto, Senapati menghadapi pukulan politik yang lebih berat. Madiun, yang sebelumnya relatif netral, membelot dan bergabung dengan poros anti-Mataram. Panembahan Madiun, juga dikenal sebagai Pangeran Timur, adalah putra bungsu Sultan Tranggana dari Demak. Ia memiliki silsilah langsung ke dalam trah kekuasaan Islam awal Jawa, dan selama ini menjalin hubungan patronase dengan elite Pajang.
Pembelotan ini bukan sekadar soal wilayah. Ia mencerminkan trauma bangsawan Demak terhadap bangkitnya kekuatan baru Mataram, yang dianggap sebagai pendatang dan pengkhianat terhadap warisan Demak. Senapati dipandang sebagai sosok manawisa, manis di permukaan tetapi berbahaya di dalam. Pendekatannya yang agresif, termasuk penguasaan atas daerah Warung atau Blora, membuat Panembahan Madiun merasa wilayahnya terkepung. Perasaan itu semakin kuat ketika Mataram dianggap telah melampaui batas dengan merebut pos-pos strategis di wilayah perbatasan antara Demak dan Pajang.
Pangeran Surabaya segera menyambut pembelotan ini. Koalisi pun terbentuk. Madiun menjadi markas depan aliansi anti-Mataram, bersama Ponorogo, Tuban, dan unsur-unsur Jawa Timur lainnya. Mereka merancang serangan terhadap Mataram dari barat sungai Kali Dadung.
Siasat, Asmara, dan Tipu Daya: Politik Lewat Tubuh Perempuan
Menghadapi pasukan gabungan yang jumlahnya mencapai lebih dari 70.000 orang, Senapati hanya mampu mengerahkan sekitar 8.000 pasukan. Namun, ketidakseimbangan ini tidak membuatnya mundur. Ia merancang sebuah siasat khas Jawa: memakai perempuan sebagai alat negosiasi, ilusi, dan spionase.
Seorang perempuan cantik bernama Nyimas Adi Sara dikirim ke kemah Panembahan Madiun dengan mengaku membawa surat penyerahan dari Senapati. Penampilannya yang anggun dan tutur katanya yang memikat mengguncang psikologis sang panembahan. Ia percaya sepenuhnya dan membubarkan pasukannya. Bahkan, air bekas cuci mukanya diminta oleh Adi Sara sebagai air suci untuk diminum oleh Senapati. Dalam simbolisme Jawa, tindakan ini menandakan tunduknya spiritualitas Madiun pada kehendak Mataram.
Baca Juga : UM Minta Kepastian Pemprov soal Tukar Guling Lahan SMA 8 Malang
Nyimas Adi Sara bukan sembarang utusan, melainkan selir Panembahan Senapati sendiri dan ibu dari Pangeran Puger, yang kelak menjadi Adipati Demak dan dikenal karena pemberontakannya terhadap saudaranya, Prabu Hanyakrawati, raja Mataram.
Keesokan harinya, ketika pasukan musuh dalam keadaan terpecah, Senapati menyerang dari tiga arah. Di sayap kiri: Pangeran Mangkubumi; di kanan: Pangeran Singasari dan pasukan Demak; di tengah: Adipati Mandaraka. Senapati sendiri memimpin pasukan berkuda dari belakang dan menggempur musuh yang lengah. Pertempuran besar itu dimenangkan Mataram. Ponorogo melarikan diri. Pasukan Surabaya dihancurkan.
Retna Dumilah: Simbol Perempuan dalam Politik Jawa
Namun cerita tidak berhenti di medan perang. Ketika Senapati memasuki keraton Madiun, ia dihadang oleh putri Panembahan Madiun: Retna Dumilah (atau Jumilah). Dalam versi Serat Kandha, ia berpakaian satria, bersenjatakan tombak, pistol, dan keris. Ia bertarung melawan Senapati selama 24 jam. Namun semua senjatanya tidak mampu melukai sang panembahan dari Mataram, yang mengenakan baju pusaka Kiai Gundil, warisan spiritual dari Sunan Kalijaga.
Pertarungan itu berakhir bukan dengan kematian, tetapi dengan pelukan dan pernikahan. Retna Dumilah dinikahi oleh Senapati dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Raden Mas Julig, Raden Bagus yang kemudian bergelar Pangeran Blitar dan selanjutnya dikenal sebagai Panembahan Juminah, serta Raden Mas Keniten yang kelak menyandang gelar Pangeran Adipati Martalaya ing Madiun.
Menurut Babad Nitik Sarta Cabolek, pasangan ini juga menurunkan Raden Mas Rangsang, yang kemudian naik takhta sebagai Sultan Agung. Versi ini tentu berbeda dengan narasi resmi yang menyebut Sultan Agung sebagai putra Panembahan Hanyakrawati dan Ratu Mas Hadi.
Dalam budaya Jawa, kisah ini menjadi metafora penting. Retna Dumilah melambangkan semangat perlawanan yang pada akhirnya tunduk pada hegemoni melalui proses simbolik. Ia bukan sekadar objek, tetapi agen sejarah yang ikut menentukan arah politik. Pernikahan ini juga mempertemukan dua trah utama: darah Senapati dari trah Pajang-Pemanahan dan darah Retna dari Demak.

Perpecahan dengan Pati: Akumulasi Kekecewaan
Namun kejayaan di Madiun berbuah masalah lain. Adipati Pati, Pragola I, yang sebelumnya sekutu Mataram, marah besar mendengar pernikahan itu. Ia merasa dikhianati, terutama karena sebelumnya adiknya telah dinikahkan dengan Senapati. Kini, dengan hadirnya Retna Dumilah, posisi keluarganya tergeser.
Ia pun meninggalkan medan perang tanpa pamit. Senapati sadar bahwa Pati akan membelot. Dugaan ini terbukti benar. Perpecahan ini menjadi awal dari dua pemberontakan besar oleh Pati (1600 dan 1627), yang menguras energi politik Mataram selama dua generasi.
Warisan, Pusaka, dan Dendam Sejarah
Kemenangan militer Mataram di Madiun dan perkawinan Senapati dengan Retna Dumilah menandai era baru dalam peta politik Jawa. Namun, warisan itu tidak hanya berisi kemuliaan. Ia juga menyisakan jejak dendam, trauma, dan perpecahan. Koalisi yang dibangun dengan susah payah oleh Mandaraka perlahan-lahan terurai akibat kecemburuan, konflik trah, dan kecurigaan antarpenguasa daerah.
Retna Dumilah, yang dalam kisah Babad tampil sebagai simbol cinta sekaligus kekuatan perempuan Jawa, melahirkan garis keturunan yang menghubungkan Mataram dengan elite lokal Madiun. Putranya, Raden Adipati Juminah, bahkan disebut dalam sumber-sumber Belanda sebagai salah satu panglima yang turut serta dalam pengepungan Batavia pada tahun 1629. Fakta ini menunjukkan bahwa pengaruh politik Madiun tidak hilang, tetapi diintegrasikan ke dalam struktur kekuasaan Mataram yang baru.
Keturunan Retna Dumilah pun bertahan lama sebagai penguasa Madiun di bawah bayang-bayang Mataram. Sejak tahun 1589 hingga 1757, kekuasaan lokal Madiun terus diwariskan, dengan penguasa terakhir adalah Pangeran Mangkudipuro. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Madiun menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Yogyakarta. Pada 1757, Sultan Hamengkubuwono I mengganti Mangkudipuro dengan Raden Ronggo Prawirodirdjo I, putra Ki Ageng Derpoyudo dari Majan Janti, sebagai penguasa baru di bawah otoritas Yogyakarta.
Awal dari Perang Jawa
Perang Jawa awal bukan sekadar soal ekspansi kekuasaan. Ia adalah arena kompleks tempat berbagai elemen bertemu: legitimasi spiritual, pertarungan trah, taktik perang, dan simbolisme budaya. Dalam konteks inilah Senapati membentuk Mataram bukan sebagai kerajaan feodal biasa, tetapi sebagai proyek kekuasaan yang diselimuti misi ideologis dan spiritual.
Retna Dumilah bukan sekadar pernikahan politik; ia adalah kisah simbolik tentang bagaimana kekuasaan Jawa menaklukkan dan memeluk sekaligus. Sementara Surabaya dan Madiun, dengan segala pemberontakan dan pengkhianatannya, menjadi pelajaran abadi bahwa di balik setiap konsolidasi kekuasaan, selalu ada harga sejarah yang harus dibayar.
