JATIMTIMES - Jumat ini, 25 Juli 2025, bertepatan dengan 29 Muharram 1447 H. Artinya, bulan mulia ini akan segera berganti dengan bulan Shafar atau tepatnya jatuh pada Ahad, 27 Juli 2025. Mengangkat tema "Bagaimana Menutup Bulan Muharram dengan Baik?", khutbah ini mengajak umat Islam untuk menutup bulan penuh keutamaan ini dengan ibadah dan amal terbaik.
Khutbah Jumat I
الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ
Baca Juga : Doa Jumat Pagi yang Dianjurkan Rasulullah, Baca 3 Kali Dapat Ampunan
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ.
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ.
Ma’asyiral Muslimin,
Saat ini kita berada di penghujung bulan Muharram. Beberapa hari lagi, umat Islam akan memasuki bulan Shafar, yang juga memiliki keistimewaan tersendiri.
Maka, mari kita manfaatkan momen akhir Muharram ini untuk memperkuat ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan semakin giat menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mudah-mudahan kualitas takwa kita terus meningkat dari hari ke hari. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Hadirin yang Mulia,
Kalender hijriah, seperti halnya kalender masehi, pada dasarnya adalah sistem penanggalan yang muncul dari fenomena alam. Perbedaannya, kalender masehi dihitung berdasarkan revolusi bumi mengelilingi matahari, sedangkan kalender hijriah berdasar pada peredaran bulan mengitari bumi.
Karena itu, kalender masehi sering disebut kalender syamsiyah (dari kata syams yang berarti matahari), sedangkan kalender hijriah dikenal sebagai kalender qamariyah (dari kata qamar yang berarti bulan).
Namun, meski keduanya berangkat dari gejala alam, dalam Islam, sistem kalender hijriah memiliki nilai-nilai lebih yang tidak bisa dipandang biasa. Sebab, dalam syariat Islam, terdapat bulan-bulan tertentu yang memiliki keutamaan dibanding yang lain. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
Artinya: Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus.
Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, Islam tidak memposisikan semua bulan dalam satu kedudukan yang sama. Ada empat bulan mulia yang mendapat tempat istimewa selain Ramadhan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Karena kemuliaannya, umat Islam didorong untuk menjadikan bulan-bulan ini sebagai momentum memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan seperti puasa sunnah, dzikir, sedekah, hingga menumbuhkan rasa peduli sosial sangat dianjurkan untuk dilipatgandakan selama bulan-bulan itu.
Hadirin yang Berbahagia,
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulûmid-Dîn memperkenalkan istilah al-ayyâm al-fâdhilah, atau hari-hari utama. Menurut beliau, hari-hari penuh keutamaan ini ada setiap pekan dan bulan, serta selalu hadir dalam setiap tahun.
Seperti halnya tempat-tempat tertentu yang Allah muliakan, semisal Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau Multazam, waktu pun demikian.
Di antara rentang waktu yang kita jalani, selalu ada momen-momen istimewa. Misalnya antara maghrib dan isya, sepertiga malam terakhir, hari Jumat, bulan Ramadhan, bulan Muharram, dan sebagainya. Pada saat-saat seperti inilah ganjaran amal diperbesar, dosa bisa dihapus, dan doa lebih berpeluang untuk dikabulkan.
Hadirin Hafidhakumullah,
Allah SWT telah menganugerahi kita begitu banyak kesempatan berharga. Keutamaan yang melekat pada waktu-waktu tertentu merupakan bentuk kasih sayang-Nya, agar kita sebagai hamba bisa meraih keberkahan yang lebih besar dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh semangat.
Sebagaimana keterangan Ibnu ‘Asyur saat menafsirkan surat at-Taubah ayat 36 tadi:
وَاعْلَمْ أَنَّ تَفْضِيْلَ اْلأَوْقَاتِ وَالْبِقَاعِ يُشَبِّهُ تَفْضِيْلَ النَّاسِ، فَتَفْضِيْلُ النَّاسِ بِمَا يَصْدُرُ عَنْهُمْ مِنَ اْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَاْلأَخْلَاقِ اْلكَرِيْمَةِ
Artinya: Ketahuilah bahwa dimuliakannya sejumlah waktu dan tempat tertentu merupakan kehendak dimuliakannya manusia, melalui perbuatan-perbuatan baik dan akhlak mulia yang mereka lakukan. (Muhammad Ibnu ‘Asyur dalam At-Tharîr wat Tanwîr)
Dalam penjelasan pakar tafsir asal Tunisia, Ibnu ‘Asyur ini, disebutkan bahwa kemuliaan waktu, seperti bulan Muharram atau Ramadhan, bukan jaminan bahwa umat Islam secara otomatis juga mulia.
Baca Juga : Kalender Jawa Jumat Pon, 25 Juli 2025: Watak Weton, Rezeki, Jodoh dan Pantangan
Kemuliaan umat hanya bisa diraih jika kita benar-benar memanfaatkan waktu-waktu tersebut dengan amal saleh dan perilaku terpuji. Jadi, keistimewaan bulan-bulan suci adalah satu hal, sementara keistimewaan pribadi setiap muslim adalah perkara lain. Semuanya tergantung bagaimana kita merespons anugerah waktu tersebut, apakah dimanfaatkan untuk kebaikan atau justru diabaikan.
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Islam mendorong umatnya untuk hidup dengan proses yang masuk akal dan bertahap. Dalam ajaran Islam, akal sehat menempati posisi penting.
Karena itu, setiap langkah dalam kehidupan kita dianjurkan untuk dirancang dengan perencanaan matang dan dilandasi usaha yang sungguh-sungguh. Setelah semua itu dilakukan, barulah kita bertawakal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Berbicara soal keberuntungan atau kesialan, Islam tidak pernah mengaitkannya dengan mitos atau keyakinan irasional. Sebaliknya, agama ini mengajarkan bahwa keberhasilan atau kegagalan merupakan konsekuensi dari usaha yang dilakukan.
Jika ingin sehat, maka jagalah kebersihan dan hindari hal-hal yang membahayakan. Jika ingin sukses berdagang, maka buatlah perhitungan bisnis yang cermat. Ingin lulus ujian, maka belajarlah dengan serius.
Ma’asyiral Muslimin,
Kita sebagai manusia dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin, baik itu dalam urusan dunia maupun akhirat. Kita wajib menyusun rencana, menjalankannya dengan serius, lalu berdoa kepada Allah. Jika hasilnya baik, kita bersyukur. Jika gagal, kita tidak larut dalam putus asa.
Ingat, musibah atau kemalangan bisa datang kapan saja, tidak hanya terbatas pada waktu tertentu. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita terus waspada, menjaga diri, dan tak henti memohon perlindungan kepada Allah SWT. Salah satu ikhtiar terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan memperbanyak doa setiap hari, agar selalu berada dalam penjagaan-Nya. Dalam menghadapi potensi bencana atau kemalangan, kita diajarkan untuk senantiasa berdoa:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya: "Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi maupun di langit. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Doa ini dianjurkan dibaca setiap pagi dan sore. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa siapa saja yang rutin membacanya, maka ia akan terlindungi dari dampak buruk bencana atau malapetaka.
Semoga kita dapat memaksimalkan momen akhir Muharram dan memasuki bulan baru dengan semangat baru. Amin ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
