Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pemerintahan

Kabupaten Magetan Bebas Gagal Panen di Tengah Kemarau Panjang 2026, Ini Rahasianya

Penulis : Basworowati Prasetyo Nugraheni - Editor : Nurlayla Ratri

17 - Sep - 2026, 15:29

Placeholder
Kepala Bidang Sumber Daya Air PUPR Magetan, Yuli K. Iswahyudi,

JATIMTIMES – Dinas PUPR melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Magetan memastikan ketersediaan air dan kondisi sektor pertanian di wilayahnya tetap terkendali di tengah ancaman kemarau panjang tahun 2026. Hingga saat ini, belum ditemukan laporan adanya gagal panen maupun penetapan status darurat kekeringan di Kabupaten Magetan.

Kepala Bidang SDA DPUPR Kabupaten Magetan, Yuli K Iswahyudi  menyampaikan bahwa indikator utama ketersediaan air baku saat ini mengacu pada elevasi Telaga Pasir atau Telaga Sarangan.

Baca Juga : Kerugian Ekologis di Sulawesi Tembus Rp100 Triliun, Riset CELIOS: Lahan Berpindah ke Tambang Tiap 6 Menit

"Sampai dengan hari ini ketersediaan air kalau penandanya adalah Telaga Pasir atau Telaga Sarangan, elevasinya sudah di angka 10 meter. Dari kemarin elevasi tertinggi 14,5 meter, sekarang tersisa 10 meter. Nanti pengeluaran air akan dihentikan di elevasi 7 meter, artinya masih ada ketersediaan cadangan 3 meter," ungkapnya.

Cadangan air tersebut dialokasikan untuk menopang kebutuhan operasional pabrik gula serta pengairan lahan pertanian warga di wilayah hilir Telaga Pasir.

"Mudah-mudahan ini cukup sampai petaninya panen dan pabrik gulanya sampai tutup giling di awal Oktober 2026," tambahnya.

Terkait keamanan pasokan air untuk pertanian, pihak Bidang SDA menegaskan bahwa fokus penanganan terletak pada penyesuaian jenis komoditas tanam sejak dini, bukan sekadar bergantung pada ketersediaan air permukaan.

Sejak awal tahun 2026, Bidang SDA bersama pihak terkait telah mensosialisasikan estimasi BMKG mengenai potensi kemarau panjang yang berlangsung dari Juni hingga akhir tahun.

"Untuk pertanian ini kita jalurnya bukan hanya ke airnya, tetapi ke tanamannya. Sejak awal tahun 2026 kita sampaikan estimasi kemarau panjang dari BMKG mulai Juni sampai akhir tahun. Kita harapkan petani menanam tanaman yang hemat air di luar padi, seperti jagung, kedelai, atau palawija lainnya," jelas Kepala Bidang SDA.

Berkat kepatuhan petani dalam menerapkan pola tanam di Musim Tanam 3 (MT 3), wilayah Daerah Irigasi (DI) yang menjadi kewenangan kabupaten sesuai Permen PU No. 14 Tahun 2015 dilaporkan aman.

"Menurut laporan dari kawan-kawan Dinas Pertanian, sampai hari ini belum ada yang gagal panen di daerah irigasi kewenangan kabupaten. Artinya, petani patuh menanam selain padi di atas bulan Juni. Kalau dipaksakan tanam padi, bisa jadi kekurangan air atau gagal panen. Maka kolaborasi dengan HIPPA dan Poktan penting untuk memberikan informasi sedini mungkin," tambahnya.

Pengeluaran air dari Telaga Sarangan dijadwalkan akan ditutup pada awal Oktober saat menyentuh batas elevasi 7 meter demi menjaga keamanan ekosistem telaga. Apabila petani hilir masih membutuhkan suplai air sebelum batas kritis tersebut, pihak dinas siap berkoordinasi dengan Kementerian PU melalui BBWS untuk membuka kembali pintu air secara terukur.

Baca Juga : Harhubnas 2026, Naik Trans Jatim di Malang Gratis Hari Ini

Sementara itu, untuk sektor pertanian di wilayah bawah yang masih bisa menyumbang panen padi di MT 3, kebutuhan airnya ditopang oleh fasilitas sumur dalam.

"Untuk wilayah bawah, dengan adanya sumur-sumur yang dibangun oleh Pemda, Pusat, maupun Dinas Pertanian bersama TNI, masih banyak ditemukan sumur yang aktif melayani kebutuhan tanaman padi," terangnya.

Bidang  SDA terus menjalin koordinasi intensif setiap pekan bersama Dinas Pertanian untuk memantau perkembangan kondisi tanaman di lapangan serta menyiapkan skema suplesi jika terjadi defisit air.

"Setiap hari Senin kita berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk meminta laporan kondisi tanaman. Kita evaluasi mana yang kritis atau berpotensi gagal panen, lalu kita hubungkan dengan stok ketersediaan air yang ada untuk disuplesi dari situ," tegasnya.

Ia bersyukur hingga pertengahan September 2026 ini Kabupaten Magetan masih bertahan di status Siaga Kekeringan dan belum melangkah ke status darurat.

"Alhamdulillah sampai hari ini Kabupaten Magetan belum ada informasi gagal panen maupun darurat kekeringan. Di Jawa Timur kalau tidak salah sudah ada 24 kabupaten/kota yang masuk status darurat kekeringan hingga harus menyuplai air bersih menggunakan tangki. Kita berharap kondisi darurat seperti itu tidak terjadi di Kabupaten Magetan," pungkas Yuli.


Topik

Pemerintahan magetan panen raya gagal panen



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Basworowati Prasetyo Nugraheni

Editor

Nurlayla Ratri