JATIMTIMES - Dokumen yang diduga sebagai hasil pemeriksaan laboratorium terkait insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, beredar di media sosial.
Dokumen tersebut menjadi sorotan karena memuat hasil pemeriksaan terhadap sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi siswa. Dalam dokumen tersebut, ada temuan tiga jenis bakteri pada sampel nasi, ikan dan buah melon.
Baca Juga : Sekitar 40 Guru dan Tendik Madrasah di Kota Malang Diproyeksikan Purna pada 2027
Dokumen itu tercatat dikeluarkan pada 16 Agustus 2026, tiga hari setelah ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG pada 13 Agustus 2026. Namun hingga saat ini belum ada instansi resmi yang mengungkap terkait hasil pemeriksaan makanan MBG di Karo tersebut.

Dokumen lanjutan yang diduga sebagai hasil pemeriksaan laboratorium terkait insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, beredar di media sosial. (Foto: Threads)
Isu ini lantas ramai dibicarakan di media sosial. Salah satunya diunggah akun Threads @stepanus_purba. Dalam unggahannya, akun tersebut mempertanyakan mengapa hasil pemeriksaan yang diklaim telah terbit pada 16 Agustus tidak dipublikasikan secara terbuka oleh pemerintah daerah maupun Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kandungan racun MBG yang dikonsumsi ratusan siswa di Berastagi. Ironis, ternyata bukan hanya ikan yang terkandung bakteri tapi juga buah melon serta nasi yang dikonsumsi anak-anak juga terkandung bakteri," tulis akun tersebut.
Ia kemudian mempertanyakan sikap pemerintah terkait dokumen yang beredar.
"Anehnya hasil pemeriksaan ini yang keluar pada tanggal 16 Agustus 2026 lalu ini tidak pernah dipublish oleh Pemkab Karo dan BGN. Ada apa ini gerangan pak @sudaru_sudaryono?? Kenapa kalian tutupi fakta ini??," lanjutnya.
Unggahan tersebut sontak menuai beragam respons dari warganet.
"Yg di Surabaya juga hasil dinkesnya lenyap, berita senyap juga dan hilang ,dan sppg nya udah buka lagi dong wow Mahadahsyat sekali MBG Shibal ini," @ichaindra****.
"Ini ngeri pak, di melon ada e coli.. Artinya, penanganan saat motong buah, ga higienis... Apa dari kamar mandi lsng pegang buah? Gendeng kalian emang," @pegaw******.
"Secara alami E.coli memang adanya di usus. Maka bakteri e.coli itu jadi standar uji air tercemar pak, di air closet kamar mandi tuh, dia biasa disitu, karena dia keluar dari usus bareng feses. Kalau sampai e.coli ditemukan di buah melon, berarti ini kebersihan penanganan bahan makanannya patut dipertanyakan. Jangan anggap sepele soal bakteri ini," tulis @sasha****.
Sebelum dokumen tersebut ramai di media sosial, BGN telah menyampaikan hasil investigasi sementara terkait insiden keamanan pangan di Karo pada 16 Agustus 2026 lalu. Namun kala itu, disebutkan jika yang bermasalah adalah ikan.
Baca Juga : Bupati Sanusi Berencana Melakukan Pengadaan Test Kit Rp 1,7 Miliar untuk Cegah Keracunan MBG
Kepala BGN Sudaryono menyebut terdapat dugaan kelalaian dalam proses pengolahan bahan baku ikan. Sebagian ikan disebut tidak disimpan di dalam freezer dan justru dibiarkan pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam.
Hal itu disampaikan Sudaryono ketika mengunjungi korban di Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu (16/8/2026).
"Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Jadi bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, ada sekitar 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," kata Sudaryono, sebagaimana dimuat dalam siaran pers resmi BGN.
Menurut Sudaryono, penyimpanan ikan pada suhu ruang dalam waktu lama merupakan persoalan serius dalam pengelolaan bahan pangan.
Temuan investigasi sementara tersebut kemudian menjadi salah satu dasar BGN dalam mengevaluasi pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan dalam program MBG di Karo.
Insiden tersebut terjadi pada Kamis (13/8/2026). Sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Berastagi dan sekolah lain di Kabupaten Karo mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Pemerintah Kabupaten Karo sebelumnya menyebut kejadian tersebut sebagai dugaan keracunan makanan. Pada hari kejadian, pemerintah daerah bersama unsur terkait langsung melakukan penanganan dan memastikan para siswa mendapat perawatan medis.
Data penanganan medis Pemerintah Kabupaten Karo pada 14 Agustus mencatat ratusan pasien mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Di RS Efarina Etaham tercatat 101 pasien, RSU Kabanjahe 35 pasien, RS Amanda Raya Berastagi 212 pasien, serta lima pasien di RS Mina Kabanjahe.
Kasus tersebut juga tidak hanya melibatkan siswa SMAN 1 Berastagi. Sejumlah siswa dari sekolah lain di kawasan Berastagi turut mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.
