Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Musim Kemarau Bikin Kekeringan? Ini Cara Mengatasinya Menurut Islam

Penulis : Mutmainah J - Editor : Dede Nana

09 - Aug - 2026, 10:20

Placeholder
Ilustrasi kekeringan akibat musim kemarau. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Musim kemarau kerap membawa persoalan tersendiri bagi masyarakat. Selain cuaca yang lebih panas, sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami kekurangan air hingga kekeringan.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan air dan menjaga lingkungan. Menariknya, jauh sebelum persoalan perubahan iklim menjadi perhatian dunia, Islam telah mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Baca Juga : Update Kebakaran Gunung Bromo, Titik Api Baru Berhasil Dipadamkan Petugas Gabungan

Lantas, bagaimana cara mengatasi kekeringan saat musim kemarau menurut Islam?

Dilansir dari NU Online, terdapat sejumlah nilai dan ajaran dalam Islam yang dapat diterapkan untuk menjaga lingkungan sekaligus menghadapi persoalan kekeringan. Mulai dari meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, mengubah gaya hidup, mengembangkan inovasi ramah lingkungan, hingga menghemat penggunaan air.

1. Meningkatkan Kesadaran untuk Menjaga Lingkungan

Salah satu langkah penting dalam menghadapi kekeringan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi dan tidak membuat kerusakan. Kesadaran tersebut dapat dibangun melalui pendidikan, kegiatan sosial, maupun kampanye yang mengajak masyarakat menjaga kelestarian alam.

Keteladanan dalam menjaga lingkungan juga dapat ditemukan dalam ajaran Rasulullah SAW. Salah satunya melalui anjuran untuk menanam dan merawat tanaman.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Artinya:

"Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman, kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri darinya juga menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang buas darinya menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil sesuatu darinya, kecuali menjadi sedekah baginya." (HR Muslim).

Pesan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas menanam dan merawat tanaman memiliki nilai kebaikan. Pohon juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, membantu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga tanah, dan mendukung kehidupan berbagai makhluk.

Karena itu, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana seperti menanam pohon di lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.

2. Mengubah Gaya Hidup agar Lebih Ramah Lingkungan

Cara berikutnya adalah mengubah kebiasaan sehari-hari yang berpotensi memperburuk kerusakan lingkungan.

Penggunaan energi secara berlebihan, ketergantungan terhadap kendaraan bermotor, serta pola konsumsi yang tidak memperhatikan lingkungan dapat berkontribusi terhadap peningkatan emisi dan pemanasan global.

Masyarakat dapat memulainya dari hal sederhana. Misalnya, menggunakan listrik seperlunya, memilih berjalan kaki atau bersepeda untuk jarak dekat, mengurangi penggunaan kendaraan jika tidak diperlukan, serta lebih bijak dalam mengonsumsi makanan.

Dalam perspektif Islam, menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam juga menjadi bagian penting dalam kehidupan.

Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan mengenai hubungan antara perilaku manusia dan kondisi lingkungan. Ia menyebutkan:

بَلْ إنَّما يَنْزِلُ ذَلِكَ العَذابُ إذَا أَسَاءُوا في المُعامَلاتِ

Artinya:

"Malah, Allah menurunkan azab tersebut disebabkan jika suatu masyarakat berbuat buruk dalam muamalah; bergaul terhadap manusia lain dan alam."

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia perlu menjaga hubungan secara baik, termasuk dalam memperlakukan lingkungan dan sumber daya alam.

Baca Juga : Buntut Meluasnya Kebakaran Savana, Akses ke Gunung Bromo via Jemplang Malang Ditutup Total

3. Mengembangkan Inovasi yang Ramah Lingkungan

Menghadapi persoalan kekeringan dan perubahan iklim juga membutuhkan inovasi. Teknologi ramah lingkungan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya jangka panjang untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

Pengembangan energi terbarukan, transportasi yang lebih berkelanjutan, pengelolaan air, hingga teknologi yang mampu menghemat penggunaan sumber daya dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

Namun, penggunaan teknologi saja tidak cukup. Kebiasaan masyarakat dalam menggunakan sumber daya alam juga perlu diperbaiki.

Salah satu yang mendapat perhatian dalam ajaran Islam adalah penggunaan air. Air merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara bijaksana.

4. Menghemat Penggunaan Air

Menghemat air menjadi langkah yang sangat relevan dilakukan ketika musim kemarau dan kekeringan melanda.

Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam menggunakan air, termasuk ketika menjalankan ibadah seperti wudu.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melewati Sa'ad yang sedang berwudu. Rasulullah kemudian menegurnya karena dianggap berlebihan dalam menggunakan air.

Rasulullah SAW bersabda:

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ مرَّ بسعدٍ وَهوَ يتوضَّأُ ، فقالَ : ما هذا السَّرَفُ ؟ قالَ : أفي الوضوءِ إسرافٌ ؟ قالَ : نعَم وإن كنت على نَهْرٍ جارٍ

Artinya:

"Nabi SAW pernah melewati Sa'ad ketika ia sedang berwudu. Beliau bertanya, 'Pemborosan apa ini?' Sa'ad menjawab, 'Apakah dalam wudu juga ada pemborosan?' Beliau menjawab, 'Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.'"

Hadis tersebut mengajarkan bahwa penggunaan air tetap harus dilakukan secara bijak. Bahkan ketika air tersedia dalam jumlah banyak, umat Islam tetap dianjurkan untuk menghindari israf atau penggunaan sesuatu secara berlebihan.

Pesan ini semakin penting diterapkan ketika musim kemarau. Masyarakat dapat menghemat air dengan menggunakan air sesuai kebutuhan, memperbaiki keran yang bocor, menggunakan kembali air untuk keperluan yang memungkinkan, serta tidak membiarkan air terbuang percuma.

Kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya air ketika musim kemarau. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan lingkungan dan menggunakan sumber daya alam.

Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai tindakan sederhana, mulai dari menanam pohon, mengurangi perilaku boros, menghemat energi hingga menggunakan air secara bijaksana.

Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, masyarakat tidak hanya membantu mengurangi dampak persoalan lingkungan, tetapi juga menjalankan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.


Topik

Peristiwa kemarau kekeringan islam air



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Dede Nana