JATIMTIMES – Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang (Mindatama) kembali tercermin pada proses Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) tahun 2026. Daya tampung yang hanya 210 siswa tidak mampu mengakomodasi lonjakan peminat yang mencapai lebih dari 430 calon peserta didik. Situasi tersebut menunjukkan bahwa persaingan masuk ke madrasah negeri ini semakin ketat dari tahun ke tahun.
Fenomena itu bahkan berlanjut pada jalur perpindahan siswa. Meski hanya tersedia satu kursi kosong, jumlah pendaftar mencapai 18 orang. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya antusias mengikuti seleksi reguler, tetapi juga tetap berusaha mencari peluang agar putra-putrinya dapat bersekolah di MIN 2 Kota Malang.
Baca Juga : TPS Mangge Overload 3 Tahun hingga Meluber ke Jogging Track, Ini Respons DLH Magetan.
Kepala MIN 2 Kota Malang, Nanang Sukmawan, mengakui bahwa tingginya minat masyarakat menjadi tantangan sekaligus amanah bagi lembaga yang dipimpinnya.
"Alhamdulillah kepercayaan masyarakat sangat luar biasa. Dari tahun ke tahun progresnya meningkat cukup tajam. Pada PMBM kemarin kami hanya menerima 210 siswa, sementara masyarakat yang ingin menyekolahkan putra-putrinya di MIN 2 sudah lebih dari 430 orang," ujarnya, belum lama ini.
Menurut Nanang, banyak orang tua yang tetap berharap anaknya bisa diterima meski kuota telah terpenuhi. Bahkan, tidak sedikit yang meminta agar namanya dicatat sebagai daftar tunggu apabila sewaktu-waktu ada siswa yang mengundurkan diri.
"Kami sudah menyampaikan bahwa tidak bisa menambah kelas. Tetapi ada wali murid yang berinisiatif sendiri meminta sistem inden, berjaga-jaga kalau ada siswa yang pindah. Ketika akhirnya ada satu kursi kosong, ternyata yang mendaftar sampai 18 orang," katanya.
Meski demikian, Nanang menegaskan bahwa setiap proses penerimaan tetap mengedepankan kualitas. Seleksi, baik pada PMBM maupun perpindahan siswa, tidak semata mempertimbangkan ketersediaan kursi, tetapi juga kesiapan akademik dan kemampuan calon peserta didik.
"Kami tetap melakukan evaluasi pada sistem inden maupun seleksi siswa pindahan. Kualitas kemampuan dan kesiapan anak menjadi prioritas," tegasnya.
Melihat tren peningkatan peminat yang terus terjadi, MIN 2 Kota Malang mulai membuka peluang untuk menambah jumlah rombongan belajar. Wacana tersebut mendapat sinyal positif dari Kementerian Agama, meski realisasinya bergantung pada kesiapan infrastruktur.
"Insya Allah ada peluang ke sana. Dari Kementerian Agama sudah memberikan lampu hijau untuk penambahan kelas, tetapi syaratnya harus tersedia ruang kelas terlebih dahulu," jelas Nanang.
Ia menerangkan, penambahan ruang belajar tidak cukup dilakukan secara bertahap satu kelas demi satu kelas. Sebab, tambahan rombongan belajar di kelas satu akan terus berlanjut hingga jenjang berikutnya.
Baca Juga : Dinsos Kota Batu Verval 303 Buruh Pabrik Rokok se-Jatim dan 1.500 Warga Calon Penerima BLT DBHCHT 2026
"Kami tidak hanya menyiapkan satu ruang. Paling tidak harus tersedia enam ruang kelas agar nantinya seluruh jenjang bisa menjadi delapan rombongan belajar. Saat ini kami masih memiliki tujuh rombongan belajar di setiap tingkat," ungkapnya.
Karena itu, pihak madrasah terus mengupayakan pembangunan ruang kelas baru melalui berbagai skema pendanaan, baik dari dukungan komite maupun pemerintah.
"Kami terus berupaya melakukan penambahan gedung, baik menggunakan dana mandiri dari komite maupun bantuan pemerintah melalui mekanisme yang memungkinkan, termasuk revitalisasi. Kalau melalui SBSN belum memungkinkan karena persyaratannya harus memiliki lahan kosong," paparnya.
Tingginya daya tarik MIN 2 Kota Malang juga terlihat dari sebaran asal peserta didik yang tidak lagi didominasi warga Kota Malang. Nanang menyebut, setiap tahun semakin banyak siswa dari wilayah Kabupaten Malang yang rela menempuh perjalanan cukup jauh demi mengenyam pendidikan di madrasah tersebut.
"Tahun ini yang paling jauh berasal dari Kepanjen. Ada juga dari Bululawang. Bahkan hampir sepertiga siswa kami berasal dari Kabupaten Malang, seperti Wagir, Pakisaji, Tajinan, dan daerah lainnya," pungkasnya.
Lonjakan pendaftaran siswa baru yang terus melampaui kapasitas menunjukkan bahwa MIN 2 Kota Malang telah menjadi salah satu tujuan utama pendidikan dasar berbasis madrasah di Malang Raya. Tantangan berikutnya bukan lagi membangun kepercayaan publik, melainkan bagaimana memperluas kapasitas layanan agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan mengakses pendidikan yang diminati masyarakat.
