JATIMTIMES - Tahun ajaran 2026/2027 menjadi fase lanjutan bagi 92 siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang. Alih-alih membuka penerimaan peserta didik baru, sekolah yang masih berstatus rintisan itu memilih memfokuskan diri pada keberlanjutan pendidikan siswa angkatan pertama sembari menunggu kejelasan pembangunan gedung permanen.
Kepala SRMP 16 Kota Malang, Rida Afrilyasanti, mengatakan seluruh siswa yang telah menyelesaikan tahun pertama pendidikan akan melanjutkan ke jenjang kelas 2 SMP. Jumlah tersebut terdiri dari 41 siswa laki-laki dan 51 siswa perempuan.
Baca Juga : Donor Darah SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Wujud Kolaborasi Sekolah dan Keluarga untuk Kemanusiaan
Menurut Rida, keterbatasan sarana menjadi alasan utama belum dibukanya penerimaan siswa baru pada tahun ini. Lokasi yang saat ini digunakan dinilai belum mampu menampung penambahan peserta didik.
“Kapastitas tempat yang sekarang masih belum memungkinkan untuk menambah siswa. Kami juga masih menunggu arahan terkait lokasi Sekolah Rakyat permanen yang nantinya memiliki kapasitas sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Meski baru berjalan sekitar 11 bulan, Rida menilai perkembangan para siswa cukup menggembirakan. Tidak hanya dari sisi akademik, perubahan perilaku dan pola pikir juga mulai terlihat.
Ia menjelaskan, banyak siswa yang sebelumnya belum memiliki arah dan tujuan pendidikan kini mulai berani menyampaikan cita-cita serta memahami langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meraihnya.
“Anak-anak mulai memiliki motivasi belajar. Mereka tidak hanya berani menyebutkan cita-citanya, tetapi juga mulai memahami proses untuk mewujudkannya,” katanya.
Perjalanan tersebut, lanjut Rida, tidak berlangsung tanpa hambatan. Pada masa awal, sebagian siswa harus beradaptasi dengan sistem pendidikan berasrama yang menerapkan jadwal kegiatan secara disiplin.
“Di rumah mereka terbiasa lebih bebas. Ketika masuk Sekolah Rakyat, seluruh aktivitas sudah terstruktur dan terjadwal. Itu yang awalnya menjadi tantangan,” ungkapnya.
Namun melalui pendampingan guru, tenaga kependidikan, wali asuh hingga wali asrama, para siswa perlahan mampu menyesuaikan diri. Berbagai kegiatan pendukung seperti pembelajaran luar kelas dan kunjungan edukatif juga dinilai membantu meningkatkan semangat belajar mereka.
Baca Juga : Mensos dan KND Luncurkan Buku Fikih, Tegaskan Hak Disabilitas Setara
“Anak-anak mendapat pengalaman belajar langsung di lapangan melalui berbagai kegiatan. Jadi proses belajarnya tidak hanya berlangsung di dalam kelas,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang, Donny Sandito, menegaskan bahwa status sekolah rintisan membuat SRMP 16 belum dapat menerima peserta didik baru pada tahun ajaran ini.
Menurutnya, penambahan kuota baru baru dapat dilakukan apabila fasilitas permanen telah tersedia.
“Kami masih dalam tahap rintisan, sehingga belum membuka penerimaan siswa baru. Kecuali nanti sudah ada gedung Sekolah Rakyat yang terbangun dan siap digunakan,” kata Donny.
Pemerintah Kota Malang berharap pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat dapat segera direalisasikan pemerintah pusat. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai penting untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menjamin keberlangsungan program yang saat ini sudah berjalan.
“Harapannya tahun ini pembangunan bisa terealisasi. Dengan begitu siswa yang sekarang masih belajar di lokasi sementara dapat menempati gedung yang lebih representatif,” pungkasnya.
