Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Internasional

India Blokir Meme dan Satire soal PM Modi, Warga Ramai Kritisi Sensor Pemerintah

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

12 - Apr - 2026, 15:05

Placeholder
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri India Narendra Modi meninggalkan Yerusalem setelah konferensi pers pada 26 Februari. (FOTO: Gil Cohen-Magen/Pool/AFP via Getty Images)

JATIMTIMES - Pemerintah India menjadi sorotan setelah sejumlah meme, satire, dan konten kritik yang menyindir Perdana Menteri Narendra Modi dilaporkan diblokir dari media sosial.

Langkah ini muncul di tengah ramainya kritik publik terhadap respons pemerintah India atas dampak konflik Iran yang memicu gejolak ekonomi dan pasokan energi di negara tersebut. 

Baca Juga : 5 Makanan yang Dikira Asli Indonesia, Ternyata Punya Jejak dari Luar Negeri

Dilansir NPR, Minggu (12/4/2026), gelombang satire bermunculan setelah nilai tukar rupee dan pasar saham India melemah usai pecahnya perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Tak hanya itu, pembatasan pergerakan kapal bahan bakar di Selat Hormuz juga membuat masyarakat India kesulitan mendapatkan gas untuk memasak. Sejumlah restoran hingga pabrik bahkan disebut terpaksa tutup sementara. 

Situasi ini kemudian memicu banyak unggahan sindiran di media sosial seperti X, Instagram, dan Facebook.
Mulai dari meme, kartun, hingga video komedi yang menyoroti gaya Modi saat bertemu pemimpin dunia ramai beredar di internet.

Namun tak lama kemudian, beberapa akun dan unggahan tersebut dilaporkan dibatasi aksesnya di India.

Platform X dan Meta disebut mengirim pemberitahuan kepada pemilik akun bahwa pembatasan dilakukan atas permintaan otoritas India. 

Peneliti kebijakan internet dari Tech Global Institute, Prateek Waghre, mengatakan sebagian besar konten yang diturunkan berisi kritik terhadap pemerintah. “Ini memang konten yang kritis terhadap pemerintah,” ujarnya. 

Ia juga menyebut, dalam banyak kasus, pengguna tidak diberi penjelasan detail mengenai alasan pemblokiran.

Pakar hukum teknologi di New Delhi, Akash Karmakar, menyoroti aturan baru yang mempercepat penghapusan konten di media sosial.

Jika sebelumnya platform diberi waktu 36 jam, kini konten yang dianggap melanggar aturan bisa diminta turun hanya dalam waktu tiga jam.

Baca Juga : Bolehkah Iran Tarik Tol Laut di Selat Hormuz? Ini Fakta Hukum dan Dampaknya

Menurut dia, aturan ini termasuk yang paling ketat di dunia. “Ini adalah tenggat waktu paling agresif dibanding negara mana pun di dunia,” katanya. 

Ia menilai aturan tersebut membuka ruang penyalahgunaan, terutama terhadap kritik dan satire politik.

Pengamat menilai kritik terhadap Modi semakin mudah muncul karena sosoknya selama ini sangat dominan dalam narasi keberhasilan India.

Selama bertahun-tahun, Modi kerap ditampilkan sebagai simbol kemajuan ekonomi, politik, hingga teknologi India. Namun, ketika kondisi ekonomi terguncang, sosok yang sama juga menjadi sasaran utama kritik publik.

Penulis buku Malevolent Republic: A Short History of the New India, Kapil Komireddi, mengatakan masyarakat kini mulai melampiaskan kekecewaan mereka lewat satire.

“Orang merasa bisa mengarahkan frustrasi mereka kepada sosok yang selama ini dikaitkan dengan semua keberhasilan,” ujarnya. 

Meski sejumlah akun sempat diblokir, para satiris mengaku tidak akan berhenti. “Saya akan terus melakukan apa yang masih menjadi hak saya,” kata satiris Prateek Sharma. 


Topik

Internasional India PM Narendra Modi satire



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy