JATIMTIMES - Tiga kecamatan di kawasan Malang Barat yang meliputi Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon paling marak terdampak bencana hidrometeorologi. Pada periode awal Maret 2026 saja, di kawasan tersebut telah terjadi 12 bencana.
Terbaru, kawasan rumpun bambu di Jalan Raya Pagersari, Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dilaporkan roboh ke jalan. Dampaknya, akses jalan yang menghubungkan Ngantang-Blitar via Wlingi tertutup oleh material rumpun bambu tersebut.
Baca Juga : Dewanti Rumpoko Ingatkan Risiko Longsor dan Banjir di Jalur Mudik Malang Raya
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Malang Purwoto mengatakan, rumpun bambu yang roboh hingga menutup akses jalan tersebut dilaporkan ke BPBD saat menjelang Minggu (8/3/2026) dini hari.
"Tim BPBD bersama sejumlah personel gabungan kemudian dikerahkan untuk melakukan pendataan dan penanganan serta pembersihan di lokasi kejadian," ujarnya.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, sebelum rumpun bambu tersebut roboh ke jalan sempat terjadi hujan yang di sertai angin di Wilayah Kecamatan Ngantang. "Sehingga mengakibatkan Jalan Raya Ngantang menuju Blitar via Wlingi tertutup," ujarnya.
Sementara itu, sejumlah personel gabungan dari unsur BPBD dan PMI Kabupaten Malang, Muspika Ngantang, para relawan, hingga perangkat desa dan masyarakat setempat dilibatkan dalam upaya penanggulangan pada peristiwa bencana tersebut. Pada saat itu penanganan bencana juga turut menggunakan gergaji mesin untuk membersihkan material rumpun bambu yang roboh ke jalan.
Menjelang Minggu (8/3/2026), penanganan serta pembersihan dilaporkan telah selesai. "Sehingga saat ini akses jalan sudah bisa dilewati dan arus lalu lintas kembali normal," ujarnya.
Data BPBD menyebutkan, pada periode awal Maret 2026 bencana hidrometeorologi marak terjadi pada sejumlah wilayah di Kabupaten Malang. Sejak tanggal 1 hingga 4 Maret 2026, sedikitnya telah terjadi 24 bencana hidrometeorologi.
Rinciannya, 10 kejadian tanah longsor, tiga kejadian banjir, delapan kejadian cuaca ekstrem, dan tiga kejadian pohon tumbang. Dari jumlah tersebut, kawasan Malang Barat yang meliputi Pujon, Ngantang, Kasembon menjadi wilayah paling parah dari adanya kejadian bencana hidrometeorologi. Yakni dengan total 12 kejadian.
Sementara itu, sebanyak 24 kejadian bencana hidrometeorologi tersebut juga mengakibatkan sejumlah dampak yang signifikan. Yakni mulai dari beberapa rumah yang dilaporkan rusak hingga tergenang banjir.
Baca Juga : DPUPRPKP Kota Malang Luruskan Penyebab Luapan Air di Suhat, Sampah Jadi Biang Utama Banjir
Rinciannya, ada 10 rumah yang dilaporkan tergenang banjir. Kemudian 79 rumah, satu infrastruktur, dan tiga fasilitas umum rusak. Selain itu, pada peristiwa bencana hidrometeorologi tersebut juga mengakibatkan sejumlah akses jalan terhambat.
Menanggapi banyaknya bencana hidrometeorologi tersebut, Purwoto mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Mengingat, potensi bencana hidrometeorologi diprediksi masih marak terjadi di Kabupaten Malang.
Terbukti, pada Sabtu (7/3/2026), dua peristiwa bencana terjadi pada dua kecamatan dalam kurun waktu yang berdekatan. Selain rumpun bambu roboh hingga menghambat akses jalan penghubung menuju Blitar via Wlingi, bencana yang dipicu karena cuaca ekstrem juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Tumpang.
Ketika itu, hujan disertai angin kencang mengakibatkan pohon peneduh jenis Keres tumbang menimpa sejumlah ruko. Pada peristiwa tersebut mengakibatkan lima ruko di kawasan Terminal Tumpang rusak.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada. Hindari daerah rawan bencana serta hendaknya selalu mempersiapkan perlengkapan darurat untuk mengantisipasi terjadinya bencana," pungkas Purwoto.
