Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Blitar 1948: Raden Darmadi dan Perang Gerilya di Brantas Selatan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

16 - Feb - 2025, 11:22

Placeholder
Foto Raden Darmadi di Pendapa Agung Ronggo Hadi Negoro, Blitar. Ini adalah potret Darmadi saat menjabat sebagai Bupati Blitar setelah Agresi Militer II Belanda. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada masa revolusi, saat Nusantara dikepung agresi Belanda, seorang tokoh di Blitar bergerak dalam bayang-bayang perlawanan. Raden Darmadi, yang dikenal sebagai ayah dari Pahlawan PETA Supriyadi, bukan sekadar seorang pejabat pemerintahan. Ia adalah penggerak perjuangan, arsitek gerilya, dan pemimpin yang mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dari Pegawai Kolonial ke Pejuang Republik

Raden Darmadi lahir dalam keluarga bangsawan dengan garis keturunan dari KRT Sosronegoro I, Bupati Grobogan. Kariernya di pemerintahan Hindia Belanda membawanya berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain di Jawa Timur, hingga akhirnya mencapai puncak sebagai Bupati Kediri ke-12 dan Bupati Blitar ke-9. Namun, kariernya bukan sekadar pencapaian administratif.

Baca Juga : Kaluna 'Home Sweet Loan' Menikah, Yunita Siregar Resmi Jadi Istri Wicky Olindo

Di balik keteguhan sikapnya, tersimpan strategi perlawanan yang jauh dari sekadar diplomasi. Saat Belanda melancarkan Agresi Militer, Blitar menjadi pusat perjuangan. Darmadi, yang awalnya merupakan pegawai kolonial, melihat kenyataan bahwa kemerdekaan harus dipertahankan dengan darah dan senjata. Ia bukan hanya seorang administrator, melainkan pemimpin yang memahami bahwa kemerdekaan tidak dapat dinegosiasikan.

Malam Kelahiran Supriyadi di Trenggalek, 13 April 1923

Raden Darmadi duduk di serambi rumahnya, tubuhnya tegang, jemarinya mencengkeram kain lurik yang melilit pinggangnya. Malam itu, angin bertiup perlahan, membawa aroma tanah basah selepas hujan sore. Lampu minyak di sudut rumah berkedip-kedip, cahayanya berpendar samar di dinding kayu jati. Di dalam, suara lirih seorang perempuan beradu dengan derak lantai kayu yang bergetar.

R.Ngt Rahayu sedang berjuang melahirkan anak pertamanya. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya, sementara seorang dukun bayi dengan tangan cekatan membimbing proses kelahiran. Getar suara doa terdengar di antara tarikan napas beratnya. Dan akhirnya, tangis bayi pertama kali pecah, menggema di ruang sederhana itu. Seorang anak laki-laki telah lahir—Supriyadi, penerus darah biru Mataram.

Darmadi bergegas masuk, matanya berkaca-kaca. Di pembaringan, Rahayu tersenyum lemah, tangannya yang ringkih membelai kepala bayi mungil yang masih merah. Namun, takdir telah menuliskan jalan berbeda. Kebahagiaan itu singkat. Dua tahun setelah kelahiran Supriyadi, Rahayu meninggal dunia. 

Kehilangan itu berat bagi Darmadi, tetapi hidup harus terus berjalan. Demi masa depan putranya, ia menikah lagi dengan R.A. Susilih, seorang perempuan keturunan priyayi yang dikenal lembut dan penuh kasih. Sejak kecil, Supriyadi tidak pernah tahu bahwa Rahayu telah tiada. Baginya, Susilih adalah ibu kandungnya. Rahasia ini tersimpan rapat dalam keluarga hingga bertahun-tahun kemudian.

R.Ngt Rahayu bukan sekadar perempuan biasa. Ia lahir dari garis panjang ningrat Mataram, seorang putri yang sejak kecil diajarkan nilai kebijaksanaan dan kepemimpinan. Ayahnya, Raden Sumodiharjo, adalah seorang bangsawan yang dihormati di lingkungannya. Meski berasal dari keluarga priyayi, Rahayu tidak dibesarkan dalam kemewahan yang berlebihan.

Sejak kecil, ia diajarkan sastra Jawa, ilmu tata krama, serta pemahaman mendalam tentang kebangsawanan. Namun, yang membuatnya berbeda adalah kepekaan sosialnya. Ia tak segan turun ke dapur membantu memasak atau berbicara dengan para abdi dalem. Rahayu memiliki pesona yang lembut tetapi tegas—sifat yang kelak diwariskan kepada anaknya.

Darahnya mengalir dari garis Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram yang terkenal karena perjuangannya melawan VOC. Jika ditarik lebih jauh, silsilahnya sampai pada Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram, bahkan hingga Brawijaya V dari Majapahit. Warisan darah perjuangan itu tidak berhenti di dirinya, tetapi berlanjut pada putranya, Supriyadi.

Namun, nasib berkata lain. Makamnya di Tulungagung kini sunyi, hanya rerumputan liar yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.

Blitar dalam Bayang Agresi Militer

Peran Blitar dalam Revolusi Nasional tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947, Malang dibumihanguskan, dan Blitar menjadi pusat pemerintahan darurat Jawa Timur. Darmadi berada di jantung pergerakan ini. Ia melihat bagaimana kota yang dipimpinnya menjadi benteng pertahanan terakhir sebelum pasukan Republik harus bergerilya.

Agresi Militer Belanda II pada 21 Desember 1948 menjadi titik balik perlawanan. Blitar jatuh ke tangan Belanda, dan pemerintahan Jawa Timur harus berpindah ke Gunung Wilis. Namun, Darmadi tidak menyerah. Alih-alih tunduk pada Belanda, ia justru memilih bergerilya, mengorganisasi perlawanan di selatan Sungai Brantas.

Baca Juga : Euforia NCTzen Jelang Konser Hari Pertama NCT 127 di GBK

Di Lodoyo, Darmadi bersama Samandikun—mantan Bupati Blitar—membangun jaringan gerilya. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga aktif menyerang posisi Belanda. Salah satu peristiwa yang menandai perlawanan ini adalah perjalanan "Banteng Blorok," sebuah meriam yang hendak dipindahkan oleh Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dari Trenggalek ke Wlingi.

Ketika sampai di Sutojayan, pasukan Belanda menghadang. Namun, berkat taktik gerilya dan pengorbanan para pejuang, meriam berhasil diselamatkan dengan menyeberangi Sungai Brantas menuju Wlingi. Peristiwa ini menegaskan bahwa perlawanan di Blitar bukan sekadar pertempuran sporadis, melainkan sebuah gerakan strategis yang terorganisir.

Pada 15 Maret 1949, Darmadi menerima perintah dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Pacitan untuk melakukan "long march" mengunjungi berbagai wilayah di Jawa Timur. Dalam perjalanan ini, ia bersama pasukan TRIP yang hanya berjumlah dua orang bergerak dari satu titik ke titik lain, mengoordinasikan perlawanan dan memastikan bahwa semangat perjuangan tetap menyala.

Saat Konferensi Meja Bundar berakhir pada 27 Desember 1949 dan Belanda menyerahkan kembali Jawa Timur kepada Republik Indonesia, Darmadi kembali ke Blitar sebagai Bupati. Ia bukan hanya seorang pemimpin daerah, tetapi simbol ketahanan Blitar dalam menghadapi kolonialisme.

Wisma Darmadi dan Jejak yang Terlupakan

Rumah Raden Darmadi di Jalan Shodanco Supriyadi, Kota Blitar, berdiri sebagai saksi bisu perjuangannya. Terletak tidak jauh dari Monumen PETA, bangunan kolonial ini menyimpan kisah perjuangan yang kerap terabaikan. Wisma Darmadi menjadi tempat berkumpulnya para pejuang, strategi disusun, dan perlawanan dijalankan.

Namun, sejarah sering kali memilih pahlawannya sendiri. Nama Darmadi kerap tenggelam dalam bayang putranya, Shodanco Supriyadi. Padahal, tanpa perjuangan Darmadi, Blitar mungkin tidak akan menjadi benteng pertahanan terakhir Republik di Jawa Timur.

Raden Darmadi bukan hanya bupati, bukan hanya seorang ayah, tetapi seorang pejuang yang memahami bahwa kemerdekaan tidak diberikan, melainkan diperjuangkan. Dalam dinamika revolusi, ia bergerak dalam senyap, membangun perlawanan, dan mempertaruhkan segalanya demi republik yang masih bayi.

Sejarah mungkin belum memberikan tempat yang layak bagi Darmadi. Namun, dalam ingatan mereka yang memahami perjuangan, namanya akan tetap abadi sebagai salah satu pejuang yang mempertahankan republik di tengah gelombang agresi kolonial.


Topik

Serba Serbi raden darmadi supriyadi peta blitar tokoh blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana