Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

R.Ngt. Rahayu Darmadi: Ibu Kandung Supriyadi Pahlawan PETA yang Namanya Hilang dari Sejarah

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

15 - Feb - 2025, 10:34

Placeholder
Kiri: Makam R.Ngt. Rahayu Darmadi di Tamanan, Tulungagung, ibu kandung Supriyadi. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES) Kanan: Supriyadi, pemimpin pemberontakan PETA Blitar yang hingga kini masih menyisakan misteri. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Diantara nisan-nisan tua di Makam Umum Kelurahan Tamanan, Kabupaten Tulungagung, terdapat sebuah pusara yang jarang dikunjungi. Di bawah bayang-bayang pohon yang rindang, makam itu menyimpan kisah seorang perempuan yang namanya nyaris tenggelam dalam sejarah besar perjuangan Indonesia. Dialah Raden Nganten (R.Ngt.) Rahayu Darmadi, ibu kandung dari Supriyadi—pemimpin pemberontakan PETA di Blitar yang hingga kini tetap menjadi legenda.

Sedikit yang tahu bahwa perempuan ini meninggal dunia ketika putranya baru berusia dua tahun. Berdasarkan tahun kelahiran Supriyadi, yakni 13 April 1923, diperkirakan R.Ngt. Rahayu wafat pada tahun 1925. Ia pergi sebelum sempat melihat putranya tumbuh menjadi pemuda pemberani yang mengangkat senjata melawan Jepang.

Baca Juga : Rebus Jagung Berujung Petaka: Dapur Nenek 69 Tahun di Blitar Ludes Dilalap Api

Makamnya, meskipun luput dari hiruk-pikuk peringatan sejarah, tidak terawat dengan baik. Salah satu nisannya patah, dan area sekitarnya dipenuhi rumput ilalang. Keadaannya menunjukkan bahwa makam ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Namun, beberapa warga setempat, terutama para penjaga makam, tetap mengenalinya sebagai bagian dari sejarah yang harus dijaga.

R.Ngt. Rahayu Darmadi berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Dari pernikahannya dengan Raden Darmadi, seorang pejabat pemerintah kolonial, ia dikaruniai dua anak laki-laki. Anak sulung mereka kemudian dikenal sebagai Supriyadi. Namun, kebahagiaan keluarga ini tidak berlangsung lama.

Saat Supriyadi baru berusia dua tahun, ibunya meninggal dunia. Tidak banyak catatan yang mengungkap penyebab kematian Rahayu, tetapi kepergiannya meninggalkan dampak besar pada kehidupan putranya. Tanpa kehangatan seorang ibu, Supriyadi kemudian diasuh oleh keluarga dari pihak ibunya sebelum akhirnya kembali ke rumah ayahnya.

Setahun setelah kematian Rahayu, Raden Darmadi menikah lagi dengan Raden Ayu (R.A.) Susilih. Perempuan ini, meski hanya ibu tiri, dikenal sangat menyayangi Supriyadi dan membesarkannya dengan penuh perhatian. Ia kemudian menjadi ibu dari sebelas anak lainnya, yang menjadi saudara tiri Supriyadi.

Roro Rahayu: Ningrat Jawa Berdarah Mataram

Di bawah sinar rembulan yang temaram, seorang gadis muda berdiri di halaman rumah joglo milik keluarganya. Kulitnya sawo matang, berpadu sempurna dengan rambut hitam lebat yang tergerai hingga punggung. Tatapan matanya tenang, mencerminkan kelembutan sekaligus kecerdasan yang diwarisinya dari garis panjang leluhurnya. Ia adalah Roro Rahayu, putri kesayangan Raden Sumodiharjo—bunga ningrat yang tumbuh dalam kesederhanaan meski berasal dari darah biru.

Sejak kecil, Rahayu dididik dalam lingkungan yang menjunjung tinggi adab dan kebijaksanaan. Ayahnya, Raden Sumodiharjo, bukan sekadar bangsawan, tetapi juga seorang yang dikenal berwibawa dan disegani. Dalam rumahnya, Rahayu diajarkan ilmu tata krama, sastra Jawa, dan ajaran kepemimpinan yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Meskipun hidup di tengah kemewahan khas priyayi, Rahayu lebih memilih kesederhanaan. Ia tidak asing dengan dapur, ladang, atau perbincangan rakyat kecil. Kepribadiannya yang lembut, namun teguh, menjadi daya tarik yang membuat banyak orang segan sekaligus hormat kepadanya.

Namun, darah kebangsawanan Rahayu bukan sekadar gelar kosong. Silsilahnya menghubungkannya langsung dengan para pendiri Kesultanan Mataram. Ia adalah keturunan Kanjeng Pangeran Tohpati, yang garisnya tersambung hingga Sultan Agung Hanyakrakusuma, Panembahan Hanyakrawati, dan Panembahan Senopati—pendiri Kesultanan Mataram. Jika ditarik lebih jauh, darah Rahayu bersumber dari garis keturunan terakhir Majapahit, Raja Brawijaya V. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, darah kepemimpinan itu terus diwariskan.

Sebagai putri dari Raden Sumodiharjo, Rahayu tumbuh dengan kesadaran akan tanggung jawab leluhur. Ia menikah dengan Raden Darmadi, seorang pejabat pemerintah kolonial. Pernikahan mereka dianugerahi dua anak laki-laki, dan putra sulung mereka kelak dikenal sebagai Supriyadi—sang pahlawan yang berani menantang kekuasaan kolonial Jepang. Dari ibunya, Supriyadi mewarisi keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan kepada tanah air.

Darah Perjuangan dari Sultan Agung

Dari silsilah ini, kita dapat memahami dari mana darah perjuangan Supriyadi berasal. Sebagai keturunan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Supriyadi mewarisi karakter kepemimpinan yang kuat dan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Sultan Agung dikenal sebagai raja Mataram yang paling gigih menentang VOC, dengan dua kali melancarkan serangan besar ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Semangat anti-kolonial inilah yang tampaknya diwariskan kepada Supriyadi, yang di kemudian hari menolak tunduk pada kekejaman tentara Jepang dan memilih jalan perlawanan.

Darah Mataram yang mengalir dalam tubuh Supriyadi bukan hanya sekadar silsilah kebangsawanan, tetapi juga warisan semangat perjuangan. Sultan Agung tidak hanya dikenal sebagai pemimpin besar, tetapi juga sebagai pemikir yang menanamkan konsep kemandirian bangsa dan kehormatan dalam melawan penjajahan. Jejak ini tampak jelas dalam keberanian Supriyadi saat memimpin pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) melawan Jepang pada 1945—suatu tindakan yang sangat berisiko tetapi didorong oleh semangat kepahlawanan yang mengakar dalam darahnya.

Namun, kehidupan Rahayu tak selalu berjalan mulus. Sejarah mencatat nama Supriyadi sebagai pejuang, tetapi nama ibunya nyaris terlupakan. Makamnya di Tulungagung jauh dari perhatian, nisan yang patah dan rumput ilalang yang menjulang menjadi saksi bisu dari perjalanan hidupnya. Ia, yang melahirkan pahlawan, seolah tak dianggap sebagai bagian dari sejarah yang harus dihormati.

Hari ini, darah ningrat yang mengalir dalam diri Roro Rahayu tak hanya tercermin dalam silsilah panjang keluarganya, tetapi juga dalam warisan nilai yang ia turunkan. Ia adalah perempuan yang tidak hanya melahirkan seorang pahlawan, tetapi juga mewariskan semangat perjuangan kepada anaknya—sebuah warisan yang jauh lebih abadi daripada sekadar gelar kebangsawanan.

Supriyadi dan Warisan Darah Pejuang

Sebagai anak seorang pejabat kolonial, Supriyadi memiliki akses pendidikan yang baik. Ia menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sebelum akhirnya bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi (AMS).

Namun, di balik pendidikan bergaya Eropa yang diterimanya, Supriyadi tumbuh dengan jiwa pemberontak. Ia melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya, terutama ketika Jepang menduduki Indonesia dan memaksakan kerja paksa (romusha) yang mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi rakyat.

Pada tahun 1943, Jepang membentuk Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), sebuah organisasi militer yang dimaksudkan untuk membantu pertahanan mereka di Asia Tenggara. Supriyadi bergabung dan segera menunjukkan bakat kepemimpinan yang luar biasa. Ia ditempatkan di Blitar sebagai komandan peleton (shodancho), sebuah posisi yang akhirnya mengantarkannya ke dalam sejarah besar perlawanan terhadap Jepang.

Baca Juga : Konfercab GP Ansor Surabaya Belum Jelas, Anak Bungsu Khofifah Merasa Diganjal

Peristiwa 14 Februari 1945 menjadi salah satu momen paling heroik dalam sejarah perlawanan Indonesia terhadap Jepang. Di bawah kepemimpinan Supriyadi, pemberontakan PETA di Blitar meletus. Para prajurit muda yang sebelumnya dilatih oleh Jepang berbalik melawan tuan mereka sendiri.

Mereka menyerang markas Jepang, membunuh beberapa tentara musuh, dan merebut gudang senjata. Namun, perlawanan ini tidak berlangsung lama. Jepang segera mengirim bala bantuan dan menggempur pasukan pemberontak dengan kekuatan penuh.

Sebagian besar anggota PETA yang terlibat dalam pemberontakan ditangkap dan dieksekusi. Namun, Supriyadi menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi padanya. Ada yang percaya ia gugur dalam pertempuran, ada yang meyakini ia berhasil melarikan diri dan hidup dalam penyamaran. Hingga kini, keberadaannya tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah Indonesia.

Sementara nama Supriyadi terus dikenang sebagai pahlawan nasional, nama ibunya nyaris terlupakan. R.Ngt. Rahayu Darmadi tetap beristirahat dalam kesunyian makam di Tamanan, jauh dari sorotan sejarah.

Beberapa tahun terakhir, ada upaya kecil dari para pemerhati sejarah dan warga setempat untuk menjaga dan merawat makam ini. "Kami merasa bertanggung jawab untuk menjaga tempat peristirahatan ibu seorang pahlawan. Ini bagian dari sejarah yang harus dihormati," ujar seorang peziarah yang rutin membersihkan makam.

Namun, perhatian dari pemerintah dan masyarakat luas masih minim. Tidak ada tanda atau plakat resmi yang menginformasikan bahwa makam ini adalah tempat peristirahatan ibu Supriyadi.

Peringatan 14 Februari 2025 ini seharusnya menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang Supriyadi, tetapi juga sosok yang melahirkannya. R.Ngt. Rahayu Darmadi mungkin tidak mengangkat senjata atau memimpin pemberontakan, tetapi tanpa dirinya, tidak akan ada Supriyadi.

Budayawan dari Mataram Heritage, Kang Bobby, menekankan pentingnya merawat dan menziarahi makam ibu Supriyadi sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. "Di Hari Cinta Tanah Air, jangan hanya menggelar seremonial belaka. Ziarahilah makam Ibu Supriyadi, seorang ningrat perempuan yang telah melahirkan pahlawan," ujarnya.

Kang Bobby juga mengajak Pemerintah Daerah serta para pemuda untuk ikut peduli terhadap keberadaan makam tersebut. "Pemkot Blitar, para pemuda. Ayo rawat makam Ibu Rahayu. Ini situs bersejarah lho," katanya.

Ia pun menyoroti kondisi makam yang dinilainya kurang terawat. "Jika saya lihat, kondisinya cukup miris. Nisannya ada yang patah, juga kurang bersih," ungkapnya. Menurutnya, perhatian terhadap makam Ibu Rahayu bukan hanya soal menjaga warisan sejarah, tetapi juga bagian dari penghormatan kepada perjuangan Supriyadi dan keluarganya.

Sejarah harus ditulis dengan lebih lengkap. Bukan hanya tentang para pahlawan yang mengorbankan nyawa di medan perang, tetapi juga tentang mereka yang memberi mereka kehidupan dan nilai-nilai perjuangan.

Kini, pertanyaan terbesar yang tersisa adalah: sampai kapan makam R.Ngt. Rahayu Darmadi akan terus berada dalam keheningan? Sudah saatnya bangsa ini memberikan penghormatan yang layak bagi perempuan yang melahirkan salah satu pejuang terbesar dalam sejarah Indonesia.


Topik

Serba Serbi rahayu darmadi ibu supriyadi peta blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana