Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Politik Pilkada Kabupaten Blitar 2024

Safari Budaya Mas Ghoni: Menghidupkan Nilai Sejarah di Candi Simping

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

27 - Oct - 2024, 11:12

Placeholder
Mas Ghoni kunjungi Candi Simping, resapi sejarah Raden Wijaya. (Foto: Aunur Rofiq/ JatimTIMES)

JATIMTIMES- Calon Wakil Bupati Blitar nomor urut 02, Abdul Ghoni, yang akrab disapa Mas Ghoni, menjalankan agenda budaya yang penuh makna pada Minggu, 27 Oktober 2024. Mengendarai Vespa klasik, Ghoni tiba di Candi Simping bersama tim pemenangan dan para relawan sekitar pukul sembilan pagi.

Tempat persemayaman abu pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, yang biasanya sepi dari pengunjung ini, hari itu menyambut kehadiran Ghoni dengan atmosfer sejarah yang kuat. Bersama Raihan, juru pelihara candi, Ghoni mengawali diskusi panjang tentang sejarah dan nilai penting yang tersimpan di situs tersebut.

Baca Juga : Disebut Tak Bawa Kemajuan Saat Pimpin Kota Malang, Wahyu Hidayat Tunjukan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi

Dalam kunjungannya, Ghoni menyatakan tekadnya untuk menghidupkan kembali Candi Simping sebagai salah satu situs penting di Kabupaten Blitar. Sebagai pendamping calon bupati Rini Syarifah, atau yang dikenal dengan sebutan Mak Rini, Ghoni mengungkapkan bahwa pelestarian budaya merupakan salah satu tanggung jawab utama pemerintah

“Ini adalah kewajiban kami untuk memastikan situs-situs budaya, seperti Candi Simping, tetap lestari,” ujar Ghoni. Bagi dirinya, candi ini tak hanya sekadar bangunan, tetapi merupakan simbol lahirnya Nusantara yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan budaya.

Ghoni menilai, perhatian terhadap Candi Simping selama ini kurang maksimal, bahkan sering kali terlewatkan dalam agenda Hari Jadi Blitar. Menurutnya, hal ini sangat disayangkan mengingat peran penting Candi Simping sebagai tempat pendarmaan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. 

Ghoni pun menjanjikan bahwa, jika terpilih, Candi Simping akan dimasukkan dalam rangkaian ziarah resmi pada Hari Jadi Blitar. “Saya jamin tidak akan terlewatkan lagi. Ini janji saya,” tegasnya.

Sebagai bagian dari visinya, Ghoni memandang Candi Simping bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga potensi besar dalam pengembangan wisata. Ia menilai bahwa wisata sejarah, yang menggabungkan edukasi dan budaya, memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. 

Dengan program yang akan ia jalankan, Ghoni berharap Candi Simping dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang bisa menarik minat masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. 

“Kami tidak hanya berfokus pada wisata alam, tetapi juga pada wisata budaya yang memiliki nilai edukasi tinggi,” jelasnya. 

Ghoni menambahkan bahwa situs ini akan dijadikan tempat belajar bagi para pelajar, mulai dari tingkat SD hingga SMA, agar mereka dapat memahami dan mengapresiasi sejarah Blitar.

Selain itu, Ghoni juga menyoroti pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian sejarah lokal. Menurutnya, program yang ia canangkan akan memberikan ruang bagi pelajar untuk memahami sejarah secara langsung, bukan hanya dari buku atau teori di kelas. 

Dengan mengunjungi dan mempelajari langsung Candi Simping, Ghoni berharap generasi muda akan merasa bangga dengan warisan budaya mereka sendiri.

Candi Simping, yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Blitar, menyimpan nilai sejarah yang besar. Tempat ini menjadi saksi perjalanan hidup Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, yang menjadi cikal bakal Nusantara. 

Meski begitu, popularitas Candi Simping belum sebanding dengan situs bersejarah lainnya di Blitar, seperti Makam Bung Karno. Sejak ditemukan kembali oleh Johannes Elias Teijsmann pada tahun 1854 dalam kondisi yang sudah runtuh, candi ini masih perlu perhatian dan konservasi lebih lanjut. Hingga kini, relief-relief indah yang menghiasi batu andesit candi masih dapat dinikmati, meskipun sebagian besar bangunan atasnya sudah rusak.

Dalam percakapan dengan Raihan, juru pelihara candi, Ghoni menggali lebih dalam mengenai kondisi candi dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga situs tersebut. Raihan menjelaskan bahwa Candi Simping hanya memiliki sedikit pengunjung, bahkan pada hari-hari besar. 

Baca Juga : Debat Perdana, Abadi Kompak Kenakan Setelan Kemeja Putih dan Peci Hitam di Kepala

“Tidak banyak orang yang tahu, padahal ini adalah bagian dari sejarah kita,” ungkap Raihan. Ghoni pun merespons dengan menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya pelestarian candi dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya sejarah ini.

Sejalan dengan program pelestarian budaya, Ghoni juga merencanakan untuk mengintegrasikan situs-situs bersejarah ini ke dalam kurikulum pendidikan lokal. Ia berharap generasi muda Blitar lebih mengenal akar sejarah mereka dan menjadikannya sebagai bagian dari identitas yang mereka banggakan.

“Program kami akan menggabungkan elemen sejarah dan nasionalisme dalam berbagai kegiatan edukatif,” tambahnya. Dengan demikian, Ghoni ingin agar pelestarian Candi Simping dapat berkesinambungan, bukan hanya untuk kepentingan generasi saat ini, tetapi juga untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Sementara itu, tanggapan positif datang dari budayawan Blitar, Anwar Hakim Darajad, yang menilai bahwa inisiatif Ghoni dalam mengangkat nilai sejarah lokal patut diapresiasi. Menurut Anwar, Blitar memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata sejarah, terutama dengan situs-situs penting seperti Candi Simping dan Penataran. 

Namun, Anwar mengingatkan agar program ini tidak hanya berfokus pada kepentingan ekonomi, tetapi juga pada aspek edukasi dan konservasi.

“Upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, baik dari segi edukasi maupun konservasi,” ujar Anwar. 

Ia menambahkan bahwa peran masyarakat juga sangat penting dalam menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah. Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat, terutama generasi muda, akan memastikan bahwa sejarah Blitar tetap terjaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Dengan semangat besar yang dibawa oleh Abdul Ghoni dan timnya, diharapkan Candi Simping bisa menjadi ikon sejarah yang lebih dikenal, tidak hanya di Blitar tetapi juga di tingkat nasional. 

Melalui program-program ini, Ghoni berharap agar sejarah Blitar dapat terus hidup dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, membangun identitas yang kokoh, serta memperkuat kebanggaan mereka terhadap warisan budaya yang ada.

 


Topik

Politik Pilkada Kabupaten Blitar Mas Ghoni Candi Simping



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni