Kepala Subdirektorat Pasar Segmen Retail Bekraf, Muhammad Jufry (kiri) saat melakukan konferensi pers Kreatifood 2018 di Malang Town Square (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Subdirektorat Pasar Segmen Retail Bekraf, Muhammad Jufry (kiri) saat melakukan konferensi pers Kreatifood 2018 di Malang Town Square (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Geliat sektor kuliner dalam pasar nasional terus menunjukkan tren positif. Badan ekonomi kreatif (Bekraf) pun menilai, sektor tersebut mampu menyumbang produk domestik bruto (PDB) di Indonesia 41,80 persen sepanjang 2016. Angka tersebut dikatakan terus melonjak hingga pertengahan 2018 ini.

Kepala Subdirektorat Pasar Segmen Retail Bekraf, Muhammad Jufry menyampaikan, pasar di sektor kuliner memang cukup menjanjikan. Saat ini, Bekraf pun semakin konsentrasi mendorong produk-produk kuliner lokal untuk bisa dinikmati dan berkembang pada pasar yang lebih luas.

Salah satunya menurut Jufry adalah melalui event Kreatifood 2018 yang tahun ini diselenggarakan di 10 kota. Kota Malang pun menjadi daerah ke tujuh yang disasar sebelum Surabaya, Medan, Pelembanh, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

"Event ini tujuannya juga untuk mencari distributor dan investor bagi teman-teman startup di bidang kuliner. Dan hasilnya memang cukup memuaskan karena nilai investasinya juga lumayan besar," katanya pada wartawan, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, Kreatifood selama ini selalu berhasil mempertemukan pelaku kuliner binaan Bekraf dengan para investor. Bukan hanya investor lokal, melainkan juga investor dari luar negeri. Terbukti, ada salah satu produk yang mengikuti Kreatifood dan kini sudah melakukan ekspor ke Singapura.

Selain itu, beberapa brand juga tengah menjajaki peluang pasar ekspor seperti Vietnam, Kamboja, dan Brazil. Hal itu dikarenakan pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner tersebut tak hanya mengikuti Kreatifood melainkan juga berbagai event lain, baik di dalam ataupun di luar negeri.

Lebih jauh dia menjelaskan, pelaku kuliner yang ikut dalam Keearifood diharuskan mengikuti pameran di luar daerahnya sendiri. Artinya, pelaku ekonomi kreatif di bidang kuliner yang berasal dari Malang tidak diperbolehkan untuk turun dalam ajang Kreatifood di Kota Malang. Melainkan mereka harus mengikuti Kreatifood yang ada di luar daerahnya.

"Jadi selama event Kreatifood di Malang sampai tanggal 21 Oktober besok, pelaku kulinernya sama sekali tidak ada yang berasal dari Malang. Tujuannya adalah untuk memperluas pasar pelaku kuliner itu tadi di daerah lain. Karena ada investor lokal yang kami undang," imbuhnya.

Sementara itu, perwakilan Perkumpulan Food Start Up Indonesia, Bonnie Susilo menambahkan, Kreatifood menjadi salah satu event yang ia nilai cukup berhasil dalam mengangkat produk kuliner Indonesia. Karena jumlah investasi yang sudah masuk sejak 2016 hingga saat ini tercatat mencapai Rp 23 Miliar hingga Rp 25 Miliar. 

Kebanyakan, investor maupun distributor dan reseller tertarik dengan produk unik dalam kemasan. Seperti kripik hingga minuman kemasan non instan. Rata-rata, produk tersebut dilirik dan kemudian terjalin kerjasama antara pelaku kuliner dan investor lokal.

"Saat ini memang didominasi untuk kuliner kemasan, tapi bukan yang instan," jelas pria berkacamata itu.

Dia juga menyebut, produksi yang dihasilkan oleh peserta Kreatifood selalu mengalami kenaikan cukup signifikan saat usai mengikuti ajang tersebut. Karena setiap pelaku dapat dikatakan 100 persen mendapat investor dan distributor baru di setiap daerah yang dikunjungi.

"Karena kami tidak merekrut pelaku kuliner yang belum siap dengan pasar dan investor. Bahkan, saat ini investor dari korporasi juga sudah mulai tertarik karena mereka menilai pelaku kuliner Bekraf sudah mendapat pelatihan yang cukup melalui managemen, pemasaran, dan lain sebagainya," urainya.

Di sisi lain, peserta Food Startup Indonesia, Diah menyampaikan, omset yang ia dapatkan saat mengikuti event Kreatifood tidak terlalu besar. Melainkan ia selalu mendapat distributor bahkan investor baru di setiap daerah. Sehingga, produknya pun sekarang sudah dapat dibeli di berbagai wilayah di Indonesia.

"Kalau bicara omset tak seberapa, tapi karena bertemu distributor dan investor baru, itu yang membuat perencanaan produksi kita dalam jangka panjang terbuka luas," pungkasnya.