Penyerahan CSR dari Bank Jatim untuk Pemkot Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Penyerahan CSR dari Bank Jatim untuk Pemkot Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kebiasaan masyarakat di Kota Batu ini mungkin lain daripada yang lain. Di saat banyak orang memilih berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga kota apel ini justru takut dan memilih banyak-banyak menabung.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Bank Jatim HR Soeroso dalam kegiatan peresmian kantor cabang dan penyaluran CSR untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, hari ini (17/10/2018). Menurut Soeroso, angka kredit di Kota Batu masih belum maksimal. "Kredit di Batu ini yang harus ditingkatkan. Kalau menabung sudah bagus, utangnya yang kurang. Tampaknya harus diajari," ujarnya usai kegiatan.

Hal tersebut, lanjutnya, karena pola pikir masyarakat maupun pengusaha masih relatif tradisional. Artinya, ketika mendapatkan laba dari usahanya, masyarakat lebih memilih untuk diputar lagi sebagai modal. Sehingga, tidak memanfaatkan fasilitas-fasilitas kredit permodalan yang memang sudah disiapkan. 

"Masyarakat Batu masih harus diajari, meski pengusaha jangan digunakan keuntungan diputer (sebagai modal), tapi dideposito. Lalu mengajukan kredit untuk usahanya," tuturnya. Saat ini, lanjutnya, jumlah nasabah Bank Jatim di Kota Batu mencapai angka 2 juta lebih dengan total aset sekitar Rp 654 miliar. 

Dari angka itu, lanjutnya, nilai tabungan di Kota Batu masih sangat besar karena masih di atas 64 persen. "Padahal sebagai bank pemerintah, kredit yang diberikan Bank Jatim relatif lebih murah dibandingkan bank-bank lain yang hanya sekitar 2 persen," urainya. Hal tersebut menurutnya sangat bisa digunakan oleh masyarakat Batu untuk mulai berwirausaha.

Dengan diresmikannya kantor cabang baru, Soeroso berharap nantinya pelayanan bagi masyarakat akan lebih baik. Terlebih saat ini berbagai fitur telah disediakan sehingga nasabah bisa mengakses melalui handphoe baik melalui SMS banking hingga e-banking. Selain itu, pihaknya juga terus menyalurkan corporate sosial responsibility (CSR) sebagai bentuk tanggung jawab ikut mensupport program-program pemerintah. "Di Jawa Timur, total CSR yang dikucurkan sekitar Rp 19 miliar," tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengungkapkan bahwa saat ini jumlah nasabah untuk kredit memang terus dipacu. "Saya ya bangga-bangga gimana, karena ternyata masyarakat Batu tidak rajin menghutang. Mungkin itu persepsi atau kehati-hatian masyarakat," ujarnya.

Nanti, lanjutnya, Pemkot Batu juga akan melakukan sosialisasi. Terutama untuk memupus ketakutan masyarakat memanfaatkan kredit. "Bahwa fasilitas bank itu tidak memberatkan tetapi menambah kesempatan pengusaha lebih bisa mengembangkan usahanya. Nanti akan ikut membantu agar masyarakat Kota Batu tidak takut hutang. Bukan mengajari untuk hutang, tapi hutang produktif," tuturnya. 

Salah satu faktor yang membuat angka kredit masyarakat rendah, menurut Dewanti adalah karena banyak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang belum memiliki feasibilitas atau kelayakan perbankan. "Kalau UMKM, mereka jarang sekali bankable (feasible). Makanya saat ini pemkot merumuskan secara teknis agar pemerintah bisa menjadi jaminan kredit," sebutnya. 

Selain itu, juga untuk menanamkan pemahaman, pelatihan, hingga pendampingan UMKM. "Karena selama ini mungkin jarang berhubungan dengan bank. Pembukuannya belum punya, belum bisa, nanti dibina dulu baru kemudian terakses ke bank," pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Jatim menyerahkan CSR berupa dana pengembangan dan pembangunan taman interior jalan di Kota Batu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.