MALANGTIMES - Banyak orang yang menganggap keris adalah produk budaya yang jauh dari agama Islam. Sebagian besar bahkan menganggapnya klenik. Padahal, besi, yang merupakan bahan baku keris, diturunkan Allah dari langit, bukan diciptakan. Nabi Daud AS juga diberikan mukjizat untuk mengolah dan melembutkan besi tanpa dibakar seperti tukang besi pada umumnya.
Pemanfaatan teknologi besi tersebut adalah pesan besar dari risalah Islam. Hal ini disampaikan oleh Pemerhati Budaya, Pengasuh Majelis Jejak Nabi Masjid Jogokaryan DIY, dan Pendiri Omah Dakwah Pro-U Media Ustad Salim A. Fillah tadi siang (15/10) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) Malang dalam Seminar Nasional Keris Nusantara.
Baca Juga : Begundal Lowokwaru : Underground Malang Diperhitungkan di Tingkat Nasional
“Allah berkata, ‘Kami turunkan besi ini’. Menurut para pakar sangat menarik. Allah tidak mengatakan Kami ciptakan besi tapi Allah berkata Kami turunkan besi. Konon, besi ini bukan material asli bumi tapi memang turun dari langit melalui meteorit-meteorit yang jatuh ke bumi ini pada masa yang sangat lama,” terangnya.
Lebih lanjut, Salim menyatakan Islam sangat tidak asing dengan besi. Islam adalah risalah yang kemudian sangat mengakui teknologi besi. Di dalam besi terdapat manfaat yang sangat besar bagi manusia.
“Maka sebenarnya penguasaan teknologi besi adalah kunci peradaban yang kemudian hendak ditegakkan Islam. Pesan besar dari risalah Islam adalah memanfaatkan besi untuk sebesar-besarnya kemaslahatan manusia,” tandasnya.
Di Islam sendiri, terdapat satu sosok yang diberi kekuatan oleh Allah untuk mengolah besi. Sosok tersebut adalah Nabi Daud AS. “Dan Kami telah lunakkan besi bagi Daud AS untuk dibentuk menjadi produk,” ujar Salim.
Pemanfaatan besi juga dilakukan oleh Nabi Zulkarnain. Zulkarnain membuat sebuah perlindungan bagi manusia dari ancaman bahaya yang sangat mengerikan bernama Ya’juj dan Ma’juj. Dia membuat benteng yang sangat kokoh dari besi yang dilekatkan satu sama lain dengan timah cair.
Nah, wong jowo nggone semu sinamun ing samudana. Yang artinya menurut Salim yaitu, orang jawa itu tempatnya berbagai perumpamaan, berbagai macam symbol, berbagai macam pesan, dan risalah disembunyikan di dalam berbagai macam produk yang mereka hasilkan dari falsafah berpikir menjadi suatu kebudayaan. “Dan itulah yang ada pada keris,” imbuhnya.
Keris beras wutah misalnya. Pemahaman yang salah, apabila memiliki keris ini otomatis akan menjadi orang yang makmur dan kaya raya sampai berasnya tumpah-tumpah. Padahal, menurut Salim, orang Jawa menggunakan keris untuk motivator. Apabila memiliki keris beras wutah maka dijadikan motivasi untuk bekerja lebih keras agar keluarga berkecukupan.
Baca Juga : Lewat Gebyar Shalawat Nabi, UKM Al-Farabi Unikama Ajak Tauladani Rasulullah
Selanjutnya, keris diartikan sebagai senjata terakhir. Maka dari itu dia diletakkan di belakang badan. Keris bukan senjata yang membuat seseorang ingin berkelahi.
“Dia diletakkan di belakang karena orang Jawa itu memahami pesan Islam. Yakni tebarkan kedamaian, dan juga bagilah makanan, dan sambungnya silaturahim, dan salatlah di malam hari ketika manusia tidur. Tapi juga dia memahami pesan Quran, persiapan untuk menghadapi musuh yang tidak kamu ketahui, ataupun yang juga kamu kenali. Jadi ini dipasang di belakang karena kewaspadaan,” paparnya.
Kebanyakan keris orang Jawa pasti diberi nama. Hal ini juga bukan berarti tradisi kemusyrikan. Malahan justru tradisi dari Nabi Muhammad SAW.
“Kenapa orang Jawa memakai gelar untuk keris sebagai kanjeng atau kiai? Ini penghormatan. Rasulullah itu menamai semua barang-barang kesayangan Beliau. Di pusaka itu dinamai. Itu bukan tradisi kemusyrikan. Itu tradisinya Kanjeng Nabi. Pedang-pedangnya nabi itu semuanya bernama,” tegasnya.
