MALANGTIMES - Keberadaan makhluk halus Jawa ternyata lebih menarik untuk dikupas. Baik oleh masyarakat awam melalui pembicaraan ngalor ngidul di warung kopi. Maupun orang-orang berpendidikan barat melalui berbagai penelitian yang menghasilkan karya film sampai tulisan. Salah satu contohnya adalah seorang antropolog ternama dari Amerika Serikat bernama Clifford James Geertz.
Bagi Geertz, makhluk halus dari pulau Jawa sangatlah menarik untuk diteliti. Sehingga tidak hanya berhenti sekedar sebagai cerita lisan untuk menakut-nakuti bocah bandel saja. Atau mengeramatkan keberadaannya dengan berbagai kepentingan. Tapi, menguliknya untuk memahami situasi kebatinan masyarakat tersebut.
Baca Juga : Trump Ancam WHO, Tedros: Stop Politisasi Pandemi Covid-19
Maka dari ketertarikan Geertz terhadap makhluk halus yang hidup di Jawa, lahirlah sebuah buku berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Sebuah buku yang sampai saat ini jadi referensi berbagai kalangan untuk melihat masa lalu masyarakat Jawa. Dalam buku tersebut dipaparkan juga mengenai makhluk halus di Jawa yang merupakan hasil penelitian Geertz tahun 1950-an di Mojokuto, Jawa Timur (Jatim).
Geertz mengelompokkan makhluk halus di Jawa menjadi lima kategori. Yakni, pertama adalah memedi yang terdiri dari berbagai makhluk halus yang sangat popular sampai saat ini. Geertz menulis, memedi adalah makhluk halus yang kerap menjadi momok bagi masyarakat Jawa. Dapat berupa jrangkong (tengkorak), Wedon (jenazah berkain kafan), banaspati (makhluk halus yang berjalan dengan dua tangannya sambil mulutnya menyemburkan api. Kepala banaspati terletak pada tempat alat kelaminnya). Selain itu ada jims (hantu Islam), pisacis (hantu anak yang sewaktu meninggal tidak punya orang tua sehinga mencari orang yang sudah berumah tangga untuk menumpang di rumahnya).
Di kategori memedi juga ada yang dinamakan Uwil (hantu bekas laskar Bugis), setan gundul (kepala gundul tapi memiliki kuncung). Terfavorite dalam kategori ini adalah sundel bolong (punggungnya bolong, tertutupi rambutnya yang panjang) serta gendruwo.
Kedua adalah bangsanya lelembut. Geertz menuliskan, bahwa makhluk halus dalam kategori ini suka merasuki orang sehingga membuat korbannya kesurupan, sakit, gila sampai meninggal dunia. Kategori ketiga adalah tuyul yang kerap diilustrasikan sebagai makhluk halus berwujud anak kecil yang gemar mencuri harta benda dan hasilnya diperuntukkan untuk majikannya.
Keempat adalah demit. Demit menurut Geertz merupakan makhluk halus penunggu tempat-tempat keramat. Para demit kerap jadi medium bagi manusia yang ingin kaya raya atau kepentingan lainnya. Dengan syarat tumbal atau sejenisnya yang akan ditagihnya kepada manusia tersebut apabila ingkar janji. Biasanya demit akan datang dalam rupa seekor ular hitam.
Baca Juga : Disebut Tak Serius Tangani Covid-19, Pemerintah Tegas Katakan Tidak
Kategori terakhir disebutnya danyang. Danyang merupakan roh pelindung yang menetap di suatu tempat. Biasanya danyang asalnya adalah para tokoh yang membuka suatu lahan/perdikan/desa yang sudah meninggal dunia.
Kategorisasi makhluk halus Geertz tersebut merupakan bagian dari cara Geertz untuk menganalisis suasana kebatinan masyarakat Jawa di tahun 1950-an. Kini, para makhluk halus telah menjadi komoditas dalam berbagai bentuknya. Terutama dalam karya film sineas yang semakin menjelaskan wujud-wujud dari makhluk halus tersebut di layar kaca.
