Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Mengenal Apa itu People Pleaser, Istilah Populer di Tiktok

Penulis : Mutmainah J - Editor : Dede Nana

28 - Sep - 2024, 07:04

Placeholder
Ilustrasi people pleaser. (Foto Sindonews)

JATIMTIMES - Menyenangkan orang lain tidak terdengar buruk. Bahkan hal ini merupakan tindakan terpuji yang bisa mendatangkan pahala bagi diri kita. Tapi menyenangkan orang lain dengan cara yang salah dapat berdampak buruk pada diri Anda sendiri. Terlalu mementingkan perasaan orang lain dan mengenyampingkan perasaan diri adalah hal yang salah. 

Jika kamu melakukan hal tersebut bisa dikatakan bahwa kamu adalah seorang people pleaser. Istilah ini merupakan salah satu istilah yang ada dalam ilmu psikologi. Lalu apa itu people pleaser? 

Baca Juga : Graha Bangunan Blitar Tawarkan Diskon Spesial untuk Kompor Tanam dan Vacuum Cleaner

Pengertian People Pleaser

Menurut psikolog UGM, Smita Dinakaramani, menjelaskan people pleaser merupakan pelabelan informal bagi individu yang memiliki keinginan kuat untuk menyenangkan orang lain.

“People Pleaser ini basically membantu dengan motif untuk menyenangkan orang lain meski itu merugikan dirinya sendiri. Itu perbedaanya dengan orang yang benar-benar mau membantu, bisa memetakan kapasitasnya sampai mana bisa membantu atau tidak,” jelasnya, dikutip dari laman ugm.ac.id Sabtu (28/9/2024). 

Smita mengungkap bahwa terdapat beberapa ciri yang mencerminkan people pleaser. Ciri dalam diri orang dengan people pleaser adalah memprioritaskan kepentingan maupun perasaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Bahkan, jika hal tersebut merugikan dirinya sendiri tidak menjadi persoalan bagi people pleaser.

“People Pleaser akan menaruh kebutuhan diri sendiri pada urutan paling akhir. Perasaan, kebutuhan, serta opini diri tidak lebih penting dari orang lain,” katanya. 

Lebih lanjut, Smita mengatakan jika ciri lain people pleaser yakni ingin terlihat sempurna. Dengan terlihat sempurna diharapkan dapat menyenangkan semua orang. Sedangkan ciri luar, people pleaser ini memiliki keinginan kuat semua orang untuk menyukai dirinya. Ada keinginan untuk mendapatkan validasi diri yang baik dari orang lain yang sangat kuat.

Selain itu, ciri lainnya juga yaitu membiarkan dirinya untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Dan mudah atau sering meminta maaf karena penuh dengan rasa bersalah maupun takut disalahkan.

“Ciri lain saat menolak atau menetapkan batasan kemudian muncul perasaan bersalah yang sangat mendalam,” ujarnya. 

Smita menambahkan, seorang People pleaser takut akan konflik. Ada perasaan cemas, tidak nyaman, serta takut apabila tidak disetujui orang lain. Ia pun menyebut bahwa people pleaser menjadi sebuah hal yang wajar untuk memiliki keinginan agar disukai oleh orang lain.

“Ya ini bisa terjadi ke siapa saja karena pada dasarnya semua orang pengen diterima dan disukai,” kata Smita. 

Smita pun menjelaskan beberapa faktor pendorong mengapa mereka menjadi people Pleaser. Salah satunya, kepercayaan diri (self esteem) yang rendah. Ketika melihat orang lain lebih keren maka orang dengan kepercayaan diri rendah akan menganggap bahwa perasaan maupun pendapatnya bukanlah hal yang penting dibandingkan perasaan dan pendapat orang lain.

“Orang-orang dengan kepercayaan diri rendah kalau mengatakan Yes merasa jadi berguna, tetapi jika menyatakan No jadi merasa tidak berguna,”tuturnya.

Sementara faktor lainnya yaitu sikap people pleaser ditujukan untuk menghindari konflik dengan orang lain. Untuk menghindari konflik yang dilihat sebagai perbedaan menjadikan people Pleaser berusaha menyamakan pendapatnya dengan orang lain. Kemudian rasa cemas karena ingin bisa beradaptasi untuk bisa disukai orang lain. People pleaser memiliki kecemasan karena takut konflik dan ditolak.

“Semua motifnya ya agar semua suka,” ujarnya. 

Faktor budaya menurut Smita juga bisa menjadi salah satu faktor pendorong mengapa orang menjadi people pleaser. Misal suatu negara memiliki nilai-nilai untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kepentingan diri sendiri akan mempengaruhi masyarakat didalamnya untuk menurunkan nilai tersebut.

Dampak negatif dari people pleaser ini menurut Smita bisa menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Tak hanya itu, people pleaser yang berlebihan dapat berakibat sulitnya mengetahui keinginan diri sendiri (lost sense of self) karena segala yang dilakukan dan dipilihnya tergantung pada orang lain. Lalu, bisa menyebabkan perasaan tertekan karena tidak menjadi dirinya sendiri. Penampilan juga terabaikan karena acuh terhadap kepentingan diri sendiri.

Baca Juga : Siapa Monfer Salim? Tiktoker yang Dihujat Netizen Usai Ketahuan Tipu Seorang Kakek

“Sikap people pleaser juga bisa berdampak pada hubungan sosial. Saat di tempat kerja berusaha baik ke semua orang lalu sampai rumah sudah capek fisik mental kalau tidak pandai mengelola emosi akhirnya mudah marah pada anggota keluarga,” jelas Smita. 

Cara Berhenti Menjadi People Pleaser

Smita mengatakan bahwa terdapat beberapa cara agar seseorang bisa berhenti menjadi seorang people pleaser. 

1. Menanamkan pola pikir (mindset) untuk bisa menjaga diri sendiri. Mengutamakan diri sendiri tidak berarti menjadi egois karena kebahagiaan orang lain bukan menjadi tanggung jawab utamamu dan jangan menjadikannya sebagai beban.

2. Memahami bahwa kita tidak bisa membuat semua orang senang dan menyukaimu. Hal ini penting untuk dipahami agar tidak memaksakan diri secara terus menerus untuk bisa disukai oleh orang lain karena akan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental.

“Pahami tidak semua orang akan menyukai kita. Impossible bisa menyukai orang 100%, bahkan orang terdekat kita pun ada hal-hal yang tidak kita sukai,”jelasnya.

3. Membuat diri menolong orang lain. Kenali kemampuan diri, sejauh mana bantuan yang bisa diberikan.

4. Memahami berkonflik tidaklah selalu menjadi hal yang buruk. Mengutarakan pendapat yang berbeda dengan komunikasi yang sehat justru dapat meningkatkan hubungan.

5. Cobalah untuk menahan diri untuk tidak spontan menerima permintaan orang lain. Misalnya ada orang yang minta dibantu pekerjaannya atau permintaan tolong lainnya, coba untuk tidak langsung mengiyakan. Ambil waktu untuk memikirkan seberapa penting persoalnnya dan apakah kita berada dalam kapasitas bisa membantu.

6. Belajar untuk berkata tidak. Menolak hal yang tidak sesuai dengan perasaan maupun keinginan diri bukanlah berarti menjadi orang yang buruk ataupun menjatuhkan orang lain.

“Belajar pelan-pelan, coba sampaikan pendapat yang kita inginkan dahulu dan baru setelah itu menolak. Misal saat diminta untuk lembur sampai jam 9 malam, sampaikan saya keberatan kalau lembur sampai jam 9 malam karena masih harus mengurus keluarga di rumah dan tawarkan bagaimana jika lemburnya hanya sampai jam 6 saja,” ujar Smita. 


Topik

Serba Serbi people pleaser apa itu people pleaser arti people pleaser tiktok



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Dede Nana