Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Kuliner

Sejarah Soto: Dari Warisan Tionghoa hingga Kuliner Nusantara

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

19 - Sep - 2024, 08:58

Placeholder
Pedagang soto di Hindia Belanda dengan pikulan bambu, awal abad ke-20. (Sumber: KITLV/ Tropenmuseum).

JATIMTIMES - Soto adalah salah satu makanan yang begitu melekat dalam tradisi kuliner Indonesia. Hidangan berkuah yang satu ini memiliki beragam nama dan varian, tergantung dari daerah asal serta bahan utama yang digunakan. Di berbagai wilayah Nusantara, soto dikenal dengan berbagai nama seperti coto di Makassar, tauto di Pekalongan, dan sroto di Banyumas.

Namun, istilah "soto" sendiri lebih banyak dikenal secara luas dan memiliki banyak jenis berdasarkan bahan utamanya, seperti soto ayam, soto sapi, soto kerbau, soto itik (bebek), hingga soto bekicot. Selain itu, terdapat pula penamaan soto yang diikuti oleh wilayah atau kotanya, misalnya Soto Betawi, Soto Mie Bogor, Soto Semarang, Soto Kudus, Soto Lamongan, hingga Soto Madura.

Baca Juga : Bupati Malang Jadikan Labuhan Gunung Kombang Pekan Budaya Pantai Ngliyep: Sarana Tarik Wisatawan

Namun, di balik kelezatannya, soto menyimpan sejarah panjang yang melibatkan persilangan budaya, terutama antara tradisi kuliner Tionghoa dan lokal di Indonesia. Sejarah ini menunjukkan bagaimana soto menjadi bagian dari akulturasi budaya yang kemudian berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Nusantara.

Awal Mula Soto: Jejak dari Dapur Tionghoa

Sejarawan asal Prancis, Denys Lombard, dalam karyanya "Nusa Jawa: Silang Budaya - Jaringan Asia," menulis bahwa orang-orang Tionghoa memainkan peran penting dalam kelahiran soto. Kata "soto" sendiri dipercaya berasal dari bahasa Mandarin, yaitu "caudu" atau "jao to." Hidangan ini merupakan salah satu masakan khas Tionghoa yang pertama kali populer di Semarang pada abad ke-19. 

Dari kota pelabuhan tersebut, soto kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sepanjang pesisir pantai utara Jawa dan sekitarnya, berkembang menjadi hidangan yang dikenal di seluruh penjuru Indonesia.

Penelitian lebih lanjut tentang asal usul soto juga dilakukan oleh Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wardhani dalam karya mereka, "Menyantap Soto Melacak Jao To Merekonstruksi (Ulang) Jejak Hibriditas Budaya Kuliner Cina dan Jawa" (2013). 

Mereka mengungkapkan bahwa soto sebenarnya berasal dari Cina, terutama dari dialek Hokkian yang menyebut makanan ini sebagai "cau do," "jao to," atau "chau tu." Kata ini merujuk pada hidangan yang berbahan dasar jeroan dengan aneka rempah-rempah, disajikan dengan beragam variasi. Di Indonesia, soto pertama kali dikenal sebagai masakan berkuah dengan potongan daging atau jeroan, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa.

Catatan sejarah lain yang memperkuat pengaruh Tionghoa dalam hidangan soto dapat ditemukan dalam arsip Tropenmuseum di Belanda pada tahun 1919. Dalam catatan tersebut, soto digambarkan sebagai "Chinese soep" (sup Tionghoa) yang dimasak di atas anglo (kompor arang tradisional). 

Masakan ini dilengkapi dengan "rode lombok" (cabai merah), "lombok rawit" (cabai rawit), dan kecap (soja) sebagai penyedap rasa. Menariknya, soto dijajakan dengan cara unik; para pedagang biasanya duduk di atas dingklik (bangku kayu Jawa) dan menggunakan pikulan bambu untuk membawa perlengkapan dagangan mereka.

Pengaruh India dan Sentuhan Lokal

Meski awalnya dikenal sebagai hidangan Tionghoa, soto kemudian mengalami proses adaptasi dan hibridisasi dengan budaya kuliner lokal serta pengaruh dari negara lain. Salah satu pengaruh signifikan datang dari tradisi kuliner India, terutama melalui penggunaan kunyit sebagai bumbu. 

Kunyit memberikan warna kuning cerah pada kuah soto, menciptakan citarasa yang unik dan khas. Ini serupa dengan hidangan kari yang umum di India, yang juga menggunakan kunyit sebagai salah satu bumbu utamanya.

Selain kunyit, pengaruh Tionghoa tetap dominan pada bahan-bahan soto seperti mi, bihun, atau soun, serta bawang putih goreng yang menjadi pelengkap wajib. 

Tak hanya itu, penggunaan tauco dan kecap asin dalam beberapa varian soto juga menunjukkan pengaruh kuliner Tionghoa. Mangkuk sup keramik yang sering digunakan untuk menyajikan soto juga mencerminkan jejak budaya Tionghoa dalam penyajian makanan.

Baca Juga : Jamasan Kanjeng Kiai Golok, Yasendam Ungkap Sejarah Tradisi Leluhur Majan

Namun, soto kemudian menjalar ke masyarakat lokal dan berkembang sesuai dengan kreativitas dan ketersediaan bahan di berbagai daerah. Dalam perjalanannya, soto tidak lagi hanya menggunakan daging ayam atau sapi sebagai bahan utama. Beberapa daerah memperkenalkan bahan-bahan baru, seperti soto bebek dari Tegal, soto kelinci dari Lembang, soto kerbau dari Kudus, hingga soto kepiting dari Banjarmasin. 

Di Kediri, dikenal soto bekicot yang menggunakan daging bekicot sebagai bahan utama. Hal ini menunjukkan bagaimana soto mampu beradaptasi dengan berbagai kearifan lokal dan sumber daya alam setempat.

Ragam Soto Nusantara: Setiap Daerah Punya Citarasa

Keunikan soto terletak pada kemampuannya untuk menyesuaikan dengan bahan dan rempah-rempah khas setiap daerah, menciptakan variasi yang begitu kaya dalam kuliner Nusantara. Berikut ini beberapa varian soto yang terkenal di Indonesia dan karakteristiknya:

1. Soto Betawi: Berasal dari Jakarta, Soto Betawi menggunakan santan kental sebagai kuahnya, dengan potongan daging sapi, babat, paru, dan kadang-kadang jeroan lainnya. Citarasanya kaya dengan aroma rempah seperti kayu manis, kapulaga, dan pala.
2. Soto Lamongan: Soto dari Jawa Timur ini terkenal dengan kuah kuning yang gurih dan dilengkapi dengan koya (bubuk kerupuk udang yang dihancurkan). Biasanya menggunakan daging ayam sebagai bahan utamanya dan disajikan dengan tauge, telur rebus, dan potongan kol.
3. Coto Makassar: Varian soto dari Makassar ini memiliki kuah yang kental karena menggunakan kacang tanah sebagai salah satu bahannya. Coto Makassar biasanya menggunakan daging sapi dan jeroan, disajikan bersama buras (ketupat khas Sulawesi).
4. Soto Kudus: Berasal dari Kudus, Jawa Tengah, soto ini memiliki kuah bening dengan aroma kaldu ayam yang kuat. Uniknya, Soto Kudus umumnya disajikan dalam mangkuk kecil dan dilengkapi dengan tauge dan bawang putih goreng.
5. Soto Padang: Varian soto dari Sumatera Barat ini menggunakan daging sapi yang digoreng hingga garing. Kuahnya berwarna bening dengan cita rasa segar dan pedas karena menggunakan cabai serta rempah khas Minang.
6. Soto Pekalongan (Tauto): Soto ini khas dengan tambahan tauco, saus fermentasi kedelai yang memberikan rasa gurih dan sedikit asam. Kuahnya berwarna pekat dan biasanya menggunakan daging sapi atau kerbau.
7. Soto Banjar: Soto dari Kalimantan Selatan ini menggunakan rempah seperti kayu manis, pala, dan kapulaga. Kuahnya bening dan disajikan dengan ketupat atau lontong.
8. Soto Madura: Varian soto ini terkenal dengan kuah kuning yang pekat dan penggunaan daging sapi sebagai bahan utama. Soto Madura sering disajikan dengan potongan kentang goreng, telur rebus, dan jeruk nipis.

 

Soto: Representasi Keragaman Budaya Indonesia

Soto bukan sekadar makanan, tetapi juga cermin dari keragaman budaya di Indonesia. Dari sejarahnya, soto telah melewati perjalanan panjang dan mengalami berbagai adaptasi serta akulturasi budaya. Dari dapur Tionghoa hingga menyebar ke seluruh Nusantara, soto kini menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Hidangan ini mencerminkan kemampuan masyarakat Indonesia untuk menerima pengaruh asing, seperti dari Cina dan India, kemudian mengolahnya sesuai dengan cita rasa lokal. Setiap daerah memiliki varian soto dengan karakteristik dan bumbu yang khas, menjadikan soto sebagai kuliner yang kaya akan nuansa sejarah, tradisi, dan kearifan lokal.

Meski varian dan namanya berbeda-beda, soto selalu menghadirkan kehangatan dan kebersamaan, baik saat disajikan di warung sederhana di pinggir jalan maupun di restoran mewah. Inilah yang menjadikan soto sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia yang tak lekang oleh waktu.


Topik

Kuliner Soto kuliner jenis soto



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni