JATIMTIMES - Sekitar 252 juta tahun yang lalu, Bumi mengalami bencana dahsyat yang dikenal sebagai Kematian Besar, sebuah peristiwa kepunahan massal yang menghapus lebih dari 90% kehidupan di planet ini. Peristiwa ini mengakhiri periode geologi Permian dan tercatat sebagai yang paling mematikan di antara lima kepunahan besar yang pernah terjadi, jauh lebih parah dibandingkan peristiwa asteroid yang memusnahkan dinosaurus.
Teori yang paling diterima sebelumnya menyebut bahwa peristiwa vulkanik besar di wilayah yang dikenal sebagai Perangkap Siberia, yang sekarang terletak di Rusia, adalah penyebab utama dari kepunahan ini. Aktivitas vulkanik tersebut menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah besar, yang menyebabkan kenaikan suhu global, hujan asam, serta pengasaman lautan.
Baca Juga : Lahan Tebu di Tulungagung yang Dijual Pemilik, Tiba-Tiba Ludes Terbakar
Namun, sebuah studi baru yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (12/9) menunjukkan teori tambahan—peristiwa El Niño yang ekstrem mungkin turut memperparah krisis ini. Adanya temuan ini, nama El Niño menjadi trending dalam penelusuran Google, Senin (16/9).
Peran Peristiwa El Niño dalam Kematian Besar
Melansir CNN International, dikutip Senin (16/9), penelitian terbaru menunjukkan bahwa selain pemanasan global, dinamika iklim yang fluktuatif menjadi faktor kunci yang memicu Kematian Besar.
"Apa yang kami temukan adalah bahwa ini merupakan krisis kepunahan berbasis iklim. Bukan hanya soal pemanasan, tetapi juga bagaimana iklim merespons pemanasan tersebut." Ungkap Profesor Paul Wignall, ahli paleoenvironment dari Universitas Leeds dan salah satu penulis studi ini.
Menurut Wignall, perubahan iklim yang berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya menyebabkan kehidupan di Bumi tidak dapat beradaptasi. "Jika kondisinya buruk namun stabil, kehidupan mungkin bisa berevolusi untuk beradaptasi. Namun, saat kondisi terus berubah secara drastis, itulah yang menyebabkan masalah besar," tambahnya.
Para peneliti menggunakan model komputer untuk memetakan kondisi iklim global pada akhir periode Permian. Mereka menemukan bahwa seiring dengan meningkatnya suhu, peristiwa El Niño, yang biasanya berasal dari Samudra Pasifik, tumbuh semakin intens dan berkepanjangan. Fenomena ini menyebabkan siklus banjir besar dan kekeringan yang parah, yang pada gilirannya memicu kebakaran hutan serta kepunahan massal berbagai spesies.
El Niño yang Lebih Kuat dan Berkepanjangan
Di zaman modern, peristiwa El Niño berlangsung antara 9 hingga 18 bulan dan terjadi setiap 2 hingga 7 tahun. Namun, Alex Farnsworth, peneliti senior dari Universitas Bristol dan salah satu penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa pada masa Kematian Besar, El Niño berlangsung hingga 10 tahun. Samudra Panthalassic, lautan raksasa yang jauh lebih besar dari Samudra Pasifik saat ini, menyimpan lebih banyak panas, memperkuat dan memperpanjang dampak El Niño.
"Vulkanisme adalah penyebab utama, tetapi ada mekanisme umpan balik pada dinamika samudra yang memperkuat El Niño, sehingga kedua hal ini terjadi bersamaan," kata Wignall. Hal ini juga menjelaskan mengapa kepunahan terjadi lebih dahulu di daratan sebelum mencapai lautan.
Salah satu faktor yang membuat Kematian Besar begitu menghancurkan adalah dampak El Niño yang menciptakan kondisi sangat panas di daerah tropis. Panas ini kemudian menyebar ke wilayah lintang yang lebih tinggi, menghancurkan vegetasi secara masif dan mengurangi kemampuannya menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Baca Juga : Risma Berencana Bangun SMK Pertanian dan Perikanan Modern di Kabupaten Malang
"Anda kehilangan seluruh pohon besar pada saat itu. Tidak ada yang tumbuh lebih tinggi dari lutut Anda di awal Trias," ujar Wignall, merujuk pada era geologis setelah kepunahan, di mana ekosistem Bumi mulai pulih.
Merefleksikan Krisis Iklim Modern
Temuan dari kepunahan akhir Permian ini memberikan wawasan berharga tentang potensi dampak perubahan iklim saat ini. Saat ini, El Niño sudah diketahui menyebabkan fenomena seperti pemutihan terumbu karang dan kematian massal ikan. Namun, dampak jangka panjang dan lintasan kejadian El Niño dalam kondisi iklim yang semakin memanas masih belum sepenuhnya dipahami.
"Meskipun krisis akhir Permian adalah yang terbesar dalam sejarah kehidupan di Bumi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mencapai kondisi seperti itu lagi," kata Wignall. Ia menjelaskan bahwa Bumi pada masa itu sangat berbeda, dengan sebuah superbenua besar bernama Pangea dan samudra yang sangat luas, yang mungkin membuatnya lebih rentan terhadap dampak karbon dioksida yang dilepaskan oleh letusan gunung berapi.
"Planet ini benar-benar rentan pada waktu itu," tutup Wignall, menekankan bahwa meskipun sejarah memberikan pelajaran berharga, kondisi Bumi masa kini dan masa lalu tetap sangat berbeda.
Studi temuan ini memperkuat pentingnya memahami dinamika iklim masa lalu untuk menilai potensi krisis di masa depan. Dengan El Niño yang telah terbukti memicu kehancuran besar-besaran di masa lalu, penting bagi ilmuwan dan pemimpin dunia saat ini untuk mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut guna menghindari bencana serupa yang mungkin disebabkan oleh perubahan iklim modern.
