Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Metode Dakwah Sunan Kalijaga: Dari Penyamaran hingga Wayang dan Tembang

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

19 - Jul - 2024, 08:30

Placeholder
Situs Tri Tingal: Petilasan Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, dan Ki Ageng Kebo Kenongo di Dusun Centong, Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES/Istimewa)

 JATIMTIMES - Sunan Kalijaga dengan nama asli Raden Said, adalah salah satu Wali Songo yang paling dikenal dan dihormati di Jawa. Metode dakwahnya yang inovatif dan gerakan spiritualnya memberikan pengaruh besar dalam penyebaran Islam serta perkembangan budaya di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi metode dakwah dan kontribusi besar Sunan Kalijaga dalam merubah wajah budaya dan spiritualitas Jawa.

Raden Said adalah putra dari Adipati Wilatikta. Menurut Babad Demak, ia memulai dakwahnya di Cirebon, tepatnya di Desa Kalijaga, dengan misi mengislamkan penduduk di Indramayu dan Pamanukan. Setelah lama berdakwah, Raden Sahid melakukan uzlah atau penyendirian spiritual di Pulau Upih selama lebih dari tiga bulan. Uzlah ini diterima oleh Tuhan, dan Raden Said diangkat menjadi wali dengan gelar Sunan Kalijaga.

Baca Juga : Wujud Syukur, Warga Arjomulyo Gelar Bersih Dusun dan Kirab 1001 Tumpeng

Babad Cirebon menuturkan bahwa Sunan Kalijaga tinggal selama beberapa tahun di Desa Kalijaga. Pada awalnya, ia menyamar sebagai pembersih Masjid Sang Cipta Rasa. Di masjid itulah, Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati yang kemudian menikahkannya dengan adiknya, Siti Zaenab. Dari pernikahan tersebut, Sunan Kalijaga memiliki satu putra bernama Watiswara.

Istri Sunan Kalijaga, Siti Zaenab, menurut penganut Tarekat Akmaliyah yang ditulis oleh Agus Sunyoto dalam "Suluk Malang Sungsang Abdul Jalil" (2004-2005), sebenarnya adalah putri dari Syaikh Datuk Abdul Jalil yang lebih dikenal sebagai Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Siti Jenar.

Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon, termasuk Masjid Sang Cipta Rasa, menjadi saksi bisu dari perjalanan spiritual dan dakwahnya. Masjid ini adalah tempat di mana Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dan bertemu dengan tokoh-tokoh Wali Songo lainnya. Gerakan dakwah Sunan Kalijaga yang penuh dedikasi ini memberikan dampak besar dalam perkembangan Islam di Jawa.

Metode Dakwah

Sunan Kalijaga dikenal suka menyamar dan sering menampilkan kelemahan diri untuk menyembunyikan kelebihan yang dimilikinya. Bahkan, tak jarang Sunan Kalijaga sengaja menunjukkan tindakan yang seolah maksiat untuk menyembunyikan ketakwaannya yang tinggi. Hal ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa dia adalah seorang wali yang memiliki ketakwaan luar biasa.

Dalam menjalankan dakwah, Sunan Kalijaga sering mengenalkan Islam kepada penduduk lewat pertunjukan wayang yang sangat digemari oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan agama lama. Dengan kemampuannya yang menakjubkan sebagai dalang, Sunan Kalijaga dikenal penduduk di berbagai daerah Jawa bagian barat dengan berbagai nama samaran. 

Di daerah Pajajaran, ia dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti; di daerah Tegal, ia dikenal sebagai dalang barongan dengan nama Ki Dalang Bengkok; di Purbalingga, ia dikenal sebagai dalang topeng dengan nama Ki Dalang Kumendung; sedangkan di Majapahit, ia dikenal sebagai dalang dengan nama Ki Unehan.

Kegiatan dakwah Sunan Kalijaga yang memanfaatkan pertunjukan tari topeng, barongan, dan wayang dilakukan dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini digambarkan dalam Babad Cerbon dalam langgam Kinanthi: "Dadi dalang kekembung, anama Ki Seda Brangt, apahe yen ababarang, ika kalimah kakalih, singa gelemn ngucapena, ya dadi tanggane nyuling."

Sunan Kalijaga sangat terkenal karena kemampuannya yang mendalam dalam memaparkan ajaran tasawuf melalui lakon Dewa Ruci. Kualitas spiritual dan filosofis dalam pertunjukan wayangnya membuatnya sangat masyhur dan dicintai oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga juga melakukan reformasi bentuk wayang. Sebelumnya, wayang berbentuk gambar manusia, tetapi oleh Sunan Kalijaga, bentuk ini diubah menjadi gambar dekoratif dengan proporsi tubuh yang tidak mirip manusia.

Selain itu, ia juga memperkenalkan tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Bilung, yang kesaktiannya melebihi para dewa. Tokoh-tokoh punakawan ini tidak dikenal dalam kisah asli Ramayana dan Mahabharata, tetapi diperkenalkan dalam lakon wayang carangan seperti Dewa Ruci, Semar Barang Jantur, Petruk Dadi Ratu, Mustakaweni, Dewa Srani, Pandu Bergola, dan Wisanggeni, yang diketahui diciptakan oleh Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga.

Peranan besar Sunan Kalijaga dalam mereformasi wayang tidak hanya terbatas pada bentuk dan tokoh-tokohnya. Ia juga mengembangkan perangkat gamelan pengiring, tembang-tembang, dan suluknya sampai menjadi bentuk yang lebih canggih seperti yang dikenal saat ini. Kontribusi Sunan Kalijaga dalam pengembangan wayang dan kesenian Nusantara merupakan sumbangan besar bagi kebudayaan Indonesia.

Menurut Primbon milik K.H.R. Mohammad Adnan, Sunan Kalijaga, seperti Sunan Bonang, juga menyempurnakan ricikan gamelan dan menggubah irama gending. Sunan Kalijaga menciptakan lagu sekar ageng dan sekar alit serta menyempurnakan irama gending-gending sebagaimana yang sudah dikerjakan oleh Sunan Bonang. Di antara tembang-tembang gubahan Sunan Kalijaga yang terkenal dan banyak dihafal oleh masyarakat Jawa adalah "Kidung Rumeksa ing Wengi".

Baca Juga : Rekomendasi 9 Makanan untuk Tingkatkan Imun Cegah Mudah Sakit Saat Cuaca Ekstrem

Lir-ilir lir-ilir tandhure wis sumilir, sing ijo royo-royo. Begitu tembang "Lir-Ilir" mengalun dari mulut Sunan Kalijaga, tokoh yang dikenal sebagai salah satu Wali Songo dengan cakupan dakwah yang luas dan pengaruh yang mendalam di masyarakat. Selain berperan sebagai dalang dalam pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga juga menggubah tembang-tembang spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual Jawa.

Warisan Spiritual dan Budaya

Dalam sejarah, Sunan Kalijaga tidak hanya mengajar ajaran Islam secara langsung, tetapi juga mengembangkan seni dan budaya dengan menjadi penggubah tembang, pemandu dongeng, desainer pakaian, dan bahkan penasihat bagi penguasa saat itu. Ia juga terkenal sebagai guru dalam tarekat Syathariyah dari Sunan Bonang dan tarekat Akmaliyah dari Syaikh Siti Jenar, yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini di berbagai penjuru Nusantara.

Pengajaran Sunan Kalijaga tidak hanya terbatas pada pengetahuan eksoteris, tetapi juga meliputi pelajaran esoteris yang disampaikan melalui kisah-kisah simbolik dalam pertunjukan wayang. Contohnya, dalam lakon Dewa Ruci, Sunan Kalijaga menggambarkan secara dialogis dan monologis bagaimana tokoh Bima menemukan dimensi-dimensi alam ruhani yang luar biasa, memberikan paparan makna secara mendalam tentang pengalaman rohani yang mempesona.

Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai inovator dalam pengembangan alat-alat pertanian dan peralatan lainnya, yang memberikan kontribusi besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Melalui segala perannya, Sunan Kalijaga tidak hanya merubah wajah seni pertunjukan dan budaya Jawa, tetapi juga meninggalkan warisan spiritual yang menginspirasi dan memperkaya kehidupan masyarakat Nusantara.

Pengalaman ruhani yang disampaikan secara terbuka dalam pergelaran wayang juga diberikan secara tertutup oleh Sunan Kalijaga kepada murid-muridnya. Meskipun cerita yang disampaikan mungkin serupa, dalam penyampaian tertutup ini, para murid diberi pemahaman bahwa tokoh ruhani Dewa Ruci sebenarnya adalah Khidhir, yang akan dijumpai dalam perjalanan ruhani mereka sendiri, seperti yang diungkapkan dalam naskah Suluk Linglung Pupuh IV Dhandhanggula.

Dalam bagian pupuh ini, Syaikh Malaya menjelaskan bagaimana Nabi Khidhir mengatasi keraguan untuk memasuki tubuh Sang Nabi, yang merupakan simbol alam semesta yang luas, tak terbatas (bahrul wujûd). Melalui pengalaman ini, Syaikh Malaya dan Nabi Khidhir menyaksikan keajaiban alam ruhani yang tidak terbatas, tanpa batas yang jelas, yang membuat mereka merasa kehilangan arah, namun juga menghadirkan keajaiban spiritual yang mendalam.

Sunan Kalijaga tidak hanya menggunakan wayang sebagai media dakwah, tetapi juga menggunakan penyampaian esoteris seperti ini untuk memberikan pelajaran dalam tarekat kepada para muridnya. Melalui peran gandanya sebagai dalang, guru spiritual, dan inovator budaya, Sunan Kalijaga meninggalkan warisan yang luas dalam pengembangan seni pertunjukan, budaya, dan spiritualitas di Nusantara. 

Warisannya yang meliputi tembang, wayang, dan berbagai inovasi lainnya terus dikenang dan dihormati hingga saat ini, menjadi bagian integral dari identitas budaya Jawa. Kebijaksanaan dan pendekatan kreatifnya dalam berdakwah tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga memperkaya khazanah budaya Indonesia, menjadikan Sunan Kalijaga sebagai salah satu figur sentral dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa.


Topik

Serba Serbi sunan kalijaga dakwah sunan kalijaga kisah sunan kalijaga



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana